join venture 1

Observasi Gaya berjilbab (hijab style)



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
            Dalam kehidupan, setiap masyarakat pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan tersebut dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun perubahan yang berkaitan dengan kebudayaan. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, perubahannya pun dapat menuju ke arah yang positif maupun menuju arah yang negatif. Tentunya perubahan sosial yang terjadi mempunyai berbagai dampak bagi diri setiap individu tersebut. Perubahan sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, atau kebudayaan. Masyarakat dan budaya memiliki keterkaitan yang kuat, karena tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa budaya. Perubahan sosial budaya dalam masyarakat terjadi karena setiap masyarakat memang menginginkan adanya sebuah perkembangan dalam hidupnya, agar kehidupannya tidak konstan atau tetap pada satu titik saja.
            Perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat memberi dampak besar maupun kecil pada sebuah sistem sosial. Dalam beberapa kasus perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat terjadi tanpa mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan atau sistem sosial, misalnya model gaya berjilbab atau hijab style. Seperti yang diketahui masyarakat awam bahwa jilbab identik dengan muslimah, namun ternyata jilbab bukan hanya ada dalam dunia Islam saja,dalam beberapa agama dan dalam tradisi di beberapa bagian dunia jilbab sudah dikenal sejak dahulu. Dalam perkembangan jaman gaya jilbab khususnya dalam dunia Islam selalu mengalami perkembangan, gaya jilbab saat ini telah menjadi sebuah trend fashion yang tidak dapat lepas dalam kehidupan para pemakai jilbab. Namun hijab atau jilbab yang telah menjadi sebuah trend baru dalam fashion ini menyebabkan beberapa sisi pro dan kontra diantara pemakai jilbab khususnya juga di kalangan mahasiswa. Salah satu penyebab pro dan kontra berjilbab ini adalah gaya berjilbab jaman sekarang yang dinilai sudah mulai melenceng dari ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam. Perkembangan gaya jilbab yang dulu berkiblat pada dunia Timur, saat ini lebih berkiblat pada dunia Barat ditambah lagi adanya pemikiran trend jilbab oleh seorang designer dari Barat yaitu Hana Tajima Simpson. Bahkan model jilbab masa kini juga dipandang telah mulai melunturkan syariat-syariat Islam ditambah lagi adanya beberapa model jilbab masa kini yang menyerupai kerudung atau jilbab para suster atau biarawati dalam agama Kristen. Jadi hal ini yang menyebabkan peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang perkembangan gaya berjilbab saat ini.

2.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah jilbab dari berbagai negara dan agama ?
2.      Bagaimana jilbab menjadi sebuah trend saat ini ?

3.      Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui sejarah jilbab dari berbagai negara dan agama.
2.      Mengetahui penyebab trend jilbab saat ini.
           


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

                Banyak faktor yang menyebabkan seorang individu dalam mentaati serentetan aturan yang ada dalam agama mereka. Misalnya dalam penelitian ini yang menemukan adanya faktor intern dalam diri seorang muslimah untuk memakai jilbab sesuai dengan syariat Islam. Hal ini disebabkan oleh adanya emosi keagamaan atau religious emotion (Koentjaraningrat,1980) , yaitu suatu getaran jiwa yang pada suatu ketika pernah menghinggapi seorang manusia dalam jangka waktu hidupnya. Emosi keagamaan itulah yang mendorong individu berlaku serba religi. Seiring berkembangnya pola pikir dan peradaban manusia menyebabkan pula perubahan-perubahan dalam gaya berjilbab saat ini sehingga menciptakan suatu trend dalam dunia fashion. Menurut William F.Ougburn bahwa ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial. Jilbab inilah merupakan salah satu hasil dari budaya manusia yang berupa material.(Soekanto, 1982: 262)  
            Gaya jilbab ini khusunya pada kalangan Mahasiswi sangat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun perubahan yang terjadi dalam dunia fashion menyangkut perubahan gaya berjilbab ini merupakan perubahan kecil. Perubahan kecil merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atu berarti bagi masyarakat.(Soekanto, 1982: 271). Perubahan dalam gaya jilbab ini dikarenakan   adanya pengaruh modernisasi dari dalam maupun luar negeri. Modernisasi merupakan sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang kearah yang lebih baik dengan harapan akan mencapai kehidupan masyarakat yang lebih maju.




BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang digunakan di dalam melakukan observasi di lingkungan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (Fakultas Ilmu Sosial)  sebagai berikut :
·         Metode Observasi
            Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
·         Metode Wawancara ( Interview )
            Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap narasumber atau sumber data. Teknik wawancara yang digunakan peneliti dengan tekhnik wawancara semi terbuka, dengan menggunakan pedoman berupa format laporan dan tambahan dari peneliti sendiri.
·         Metode Dokumentasi
            Metode dokumentasi dapat diartikan sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, arsip, foto dan lain sebagainya. Tekhnik dokumentasi yang digunakan peneliti adalah dokumentasi primer dan sekunder. Primer berupa dokumentasi pengambilan foto secara langsung oleh peneliti. Sekunder berupa pengambilan beberapa informasi dari media internet.
ü  Lokasi Observasi
                Observasi yang peneliti lakukan ini berfokus di lingkungan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (Fakultas Ilmu Sosial).
ü  Waktu melakukan observasi
a.      Wawancara 1
Hari          : Jumat
Tanggal    :22 Maret 2013
b.      Wawancara 2
Hari          : Rabu
Tanggal    :27 Maret 2013
c.       Wawancara 3
Hari          : Kamis
Tanggal    :28 Maret 2013

 

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Sejarah Jilbab dari Berbagai Negara dan Agama
                Istilah jilbab di Indonesia pada awalnya dikenal sebagai kain atau selendang untuk menutupi kepala (rambut) wanita. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, dan hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Terlepas dari istilah yang digunakan, sebenarnya konsep hijâb bukanlah “milik” Islam. Misalnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani (Kristen dan Katolik) juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat. 
            Menurut Eipstein, seperti dikutip Nasaruddin Umar dalam tulisannya,
 hijâb sudah dikenal sebelum adanya agama-agama Samawi (Yahudi dan Nasrani atau Kristen dan katolik). Bahkan Nasaruddin Umar menyebutkan bahwa pakaian yang menutupi kepala dan tubuh wanita itu sudah menjadi wacana dalam beberapa diskusi pada masa itu. Ketentuan penggunaan jilbab bahkan sudah dikenal di beberapa kota tua seperti MesopotamiaBabilonia, dan Asyiria. 
            Memakai jilbab bagi wanita muslim (beragama Islam) merupakan sebuah kewajiban yang perintahnya telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Terlepas dari adanya kewajiban memakai jilbab bagi wanita Islam, sejarah mencatat bahwa jilbab sendiri merupakan bagian dari pakaian kebesaran sebagian besar agama, terutama agama-agama besar di dunia. Pakaian penutup kepala yang seringkali digabung dengan pakaian panjang (semacam toga) yang menutupi hampir seluruh tubuh itu bahkan tidak hanya dipakai oleh wanita, melainkan juga dipakai oleh guru-guru (pendeta) agama. Sehingga sebenarnya jilbab merupakan bagian dari tradisi dan identitas untuk hampir semua agama di dunia ini.
            Jilbab atau penutup kepala dan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh wanita, diakui atau tidak adalah bagian dari tradisi dan ajaran agama-agama. Jilbab merupakan identitas tentang sebuah kebaikan, kesopanan dan ketaatan.

#Jilbab dalam dunia ISLAM (para Muslimah)
                                            G01 :Wanita Islam berjilbab
            Dalam dunia Islam memakai jilbab merupakan salah satu perintah Allah yang dikhususkan kepada para muslimah (wanita-wanita muslim). Memakai jilbab tidak hanya untuk menutup aurat saja, namun juga sebagai identitas muslimah sejati. Jilbab merupakan suatu cara agar wanita muslim terhidar dari berbagai godaan duniawi. Perintah memakai jilbab terkandung dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 33, surat Al-Ahzab ayat 59, dan  Al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 26.
            “...Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita....” (Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 31)
            Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59)
            “Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”(Al-Qur’an surat Al A’raaf ayat  26)
                                       
 #dalam KRISTEN (suster & biarawati) 
G02 :Suster dan Biarawati yang memakai jilbab
            Pakaian semacam jilbab juga dikenal dalam Kristen dan Katolik. Dalam Kristen dan Katolik, pakaian semacam jilbab ini selalu digunakan oleh para Biarawati dan para Suster di Gereja.
#BUNDA MARIA (Ibunda Yesus Kristus)

G03 : Bunda Maria memakai jilbab
            Pakaian semacam jilbab juga dipakai oleh Bunda Maria (Ibunda Yesus Kristus), memakai jilbab sebagai penutup kepala juga diperintahkan di dalam Al-Kitab Bible, yaitu sebagai berikut :
1.      Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau berbuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.
11:10. Sebab itu, PEREMPUAN HARUS MEMAKAI TANDA WIBAWA DI KEPALANYA oleh karena para malaikat.
11:13 Pertimbangkanlah sendiri: PATUTKAH PEREMPUAN BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN KEPALA TIDAK BERTUDUNG?

#BUNDA TERESA

                                      G04 : Bunda Teresa memakai jilbab
            Bunda Theresa (Agnes Gonxha), salah satu tokoh panutan umat Kristen dan Katolik selalu memakai jilbab dalam hidupnya. Jilbab dengan nuansa putih dan sentuhan garis biru sang Bunda telah menjadi bagian dari keramahan dan kepeduliannya terhadap sesama.

#dalam YAHUDI 
            Rabbi Rachel, salah satu Rabbi yang sangat dihormati oleh umat Yahudi juga selalu menggunakan penutup kepala dan longdress dalam kesehariannya, terutama pada saat memimpin prosesi keagamaan.
G05 :Rabbi Rachel memakai jilbab

#dalam BUDHA 
G06 :Dewi Kwan Im memakai jilbab
            Dalam agama Budha kita mengenal Dewi Kwan Im (Avalokitesvara Bodhisattva), yang dikenal sebagai Buddha dengan 20 ajaran welas asih, juga digambarkan memakai pakaian suci yang panjang menutup seluruh tubuh dengan kerudung berwarna putih menutup kepala.

#dalam HINDHU
G07 :Orang-orang Hindhu memakai jilbab
            Hal yang sama juga dilakukan dalam tradisi orang-orang India yang sebagian besar penganut ajaran Hindu. Pakaian yang panjang sampai menyentuh mata kaki dengan kerudung menutupi kepala adalah pakaian khas yang dipakai sehari-hari.

#orang-orang Eropa dan Amerika sejak abad pertengahan
 
G08 : Kaum Borjuis Eropa memakai jilbab
            Demikian juga pakaian orang-orang Eropa dan Amerika sejak abad pertengahan. Pakaian panjang yang anggun dengan penutup kepala yang khas itu tidak hanya dipakai oleh kerabat kerajaan dan kaum borjuis, namun juga dipakai oleh rakyat kebanyakan. Bahkan style fashion era ini telah menginspirasi para perancang busana saat ini untuk dipakai pada acara-acara agung seperti pernikahan.
#Tradisi Jepang masa lalu
 

G09 :Tradisi orang Jepang masa lalu memakai jilbab
            Dalam tradisi masyarakat Jepang juga dikenal tradisi memakai pakaian semacam jilbab. Faktanya sejak dahulu sampai saat ini jilbab tidak hanya menjadi bagian dari dinamika peradaban, namun telah menjadi simbol kebaikan dan ketaatan terhadap sebuah keyakinan.
            Hampir semua agama menggunakan dan menghormati jilbab sebagai simbol pakaian yang agung, meski tidak semua menetapkannya sebagai kewajiban. Dari perspektif tradisi (culture) bersama inilah jilbab tidak menjadi penghalang kebersamaan, namun jilbab dapat menjadi pemersatu dalam keragaman agama dan budaya. Jilbab semestinya dimaknai sebagai keagungan berbudaya dan bukan sebaliknya. Bagaimanapun jilbab terbukti merupakan identitas dan milik semua agama, sehingga tidak benar jika jilbab hanya dikaitkan dengan salah satu agama dan diidentikkan dengan keterbelakangan budaya (eksklusifisme).
2.      Trend Jilbab Saat Ini
            Dalam agama Islam, memakai jilbab merupakan sebuah ibadah yang khusus diperintahkan oleh Allah SWT untuk para muslimah melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an. Jilbab bukan hanya sebagai penutup auerat wanita saja, jilbab juga merupakan sebuah identitas bagi muslimah. Memakai jilbab juga merupakan kesadaran bagi wanita muslim yang benar-benar siap menjaga jilbabnya. Khususnya dalam kalangan Mahasiswi, mereka memiliki beberapa alasan untuk memakai jilbab.
            Alasan umum yang mendasari seorang Mahasiswi untuk memakai jilbab adalah setelah mereka mengerti dengan benar-benar tentang perintah untuk berjilbab yang terkandung dalam Al-Qur’an kemudian mereka memantapkan hati untuk benar-benar menutup aurat di tubuhnya. Dalam Islam sendiri ada beberapa aturan dalam pemakaian jilbab yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu berjilbab dengan menutup dada dan seluruh bagian tubuhnya sehingga tidak menampakkan lekuk tubuhnya.
            Pemakai jilbab khususnya di dalam kampus sendiri telah menjamur, maka tidak sulit untuk kita menjumpai pemandangan Mahasiswi muslim berjilbab yang berjalan sambil bercengkrama ataupun duduk-duduk di taman. Lingkungan pemakai jilbab yang mulai menjamur di kalangan Mahasiswi tekadang dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri, minder, atau malu pada diri Mahasiswi muslim yang belum berjilbab. Oleh karena itu, rasa tidak percaya diri, minder, atau malu ini merupakan sebuaha dorongan yang menjadikan sebuah motivasi untuk Mahasiswi muslim yang belum berjilbab kemudian dengan perlahan mulai belajar untuk menutup aurat mereka dengan jilbab. Dalam diri seorang Mahasiswi muslim akan timbul perasaan yang aneh dalam diri mereka ketika lingkungannya (lingkungan teman main, teman kumpul, atau di dalam kelas) yang kebanyakan memakai jilbab, mereka akan merasa terintimidasi karena mereka merasa berbeda. Meskipun mungkin sebenarnya perasaan-perasaan yang timbul hanyalah halusinasi yang timbul dalam otak mereka saja, mereka mengaku bahwa mereka merasa “berbeda” dalam lingkungan yang sama yaitu lingkungan sesama wanita muslim. Seperti pengakuan yang dilontarkan oleh seorang Mahasiswi jurusan Pendidikan Sosiologi semester 3, Tissia Maharani. Dia mengakui bahwa hal utama yang mendorongnya untuk memakai jilbab adalah rasa malu yang timbul karena sebagian besar teman sekelasnya memakai jilbab.
            Dengan memakai jilbab seorang wanita muslim akan memiliki identitas yang mendasar sebagai wanita muslim. Jilbab juga menjadi sebuah media untuk menambah kepercayaan diri para hijaber (pemakai jilbab). Gaya berjilbab saat ini yang mulai menjadi trend center akan lebih memperindah dan mempercantik para pemakai jilbab. Untuk beberapa orang, mereka berpendapat bahwa memakai jilbab tidak hanya mengikuti hukum syar’i saja namun juga untuk menambah rasa nyaman dan akan terlihat cantik bila berjilbab. Hal yang sama seperti pemaparan Mahasiswi Pendidikan Sosiologi semester 3 Tiara Kusuma. L dan Sri Handayani Mahasiswi PKNH, mereka merasa lebih cantik dan percaya diri bila memakai jilbab ketika melakukan aktivitasnya, seperti ketika pergi ke kampus maupun ketika hang out dengan teman-temannya.   
            Pemakaian jilbab dalam kalangan Mahasiswi sendiri terdiri dari dua pandangan, yaitu gaya jilbab yang biasa saja (lebih simple) dan gaya jilbab yang lebih mengikuti trend masa kini (lebih fashionable). Sebagian mahasiswi memilih untuk memakai jilbab dengan gaya jilbab yang biasa saat ke kampus. Anggraini Lufi Hakim, seorang mahasiswi semester 2 jurusan Pendidikan Sejarah memaparkan alasannya memakai jilbab dengan gaya yang biasa saat ke kampus adalah karena gaya ini lebih simple dan tidak terlalu ribet, jadi untuk memakainya dia tidak memerlukan waktu yang lama. Apalagi problem anak kos yang sering bangun kesiangan tidak menjadi masalah yang berat untuk Mahasiswi berjilbab karena dia hanya membutuhkan beberapa menit untuk mengenakan jilbabnya.
            Sebagian Mahasiswi yang sangat memperhatikan penampilan, mereka memilih untuk selalu update dengan gaya-gaya jilbab masa kini yang terlihat lebih fashionable dan lebih memperlihatkan sisi teenager dalam penampilan Mahasiswi ini sehingga terkesan tidak terlihat seperti ibu-ibu. Tidak dipungkiri bahwa gaya Jilbab saat ini merupakan fenomena tersendiri dalam dunia fashion, gaya jilbab jaman dahulu yang hanya sekedar berupa kain dan menutup bagian aurat wanita merupakan gaya jilbab yang kuno atau tidak menarik, khususnya untuk para remaja yang memasuki masa peralihan yang sedang menempuh studi di dunia perkuliahan.
            Seperti pilihan gaya berjilbab yang sering dikenakan oleh Tiara Kusuma. L Mahasiswi Pendidikan Sosioogi semester 3 dan Hida Mujahida Basori Mahasisiwi Pendidikan IPS semester 2, mereka memilih memakai gaya jilbab yang lebih masa kini (fashionable). Gaya jilbab masa kini lebih terlihat modern dan menonjolkan sisi teenager dari para remaja ini. Apapun jenis kerudungnya dari kerudung paris, selendang, pashmina kaos, semua bisa dikreasikan. Ditambah dengan sedikit aksesoris membuat pemakai jilbab tampil lebih unik dan cantik.
            Gaya jilbab masa kini terlihat lebih modern karena adanya percampuran dari budaya Barat, seperti gaya-gaya jilbab yang dipelopori oleh designer dunia Hana Tajima Simpson. Dia telah mengubah gaya jilbab yang mulanya berkiblat pada dunia Timur, sekarang sedikit demi sedikit mulai bergeser ke arah fashion dunia Barat. Perlahan tapi pasti trend jilbab di Indonesia sendiri mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Meskipun Indonesia merupakan negara yang mengakui 6 agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha, dan Konghuchu namun perkembangan trend jilbab di Indonesia sangat dihargai oleh berbagai lapisan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari toleransi beragama yang dianut oleh masyarakat Indonesia.
            Salah satu pelopor yang paling berpengaruh dalam trend jilbab di dunia adalah Hana Tajima Simpson. Sebagai seorang mualaf, desaigner busana muslimah ini menciptakan berbagai macam gaya jilbab yang mampu menjadi trend khususnya di kalangan para pemakai jilbab di Indonesia, bahkan di dunia.  Penampilan yang dia tampilkan melalui gaya-gaya jilbabnya terlihat cukup unik, menarik dan kasual. Bahkan boleh dikata, tidak mengikuti trend yang ada saat ini melainkan menciptakan trend. Ia berusaha menciptakan jilbab itu bisa dikenakan dimanapun dan kapanpun.
G10 :Hana Tajima Simpson saat mengenakan model jilbab yang ia design
                                                                                     
            Banyak perubahan dalam trend berjilbab saat ini yang akhirnya menyebabkan pro dan kontra. Jilbab saat ini mengajarkan pada generasi muda bahwa berjilbab tidak selalu tampak kuno dan kampungan. Trend jilbab inilah yang membantu kaum gadis untuk mengubah pola pikir mereka. Dengan gaya jilbab saat ini terlihat lebih trendy dan eye cathing (enak dipandang). Meskipun di sisi lain terdapat pihak yang kontra dalam munculnya trend jilbab saat ini yang lebih modis. Diantaranya adalah gaya jilbab yang terkesan kurang sesuai syariat Islam, sehingga terdapat golongan yang mengecam pada gaya jilbab saat ini. Gaya berjilbab jaman sekarang yang dinilai sudah mulai melenceng dari ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam. Perkembangan gaya jilbab yang dulu berkiblat pada dunia Timur, saat ini lebih berkiblat pada dunia Barat ditambah lagi adanya pemikiran trend jilbab oleh seorang designer dari Barat yaitu Hana Tajima Simpson. Bahkan model jilbab masa kini juga dipandang telah mulai melunturkan syariat-syariat Islam ditambah lagi adanya beberapa model jilbab masa kini yang menyerupai kerudung atau jilbab para suster atau biarawati dalam agama Kristen.
            Membicarakan tentang pakaian wanita muslimah yang ideal dan memenuhi seluruh persyaratan, maka sebagaimana yang disepakati oleh para ulama bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan.
            Artinya, keseluruh tubuh itu wajib ditutup dengan pakaian kecuali bagian muka dan tapak tangan saja. Sedangkan model pakaian, warna, motif, corak atau stylenya diserahkan kepada masing-masing budaya dan kebiasaan.
            Ada beberapa syarat standar busana muslimah yaitu:
* Tidak tembus pandang
* Tidak ketat hingga membentuk lekuk tubuh
* Tidak menyerupai pakaian laki-laki
* Benar-benar menutup dan tidak ada yang dibuka atau dibelah sedemikian rupa sehingga bisa memperlihatkan aurat
            Hal di atas merupakan standar ideal busana muslimah yang bila semua itu terpenuhi, maka sudah cukup. Sehingga dalam hal ini ketentuan berjilbab berdasarkan syariat Islam tetap dapat dijalankan.


BAB V
SIMPULAN
                Istilah jilbab di Indonesia pada awalnya dikenal sebagai kain atau selendang untuk menutupi kepala (rambut) wanita. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, dan hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Terlepas dari istilah yang digunakan, sebenarnya konsep hijâb bukanlah “milik” Islam. Misalnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani (Kristen dan Katolik) juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat. 
            Jilbab atau penutup kepala dan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh wanita, diakui atau tidak adalah bagian dari tradisi dan ajaran agama-agama. Jilbab merupakan identitas tentang sebuah kebaikan, kesopanan dan ketaatan. Jilbab tidak hanya dikenal dalam satu agama maupun satu tradisi saja, namun telah menjadi bagian dari beberapa agama maupun tradisi yaitu : Jilbab dalam agama Islam (para muslimah), jilbab yang dikenakan oleh suster atau biarawati dalam agama Kristen, Bunda Teresa,
Bunda Maria (Ibunda Yesus Kristus), Yahudi (Rabbi Rachel), Dewi Kwan Im, dan tradisi memakai jilbab dalam masyarakat Jepang.
            Pemakai jilbab tidak secara serta merta memakai jilbab dengan tanpa alsan, para muslimah ini khususnya dalam kalangan Mahasiswi mereka memiliki berbagai alasan sebagai faktor pendorong untuk berjilbab sesuai ajaran agama Islam. Perkembangan jilbab di Indonesia khususnya di kalangan Mahasiswi juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tidak jarang Mahasiswi muslim yang memilih memakai jilbab sesuai model yang lebih masa kini, sehingga tidak terkesan kuno. Banyak perubahan dalam trend berjilbab saat ini yang akhirnya menyebabkan pro dan kontra. Jilbab saat ini mengajarkan pada generasi muda bahwa berjilbab tidak selalu tampak kuno dan kampungan. Trend jilbab inilah yang membantu kaum gadis untuk mengubah pola pikir mereka. Dengan gaya jilbab saat ini terlihat lebih trendy dan eye cathing (enak dipandang). Meskipun di sisi lain terdapat pihak yang kontra dalam munculnya trend jilbab saat ini yang lebih modis. Diantaranya adalah gaya jilbab yang terkesan kurang sesuai syariat Islam, sehingga terdapat golongan yang mengecam pada gaya jilbab saat ini. Gaya berjilbab jaman sekarang yang dinilai sudah mulai melenceng dari ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an

Soekanto, Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada:   Jakarta.

Koentjaraningrat.1980. Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat:                          Jakarta.


Kusuma, Intan. 2010. “Cara Berjilbab Menurut Syariat             Islam.http://intankusumasblog.blogspot.com/2010/02/cara-berjilbab-           menurut-syariat-islam.html. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013.


2010. Sejarah Jilbab dari Berbagai Negara dan Tradisi.         http://7wolu.blogspot.com/2010/12/sejarah-jilbab-dari-berbagai-negara-        dan.html. Diakses pada tanggal 1 April 2013.


“Modernisasi”. id.wikipedia.org/wiki/modernisasi. Diakses pada tanggal 1 April     2013.
                   

SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel