join venture 1

TEORI PILIHAN RASIONAL PERTUKARAN SOSIAL - PERILAKU

TEORI PILIHAN RASIONAL
PERTUKARAN SOSIAL - PERILAKU
(George Caspar Homans)
 Pilihan Siswa Sekolah Menengah Atas Dalam Menentukan Jurusan di Perguruan Tinggi
“Tindakan individu mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu dicapai melalui tindakan yang ditentukan oleh nilai atau pilihan”

A.    Pendahuluan
Teori ini mengkaji mengenai perilaku sosial dari individu yang tampak. Dari adanya tindakan individu ini dikaji mengenai sebab akibat atau adanya stimulus serta respon yang ditimbulkan. Melalui teori ini dikaji mengenai tindakan individu yang senantiasa mengarah pada tujuan dimana dalam melakukan tindakannya individu mengharapakan sesuatu dari tujuan tersebut (reward) atau tujuan lainnya. Menurut Homans orang terlibat dalam sebuah perilaku adalah untuk memperoleh adanya pertukaran, hal ini lebih berkaitan pada teori pertukaran yang bersifat ekonomis. Namun menurutnya perilaku individu tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomis yang didapatkan tetapi juga dari nilai sosiologisnya. Homans menjelaskan mengenai teori ini dalam proposisi – proposisi yaitu proposisi sukses, stimulus, nilai, kejenuhan (deprivasi-satiasi), persetujuan (restu)-agresi, rasionalitas. Setiap individu memilih tindakan atas dasar pertukaran yang akan didapatkannya nanti, hal ini juga dikaitkan dengan rasionalitasnya dalam menentukan pilihan. Walaupun dalam kehidupan nyata orang tak selalu berperilaku rasional, namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah individu bertindak tepat menurut rasionalitas seperti yang biasa dibayangkan atau menyimpang dari cara-cara yang telah diamati (Coleman, dalam Ritzer: 395).
Dalam essay ini saya akan mengkaji mengenai pilihan rasional seorang siswa yang memilih jurusan apa yang akan diambil untuk melanjutkan studinya diperguruan tinggi. Maksudnya adalah bagaimana perilaku seorang siswa ketika akan memilih jurusan apa yang akan diambil di perguruan tinggi, setiap individu-individu mempunya pandangan sendiri-sendiri mengenai jurusan apa yang akan diambil. Pilihan mereka ini dilakukan karena mereka juga mempertimbangkan nilai atau reward apa yang akan diterima olehnya nanti ketika masuk dijurusan tersebut, ataupun tujuan apa yang ingin ia capai sehingga ia tau harus mengambil jurusan apa.
B.     Materi Utama
Sejarah  Akar Teori
Lahir di Boston tahun 1910. Ia dibesarkan pada lingkungan keluarga yang kaya raya. Pada tahun 1932 Homans menerima gelar Sarjana Muda dari Havard University. Setelah memperoleh gelar ini Homans mengalami depresi yang cukup berat karena ia menganggur terlalu lama. Ketertarikan Homans mengenai sosiologi sebagian besar karena faktor kebetulan. Tahun 1932, ketika Homans merasa putus asa dan bosan karena lama menganggur, seorang ahli psikologi asal Havard, Prof. Lawrence J. Henderson mengadakan seminar tentang teori Pareto mengenai struktural sosial masyarakat Perancis. Homans menjadi pemakalah ketika itu, Seminar ini juga dihadiri oleh Talcolt Parsons. Pada seminar ini Homans mengungkapkan ketertarikannya pada teori Pareto untuk menerangkan mengapa teori sosiologi Amerika sangat konservatif dan anti-Marxis. Makalah Homans tentang Pareto ini berhasil dijadikan buku berjudul “An Introductions to Pareto” yang ditulisnya bersama Charles Curtis dan diterbitkan pada Tahun 1934.
Karya Homans dalam sosiologi sebenarnya berawal pada tahun 1933, ketika bergabung dengan Prof. Lawrence Henderson yang sedang meneliti ciri- ciri psikologis dari pekerjaan Industri dan Elton Mayo (guru Homans), seorang ahli psikologi yang meneliti tentang faktor manusia dalam indusrialisasi (Ritzer & Dooglas J. Goodman, 2004: 362). Kemudian pada tahun 1934 sampai dengan 1939 Homans mengikuti Program Junior Fellow di Havard University. Dari Program ini Homans mendapatkan banyak pengetahuan sosiologi. Pada tahun 1939 ini pula ia bergabung dengan jurusan sosiologi tetapi terputus oleh perang.
Homans masuk pada Angkatan Laut saat Perang Dunia II. Pada saat inilah ia memikirkan masalah penting tentang sejumlah hasil studi “lapangan” atau konkret tentang kelompok kecil baik yang asli maupun yang modern untuk dituangkan dalam satu konsep umum yang lengkap dengan skemanya. Setelah perang Homans kembali ke Havard dan bergabung dengan jurusan hubungan sosial. Ia mulai menulis buku berjudul The Human Group . Dalam karyanya ia juga dipengaruhi oleh B.F. Skinner, seorang psikolog yang juga merupakan teman dekatnya tentang teori behaviorisme psikologis. Berdasarkan perspektif ini Homans membangun Teori Pertukaran. Meskipun Homans menjadi tokoh sosiologi terkemuka pada masanya, tetapi ia tidak pernah memperoleh gelar Ph.D. Homans meninggal pada tahun 1989.
Banyak ide dasar dalam karya Homans yang juga menyerang intepretasi Levi-Strauss mengenai kebiasaan-kebiasaan perkawinan dalam masyarakat primitif. Hal ini merupakan tema pokok dalam analisis lintas-budaya yang dikemukakan oleh Homans. Tekanan Homans pada penjelasan institusi-institusi sosial di tingkat psikologi individu merupakan pendekatan dasarnya, Homans berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip psikologi individu untuk menjelaskan perilaku sosial daripada hanya sekedar menggambarkannya. Homans mengemukakan bahwa penjelasan ilmiah harus dipusatkan pada perilaku nyata yang dapat diamati dan diukur secara empirik. Keadaan-keadaan internal (perasaan dan sikap subyektif, dan sebagainya) harus didefinisikan dalam istilah-istilah perilaku ( Behavioral term) untuk keperluan pengukuran empiris (Robert Lawang, M.Z, 1950: 38)
Satu ciri khas teori pertukaran yang menonjol adalah cost and reward. Dalam berinteraksi manusia selalu mempertimbangkan cost (biaya atau pengorbanan) dengan reward (penghargaan atau manfaat) yang diperoleh dari interaksi tersebut. Jika cost tidak sesuai dengan reward-nya, maka salah satu pihak yang mengalami disertasi seperti ini akan merasa sebal dan menghentikan interaksinya, sehingga hubungan sosialnya akan mengalami kegagalan
            Konsep Utama Teori
Homans memulai teorinya dengan ilmu ekonomi bukan dengan psikologi. Teori pertukaran Homans berasumsi bahwa seorang terlibat pada sebuah tindakan karena ganjaran atau menghindari adanya hukuman. Pertukaran perilaku untuk memperoleh ganjaran tersebut merupakan prinsip dasar dalam transaksi ekonomi. Ilmu ekonomi dapat menggambarkan hubungan pertukaran dan sosiologi dapat menggambarkan adanya struktur-struktur sosial diamana pertukaran tersebut terjadi. Melalui ilmu ekonomi Homans mengkaji perilaku individu dalam meraih nilai melalu tindakannya, hal ini juga didukung dari adanya teori psikologi milik Skinner (Behavioralisme).  Seperti halnya binatang yang mencoba mencari ganjaran serta menghindari adanya hukuman, manusia pun mencobanya dengan memperbesar keuntungan dan memperkecil biaya yang dikeluarkan. Menurut Homans, dilihat dari sisi fungsional bukan hanya status yang berasal dari fungsi sosialnya melainkan karena struktur yang demikian itu terdiri dari individu-individu yang terlibat dalam proses pertukaran barang yang berwujud materi maupun non-materi (Homans, 1958: 579-606).
Pertukaran sosial yang terjadi antar individu tidak berjalan statis, karena tidak selamanya individu mendapatkan keuntungan dari proses pertukaran sosial itu. Oleh karena itu, bagi Homans dalam teori pertukaran sosial perlu dilakukan proposisi-proposisi. Menurut Homans proposisi - proposisi yang dapat menjelaskan teori pertukaran sosial secara utuh, diantaranya, proposisi sukses, proposisi stimulus, proposisi nilai, proposisi kelebihan dan kekurangan, proposisi agresi – pujian, dan proposisi rasionalitas.
Pernyataan pertama proposisi sukses,  “Dalam setiap tindakan, semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh ganjaran, maka kian kerap ia akan melakukan tindakan itu (Homans, dalam Poloma: 61). Asumsi dasar proposisi sukses adalah “semakin sering tindakan seseorang itu dihargai maka semakin sering orang itu melakukan tindakan yang sama”. Sebaliknya, semakin sering tindakan seseorang itu gagal atau tidak mendapatkan penghargaan maka tindakan itu tidak akan diulangi lagi olehnya. Proposisi sukses ini dapat disimpulkan bahwa ketika seorang individu memperoleh ganjaran dari tindakan yang ia lakukan maka suatu ketika ia akan melakukan tindakan itu lagi bahkan ia akan sering melakukan tindakan tersebut dengan harapan ia dapat menerima ganjaran yang serupa dengan apa yang telah ia dapatkan sebelumnya.
Proposisi stimulus atau rangsangan menyatakan bahwa “jika di masa lalu terjadinya stimulus (rangsangan) yang khusus atau seperangkat stimuli merupakan peristiwa dimana tindakan seseorang memperoleh ganjaran, maka semakin mirip stimuli yang ada sekarang ini dengan yang lalu itu, akan semakin mungkin seseorang melakukan tindakan serupa atau yang agak sama, (Homans, dalam Poloma: 64). Proposisi tersebut menjelaskan bahwa ketika seorang individu mendapatkan rangsangan (stimulus) maka ia akan cenderung melakukannya agar mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan. Pada kejadian sebelumnya individu telah mendapatkan ganjaran (reward)  setelah ia melakukan sesuatu, dengan adanya stimuli semacam itu individu akan melakukannya lagi agar ia mendapatkan hal (ganjaran) yang serupa.
Proposisi nilai, “semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka kian senang seseorang melakukan tindakan itu” (Homans, dalam Poloma: 63). Proposisi ini berkaitan dengan tingkat atau tinggi rendahnya nilai dari sebuah tindakan. Disini Homans memperkenalkan konsep hadiah dan hukuman. Hadiah adalah tindakan dengan nilai positif, makin tinggi nilai hadiah, makin besar kemungkinan mendatangkan perilaku yang diinginkan. Sedangakan hukuman adalah hal yang diperoleh karena tingkah laku yang negatif. Dalam pengamatannya, Homans memperhatikan bahwa hukuman bukanlah merupakan cara yang efektif untuk mengubah tingkah laku seseorang. Ketika tindakan memiliki nilai yang tinggi maka seorang individu ini akan semakin senang atau menikmati apa yang dilakukannya berbeda ketika nilai dari sebuah tindakan itu rendah atau bahkan justru tidak ada nilai yang mengikutinya maka individu akan cenderung malas atau bahkan tidak melakukan tindakan itu. Jadi ketika individu melakukan satu tindakan ia melihat dari sisi nilai yang dimiliki ketika tindakan itu dilakukan.
Proposisi Kejenuhan (deprivasi–satiasi), “semakin sering di masa yang baru berlalu seseorang menerima suatu ganjaran tertentu, maka semakin kurang bernilai bagi orang tersebut peningkatan setiap unit ganjaran” (Homans, dalam Poloma: 63-64). Dalam proposisi kejenuhan (deprivasi–satiasi) ini menjelaskan bahwa ketika suatu tindakan yang pada awalnya bernilai semakin lama nilai tersebut akan semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Dapat dikatakan bahwa dari tindakan yang bernilai ketika tindakan itu dilakukan berulang-ulang maka setiap perulangan tersebut akan terjadi pengurangan nilai. Individu akan merasakan terjadinya pengurangan nilai dari tindakan yang ia lakukan berulang karena pengulangan itu sendiri yang menyebabkan adanya pengurangan nilai tersebut. Unsur waktu menjadi sangat penting didalam proposisi ini. Orang pada umumnya tidak akan lekas jenuh, kalau ganjaran itu di peroleh sesudah waktu yang cukup lama.
Proposisi Persetujuan (restu) – agresi, dalam bagian ini ada dua proposisi yang berbeda. Proposisi yang pertama berbunyi “ Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran seperti yang diharapkannya atau mendapat hukuman yang tidak diharapkannya, maka semakin besar kemungkinana bahwa dia akan menjadi marah dan melakukan tindakan yang agresif, dan tindakan agresif itu menjadi bernilai baginya.” Homans memberikan contoh bahwa jika seseorang tidak mendapatkan nasihat yang dia harapkan dari orang lain dan orang lain itu tidak mendapat pujian yang dia harapkan maka keduanya akan menjadi marah. Dalam proposisi ini berbicara tentang perilaku emosional dari individu yang timbul dari perilaku yang telah ia lakukan sebelumnya. Pada proposisi diatas dijelaskan bahwa individu akan melakukan tindakan sebagai reaksi dari adanya gajaran atau hukuman yang ia terima. Ketika individu tidak mendapatkan apa yang ia inginkan ia akan melakukan tindakan agresif demi menyalurkan rasa emosional yang ia rasakan. Tindakan atas dasar emosi tersebut bisa jadi menjadi tindakan yang paling bernilai baginya karena apa yang ia harapkan sebelumnya tidak dapat terpenuhi.
Proposisi yang kedua lebih bersifat positif “ Apabila seseorang mendapat ganjaran yang diharapkannya, khususnya ganjaran yang lebih besar dari pada yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukuman yang diperhitungkannya maka ia akan menjadi senang, lebih besar ia akan melakukan hal-hal yang positif dan hasil dari tingkah laku yang demikian adalah lebih bernilai baginya”. Misalnya, apabila seseorang mendapatkan nasihat dari orang lain seperti yang diharapkannya dan orang lain itu mendapat pujian seperti yang diharapkannya maka keduanya akan menjadi senang dan besar kemungkinan yang satu menerima nasihat dan yang lainnya memberikan nasihat yang lebih bermanfaat. ketika individu mendapatkan ganjaran yang bernilai lebih dari apa yang ia harapkan individu ini akan merasa senang atau bahkan apa yang ia lakukan tersebut dapat menjadi hal yang paling berharga baginya
Di sumber lain (Raho, 2007: 172- 176) menyebutkan masih ada 1 proposisi lagi yaitu Asumsi dasar proposisi rasionalitas adalah “orang membandingkan jumlah imbalan yang diasosiasikan dengan setiap tindakan. Imbalan yang bernilai tinggi akan hilang nilainya jika aktor menganggap bahwa itu semua cenderung tidak akan mereka peroleh. Sedangkan imbalan yang bernilai rendah akan mengalami petambahan nilai jika semua itu dipandang sangat mungkin diperoleh. Jadi, terjadi interaksi antara nilai imbalan dengan kecenderungan diperolehnya imbalan”.
Imbalan yang paling diinginkan adalah imbalan yang sangat bernilai dan sangat mungkin dicapai. Sedangkan imbalan yang paling tidak diinginkan adalah imbalan yang paling tidak bernilai dan cenderung tidak mungkin diperoleh. (Homans dalam Ritzer, 2009:457).
Proposisi Homans yang terakhir ini menjelaskan proses aktivitas individu yang syarat dengan pragmatisme kepentingan. Dalam aktivitas individu, nilai adalah segala- galanya, nilai mendorong untuk bertindak dan juga dapat menghambat dalam bertindak, tergantung kelebihan dan kekurangan dari nilai itu bagi individu yang menjalankannya.
Homans menekankan bahwa proposisi itu saling berkaitan satu sama lain dan harus dijadikan satu perangkat dalam menganalisis perilaku individu dalam masyarakat. Proposisi – proposisi tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan perilaku individu untuk selanjutnya dapat menjelaskan mengenai struktur sosial dalam masyarakat.


            Aplikasi Teori
Teori pilihan rasional ini berkaitan dengan pilihan yang berakar dari nilai dengan adanya rasionalitas yang dimiliki. Setiap tindakan individu dipengaruhi oleh nilai yang akan didapatkan. Pertukaran disini terjadi dimana tindakan yang dilakukan akan ditukar dengan nilai yang diperoleh. Banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dikaji melalui teori pilihan rasional, termasuk yang terjadi dilingkungan pendidikan mengenai pemilihan jurusan ketika siswa sekolah menengah atas akan  melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Sekarang ini kuliah sudah seperti menjadi kewajiban untuk remaja atau siswa sekolah menengah atas yang sudah lulus sekolah, pada dasarnya pendidikan dinegeri kita ini hanya diwajibkan 9 tahun belajar. Tetapi sekarang ini banyak masyarakat yang memandang pendidikan sebagai kebutuhan sekaligus gaya hidup, sehingga banyak dari mereka yang sangat berkeinginan untuk dapat berkuliah.
Siswa banyak memiliki pilihan jurusan apa yang akan ia pilih untuk ia jalani dalam perkuliahan, banyak sekali perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang menawarkan jurusan-jurusan serta program studi yang dibutuhkan, diminati, dan sengaja dibentuk hanya agar menarik minat siswa. Tentu tindakan para siswa dalam memilih jurusan tersebut didasari oleh alasan-alasan yang berbeda setiap individunya. Mereka mengambil jurusan tersebut karena mereka memiliki tujuan yang ingin mereka dapatkan. Tujuan dan nilai yang akan didapatkan ketika mereka mengambil jurusan tersebut menjadi dasar dalam mereka menentukan jurusan itu.
Berdasarkan pengamatan dari fenomena yang ada, ada banyak alasan mengapa siswa memilih suatu jurusan, yaitu agar dapat masuk ke perguruan tinggi yang mereka inginkan dalam arti ketika mereka memilih jurusan yang jarang diminati dengan tujuan persaingan yang ada sedikit sehingga dapat dengan mudah masuk di perguruan tinggi yang diinginkan, mereka ada yang memilih agar dapat masuk ke perguruan tinggi ternama meskipun jurusan yang diambil tidak ia ketahui dan tidak memiliki dasar (background) di jurusan tersebut, jadi mereka bisa bangga dengan perguruan tingginya tanpa mempermasalahkan jurusan yang diambil meskipun tidak sesuai dengan dirinya. Adapula yang memilih jurusan karena melihat jauh kedepan (prospek) bahwa jurusan tersebut banyak dibutuhkan dimasyarakat, sehingga nantinya dapat mudah mencari pekerjaan. Begitu juga ada yang memilih jurusan sesuai dengan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia sukai, jadi mereka memilih jurusan tersebut murni karena keinginan dia atau selaras dengan cita-citanya bukan karena jurusan tersebut milik perguruan tinggi ternama ataupun bukan karena memiliki prospek yang cerah untuk mencari pekerjaan kedepannya. Adapula yang memilih jurusan karena dipaksa atau disuruh orang tuanya untuk mengambil jurusan tersebut, biasanya hal ini terjadi ketika orang tua menginginkan anaknya hidup sejahtera nantinya sehingga sang anak diarahkan untuk memilih jurusan yang bisa membuat sejahtera. Bahkan adapula yang memilih jurusan hanya untuk mengindari mata pelajaran yang tidak ia sukai, misalnya ketika seseorang tidak menyukai matematika maka ia akan mengambil seni, dll.
Mengkaji fenomena tersebut dengan menggunakan proposisi-proposisi yang dinyatakan oleh Homans tersebut satu persatu. Proposisi sukses, seperti yang telah dijelaskan diatas proposisi sukses berkaitan dengan tingkat kesuksesan untuk memperoleh ganjaran atau nilai yang diharapkan dan tindakan tersebut cenderung dilakukan lagi. Misalnya ketika di SMA seorang siswa jurusan IPS yang mempelajari pelajaran sosiologi, disitu dia banyak belajar tentang pola perilaku dan bagaimana dia bersikap dimasyarakat, hal itu memberikan pengalaman berharga baginya oleh karena itu ketika memilih jurusan dia memilih Sosiologi juga agar lebih bisa mendalami hal tersebut.
Proposisi yang kedua yaitu proposisi rangsangan (stimulus), proposisi stimulus ini berkaitan antara stimulus dan respon. Dalam proposisi ini mengaitkan antara kejadian yang pernah dilakukan oleh individu sebelumnya yang akan mempengaruhi atau merangsang adanya perulangan tindakan yang serupa karena adanya faktor pemberian reward sebagai ganjaran dari perilaku yang ia lakukan.  Biasanya hal ini terwujud ketika waktu sma dia mendapat nilai yang bagus di salah satu pelajaran yang itu merupakan pelajaran yang ia sukai, dan dia juga menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah dan SPP gratis, karena hal itu maka ketika memilih jurusan dia memilih jurusan tersebut (sesuai dengan minat dan bakat).
Proposisi nilai hal ini bisa tewujud ketika seorang anak SMA mempertimbangkan jurusan apa yang ia pilih melihat dari seberapa bernilainya jurusan tersebut nanti baginya, misalnya ketika ia memilih jurusan kedokteran maka ia akan dipandang sebagai orang terhormat dimasyarakat, tetapi ketika ia memilih jurusan pertanian ia tidak diberi penghargaan yang tinggi dimasyarakat. Sehingga ia memilih jurusan kedokteran karena proporsi nilai.
Proposisi kejenuhan (deprivasi–satiasi) diaplikasikan  dalam fenomena yang terjadi dikalangan siswa, dalam hal ini dapat dicontohkan ketika seorang siswa yang mengambil jurusan pariwisata. Seorang siswa yang memilih untuk mengambil jurusan tersebut awalnya memiliki tujuan-tujuan tertentu seperti ingin agar dapat berlibur ketempat-tempat pariwisata, namun dalam perjalanan waktu semakin lama diulang-ulang kegiatannya membuat apa yang dikerjakan ketika menjadi mahasiswa terkesan tidak menarik. Terjadi pengurangan nilai pada kegiatan praktek lapangan mahasiswa kunjungan ketempat-tempat wisata, hal ini menyebabkan mahasiswa tadi tidak lagi ingin mengikuti kegiatan tersebut.
Proposisi (persetujuan) restu-agresi, proposisi ini mengaitkan antara tindakan dengan emosional dari individu. misalnya, ketika seorang siswa yang ingin sekali masuk di jurusan pendidikan guru sekolah dasar, Universitas Negeri Yogyakarta maka ia memilih jurusan tersebut sebagai pilihan utamanya tetapi ketika pengumuman, namanya tidak tercantum sebagai peserta yang lolos seleksi, karena hal itu ia marah-marah, kecewa, sedih dan tidak mau lagi memilih jurusan tersebut.
Proposisi rasionalitas banyak ditemukan di siswa yang akan memilih jurusan, mereka mempertimbangkan banyak hal baik passing grade, persaingan untuk masuk kejurusan tersebut, jumlah animo total siswa yang diterima di jurusan tersebut dengan jumlah pendaftar, prospek kedepan dari jurusan tersebut, dan bahkan ijin atau persetujuan dari orang tua, semua hal tersebut difikirkan secara matang-matang untuk diambil keputusan terbaik dari kesemua itu, tentu mereka akan menggunakan rasionalitas mereka dalam memilih jurusan.
C.    Kesimpulan
Setiap tindakan individu akan mengalami pertukaran, dimana apa yang diberikan akan mendapatkan pertukarang dengan apa yang akan didapatkan. Pilihan tindakan individu akan diikuti oleh nilai yang menjadi tujuan. Banyak fenomena yang terjadi disekitar kita yang dapat dikaitkan dengan teori ini, salah satunya mengenai pilihan rasional seorang siswa yang memilih jurusan untuk dia bekuliah. Banyak yang menjadikan pertimbangan seorang siswa akan memilih jurusan apa dia nantinya. Pertimbangan tersebut antara lain merupakan nilai dan tujuan yang ia dapa ketika masuk dijurusan tersebut. Ketika mereka memilih jurusan mereka juga mempertimbangkan reward dan punishment yang ia dapat ketika ia berada di jurusan tersebut. Pada setiap tindakan yang dilakukan akan menimbulkan rasa emosional yang dapat mempengaruhi keberhargaan nilai dari tindakan tersebut. Kemudian dari adanya pengulangan tindakan didalamnya akan terjadi pengurangan nilai, pengurangan nilai ini terjadi karena pengulangan itu sendiri. Teori pertukaran, pilihan rasional dari Homans memiliki proposisi-proposisi yang mampu menjelaskan mengenai tindakan individu. Teori dari Homans ini dapat dikaitkan dengan berbagai fenomena perilaku individu dalam masyarakat sehingga kita lebih memahami makna dari setiap perilaku yang ada.



D.    Referensi
Doyle Paul Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.

Lawang, Robert M.Z., 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Poloma, Margaret M. 2007. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rachmad K.Dwi Susilo. 2008. 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Sosiologi Modern. Yogyakarta: AE-RUZZ Media.

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Ritzer, G. dan Goodman, D.J. 2004. Sociological Theory. New York: McGraw- Hill.

Robinson, Philip. 1986. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.




TUGAS Remidial dan Pengayaan XI IPS 1 (SAPI'I) SMA N 1 BANTUL

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi kelompok sosial" kelas XI IPS 1. N...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel