Contoh Penelitian Sederhana, Materi Sosiologi: Metode Penelitian Sosial (Problematika Proses Pembelajaran di Sekolah-Sekolah di Perkotaan)
Thursday, 23 May 2019
3 Comments
Contoh Penelitian Sederhana, Materi Sosiologi: Metode Penelitian
Sosial (Problematika Proses Pembelajaran di Sekolah-Sekolah di Perkotaan)
(Hasil Pemikiran Siswa mengenai Problematika Proses Pembelajaran
di Sekolah daerah Perkotaan)
RAHASIA TERSINGKAP DIBALIK SIKAP ACUH SISWA KELAS 10 IPS 2 SEKOLAH
CITRA KASIH SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BERLANGSUNG
Baca Juga
Disusun oleh :
Elsa Eliana
Raina Novalita
Margareta Felisha
Janice Atalie
Like Alviani
X IIS 2
SMA Citra Kasih
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mengabaikan penjelasan guru bukan lagi fenomena yang baru di
masyarakat. Tradisi ini bahkan tanpa sadar sudah ada dari zaman dahulu. Tidak
perlu diajarkan, orang-orang tahu kegiatan apa yang lebih menarik dilakukan
selain mendengarkan penjelasan guru di depan. Secara tidak sadar, hal ini
kemudian tumbuh menjadi hal yang lumrah dan secara naluriah dilakukan.
Fenomena yang telah merajalela dari generasi ke generasi di setiap
sekolah ini tentu memiliki perbedaan. Kegiatan yang dilakukan untuk membunuh
kebosanan ini berbeda-beda di setiap sekolah, tergantung kasus. Tiap sekolah
pasti lingkungannya, peraturannya, dan fasilitas yang diberikan kepada murid
berbeda.
Di suatu kelas yang murid-muridnya duduk bersebelahan biasanya
cenderung asyik mengobrol dan bermain dengan teman sebangkunya. Berbagai
kegiatan seperti menggosip, mengepang rambut teman bagi yang perempuan,
menginjak kaki teman dari bawah meja, bermain menggunakan kertas, dan hal-hal
lumrah lainnya yang dilakukan. Lalu kasus lainnya, murid-murid yang bersekolah
di sekolah yang memperbolehkan muridnya membawa barang elektronik, seperti
ponsel dan laptop biasanya diam-diam menonton film atau chatting di
balik layar. Laptop yang merupakan sarana untuk mencatat materi di beberapa
sekolah, salah satunya Sekolah Citra Kasih pun disalahgunakan.
Sebagai seorang siswa yang masih mengenyam pendidikan di Sekolah
Citra Kasih, kami sering mendapati banyak siswa yang sibuk dengan dunianya
sendiri dan tidak memperhatikan penjelasan gurunya. Ada yang tertidur di kelas,
mengobrol dengan temannya, menonton film di laptop, sibuk chatting, dan
lain-lain.
Namun sebenarnya tanpa mereka sadari, tingkah mereka tersebut
sangat mengganggu konsentrasi gurunya. Gurunya dibiarkan berbicara sendiri di
depan, sedangkan hanya segelintir orang yang memperhatikan. Gurunya bahkan
sampai kesal sendiri melihat murid-muridnya. Tak jarang, guru-guru memarahi
tingkah murid-murid yang terlalu acuh terhadap pelajaran padahal apa yang
disampaikan oleh sang guru itu penting dan oleh karena itu juga, waktu yang
seharusnya digunakan untuk membahas materi pelajaran menjadi terbuang sia-sia
untuk menasehati tingkah murid-murid yang sudah kelewatan.
Maka dari itu, kami
berencana untuk membuat penelitian ini untuk menganalisa problematika yang
sering terjadi di kelas 10 IPS 2. Kami ingin mengetahui motif dan perspektif
murid-murid terhadap isu ini. Padahal menurut kami, murid-murid lah yang justru
menjadi pihak yang paling dirugikan, karena ketidakpeduliannya terhadap
penjelasan materi pelajaran dari guru.
B. Rumusan Masalah
1.
Kegiatan apa yang
biasanya dilakukan siswa ketika tidak memperhatikan penjelasan guru?
2.
Mengapa siswa
mengacuhkan penjelasan gurunya?
3.
Apa resiko orang yang
mengacuhkan penjelasan guru di kelas?
4. Bagaimana cara mengatasi ketidakpedulian siswa
tentang penjelasan guru?
C. Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui kegiatan yang
biasa dilakukan siswa ketika tidak memperhatikan penjelasan guru.
2.
Mengetahui motif atau
alasan utama siswa mengacuhkan penjelasan gurunya.
3.
Mengetahui dampak jangka
panjang dan pendek dari mengabaikan penjelasan guru.
4.
Mengetahui cara
mengatasi ketidakpedulian siswa kepada penjelasan guru.
D. Manfaat Penelitian
- Agar
guru dapat memperbaiki gaya belajar yang salah atau membosankan menjadi
gaya belajar yang menyenangkan dan dapat diikuti oleh siswa SCK.
- Menyadarkan
siswa SCK akan dampak-dampak yang bisa terjadi dan mempengaruhi
kehidupannya.
- Mengurangi
tingkat ketidakacuhan siswa terhadap sesamanya, khususnya saat seseorang
menjelaskan suatu hal.
- Agar
siswa dapat menghargai guru dan memperhatikan guru saat menjelaskan.
- Mengedukasi
masyarakat agar dapat membentuk penjelasan (presentasi) yang jelas dan
diminati oleh orang-orang.
- Agar siswa mengetahui seberapa
penting penjelasan atau materi yang diberikan guru.
E. Lokasi dan Waktu Penelitian
Dalam
tujuan mengumpulkan data untuk membantu kami dalam pembuatan penelitian sosial
ini, kami berencana untuk melakukan wawancara di SMA Citra Kasih.
Kami akan melakukan proses penghimpunan data dalam kurun waktu
kira-kira tiga minggu, lebih tepatnya dari tanggal 18 April 2019 sampai tanggal
13 Mei 2019.
Kami mengelompokkan sampel penelitian kami dalam
dua kategori. Kategori pertama yaitu sekelompok siswa yang memperhatikan dalam
proses belajar mengajar, yang akan kami sebut kelompok A. Sedangkan kategori
yang kedua terdiri dari siswa-siswi yang sering mengabaikan penjelasan guru
ketika kegiatan belajar mengajar, yang akan kami sebut sebagai kelompok B.
Proses wawancara untuk kelompok A dilakukan pada
tanggal 9 Mei 2019. Proses wawancara bagi kelompok B dilakukan pada tanggal 6
Mei 2019. Pengolahan data dari hasil wawancara dikerjakan pada hari yang sama
dengan proses wawancara dengan narasumber.
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam
rangka untuk menyelesaikan penelitian kami, kami menggunakan teknik wawancara
dan observasi. Kami sengaja menggunakan metode yang berbeda, karena ada
beberapa rumusan masalah yang hanya bisa terjawab lewat pengamatan dan kami
tidak yakin informasi yang diungkapkan pihak informan selaras dengan apa yang
sering kami lihat di kelas. Pihak informan cenderung mengekspos yang baik-baik
tentang dirinya saja dan menghindari mengungkapkan fakta kelakuan buruk dirinya
secara gamblang.
Kami hanya menggunakan metode observasi untuk
menemukan jawaban dari rumusan masalah pertama, yaitu kegiatan yang dilakukan
ketika tidak memperhatikan penjelasan guru di kelas. Sisanya, kami menggunakan
metode wawancara. Kami tentu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan data
seakurat mungkin.
Dalam proses wawancara, kami akan mengajukan
beberapa pertanyaan yang akan dijawab oleh pihak informan. Lalu dalam proses
observasi, kami akan menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang setiap hari
kami amati di kelas. Informan yang telah kami pilih dalam penelitian ini adalah
siswa dan siswi kelas 10 IPS 2 SMA Citra Kasih. Narasumber akan dimintai
pendapatnya dan membagikan pikiran mereka dalam sikap acuh atau tidak acuhnya murid
kelas Sekolah Citra Kasih dalam kegiatan belajar mengajar. Narasumbernya atau
sampelnya akan kami ambil empat orang dari kelas 10 IPS 2. Dua orang yang tidak
memperhatikan penjelasan guru dan dua orangnya lagi sebaliknya.
G. Instrumen Penelitian
Dalam melakukan proses wawancara ini, kami akan
mengajukan beberapa pertanyaan demi mencapai sebuah kesimpulan terkait topik
yang kami tarik pada rancangan penelitian ini. Kami akan mewawancarai murid
kelas 10 IPS 2 Sekolah Citra Kasih dengan pertanyaan yang berbeda sesuai
kategori kelompoknya masing-masing. Berikut ini pertanyaannya:
No
|
Pertanyaan bagi siswa
yang tidak memperhatikan guru
|
1.
|
Seberapa sering anda
tidak memperhatikan guru di kelas?
|
2.
|
Apa yang menjadi
faktor utama anda untuk memutuskan tidak memperhatikan? Pelajarannya atau
gurunya?
|
3.
|
Jam pelajaran apa saja
yang membuat anda menjadi tidak acuh saat masa pembelajarannya?
|
4.
|
Bagaimana caranya agar
murid dapat memperhatikan gurunya di kelas?
|
5.
|
Apakah anda menyadari
resiko yang bisa kalian dapat? Jelaskan.
|
No
|
Pertanyaan bagi siswa
yang memperhatikan guru
|
1.
|
Apakah anda pernah
mengabaikan penjelasan guru di kelas?
|
2.
|
Apa yang membuat anda
tidak berkeinginan untuk mengabaikan penjelasan guru?
|
3.
|
Menurut anda, apa
resiko orang yang tidak memperhatikan guru?
|
4.
|
Apa tips-tips agar
murid dapat memperhatikan gurunya?
|
5.
|
Apa pelajaran yang
paling anda tidak sukai, tetapi anda tetap berkonsentrasi mendengarkan
penjelasan gurunya?
|
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A.
Kegiatan
Yang Dilakukan Ketika Tidak Memperhatikan Guru Di
Kelas
Setiap murid
pasti pernah tidak memperhatikan guru di kelas. Hanya frekuensinya saja yang
membedakan. Ada yang sering, agak sering, jarang, dan agak jarang. Kami sebagai
murid sekaligus peneliti mengaku turut melaksanakan hal yang serupa. Ada hal
yang lebih menarik maupun dianggap lebih penting untuk dikerjakan dibanding
mendengarkan penjelasan guru yang terlampau serius.
Dari empat orang
yang kami jadikan sampel penelitian, empat orang itu merepresentasikan kegiatan
yang berbeda. Ada yang tidur di kelas, ada yang mencoret-coret kertas, ada yang
membuka akun sosial medianya di laptop, dan ada yang bermain game online selama
pelajaran berlangsung. Wajah mereka yang tertutupi oleh laptop dan karena
murid-murid yang lain menggunakan laptop untuk mencatat, maka aksi mereka ini
tidak pernah terdeteksi oleh guru di depan kelas. Entah gurunya yang tidak peka
atau memilih untuk cuek dengan fenomena ini. Padahal guru memiliki otoritas
untuk itu.
Kabar
baiknya dari keempat orang tersebut, mereka mengaku jarang melakukan kegiatan
tersebut. Hanya di pelajaran tertentu saja yang menurut mereka membosankan.
Hasil observasi kami pun membenarkan. Mereka akan bersikap serius di pelajaran
yang menurut mereka menarik, entah mata pelajaran atau gurunya yang membuat
mereka tertarik.
B.
Alasan
Murid Mengacuhkan Penjelasan Guru Di Kelas
Dua orang dari kategori B menjawab pertanyaan
kami dengan dua jawaban yang berbeda. Berikut pertanyaan yang kami lontarkan,
“Apa yang menjadi faktor utama anda untuk memutuskan tidak memperhatikan?
Pelajarannya atau gurunya?”
Satu orang dari
mereka menjawab pelajarannya dan satunya lagi menjawab kebalikannya. Semua
orang memiliki perspektif yang berbeda, namun menuntut satu hal yang sama.
Mereka sama-sama menginginkan situasi belajar yang lebih menyenangkan. Seorang
guru diekspektasikan untuk mengajar dengan seribu satu strategi seru yang mampu
membangkitkan semangat belajar para murid. Tidak perlu banyak games atau
ice breaking, cukup membuat murid-murid tertarik dengan caranya sendiri.
Tidak
perlu diajarkan oleh orang lain, murid-murid juga sudah menyadari bila nilai
yang tertera di ulangan tidak akan dibawa mati dan tidak akan digunakan saat
besar nanti. Bila seseorang bercita-cita menjadi pengacara, tentu saja
pelajaran geografi yang mereka pelajari selama sekolah tidak akan terpakai.
Oleh karena itu, rasanya sah-sah saja jika mereka memilih untuk bermain dalam
diam dan tidak tertarik mendengarkan penjelasan gurunya. Namun yang menjadi
pertimbangan adalah guru yang berdiri di depan yang seakan tidak dihargai
kehadirannya dan tersulut emosinya karena sikap acuh murid yang sudah
keterlaluan.
C.
Resiko
Mengabaikan Penjelasan Guru
Berdasarkan data yang kami ambil, keempat orang
tersebut, baik yang memperhatikan maupun yang tidak sama-sama tahu resiko yang
akan ditanggung. Bukan rahasia umum lagi. Semua orang menyadari mereka tidak
akan mengerti materi pembelajarannya jika mengabaikan penjelasan gurunya itu
sendiri. Meskipun pelajaran tersebut tidak memiliki korelasi dengan cita-cita
mereka, mereka tidak bisa menghindari ujian-ujian dari mata pelajaran tersebut.
Apalagi mengingat syarat dan ketentuan naik kelas yang mewajibkan mereka
memiliki nilai di atas KKM hampir di seluruh pelajaran.
Keadaan yang memaksa
mereka untuk berlaku demikian, meskipun hati tak sejalan. Namun apapun itu,
kami yakin dan percaya murid-murid sudah cukup dewasa untuk memperhitungkan
resikonya dan mempertimbangkan baik buruknya perbuatan mereka.
D.
Cara
Mengatasi Ketidakpedulian Siswa Terhadap Guru
Dari keempat
orang yang kami wawancarai, mereka mengatakan hal yang serupa. Mereka
menginginkan guru yang bisa mencairkan suasana dan menjadikan belajar sebagai
kegiatan yang seru dan menyenangkan. Guru yang tidak monoton yang membahas
pelajaran di buku saja, tetapi juga implementasinya dalam kehidupan. Tidak
perlu games atau ice breaking yang membuang waktu, namun cukup dengan trivia
atau hal-hal unik tentang materi pembelajaran yang dikupas seapik mungkin oleh
gurunya.
Belajar itu seharusnya menyenangkan dan tidak
membosankan. Kami sebagai murid Sekolah Citra Kasih juga mengharapkan adanya
gebrakan besar dalam proses pembelajaran. Kami butuh lebih banyak waktu untuk
mengeksplorasi dan mencari jati diri. Mengurangi durasi di sekolah mungkin bisa
menjadi salah satu caranya. Durasi belajar yang terlampau lama di sekolah tidak
menjamin kegiatan belajar menjadi efektif. Oleh karena itu, banyak orang yang
mengeluh bosan dan ngantuk karena fenomena ini.
Pada dasarnya, kita
murid-murid juga merupakan anak remaja berusia belasan tahun yang masih
memasuki usia eksplorasi dan baru melihat dunia. Kami masih “anak kemarin
sore.” Kami ingin menggali lebih dalam passion dan arah hidup kami
kedepannya. Kami ingin diberi waktu untuk menekuni bidang yang kami minati,
seperti menulis, mengedit video, membaca buku, pergi ke museum, dan sebagainya.
Ada banyak hal produktif lain yang dapat dilakukan. Bahkan gaming pun
ada tujuannya, mereka para gamers ingin mendapat uang di usia dini
dengan bermain game. Jangankan itu, belajar make up pun juga ada
sisi positifnya, mereka bisa mendapat banyak uang dengan menjadi beauty
blogger, selebgram, ataupun make up artist. Hidup pun bisa menjadi
lebih produktif. Tidak ada salahnya memberikan sedikit waktu bagi murid untuk
mengenali seluk-beluk dirinya yang bisa membuatnya mencapai kesuksesan di usia
yang masih sangat belia. Tidak perlu tunggu rambut memutih dahulu untuk sukses.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Semua orang
pernah yang namanya tidak memperhatikan guru. Mereka pada dasarnya mengabaikan
penjelasan gurunya karena satu, tidak menarik. Entah gurunya yang membosankan
atau pelajarannya yang tidak disukai, keduanya turut mengambil bagian, meski
mereka menyadari resiko apa yang akan mereka terima.
Padahal belajar itu
seharusnya menyenangkan. Pelajaran yang tidak disukai pun akan menjadi menarik
sesuai dengan guru yang membawakannya. Guru yang baik pasti pintar membawa
suasana belajar menjadi seru dan menyenangkan. Meskipun kami tidak bisa
mengharapkan semua guru seperti itu mengingat karakter atau cara mengajar guru
yang berbeda. Kalau begitu mungkin ada baiknya bila murid-murid diberi lebih
banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang dianggap menyenangkan dengan
mengurangi durasi belajar sekolah.
B.
Saran
Mengurangi
durasi belajar dan menjadikan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan
mungkin beberapa cara yang bisa kami sarankan untuk fenomena ini. Kami
sebagai sesama remaja yang masih bersekolah di Sekolah Citra Kasih mengharapkan
adanya gebrakan di sekolah. Terlalu lama belajar di sekolah tidak membuat
murid-murid menjadi sukses. Eksplorasi diri dan ketekunan dalam passion-lah
yang membuat seseorang menjadi sukses. Katakan saja Bill Gates yang
mempunyai ketertarikan di bidang teknologi dan menekuninya hingga meraih
kesuksesan dan menghasilkan banyak uang lewat apa yang diminatinya itu.
halooo... mantap
ReplyDeleteTeori yang digunakan apa ya ka?
ReplyDeletestreaming movie for free online at layarkaca21 and you can watch anything what you want
ReplyDelete