join venture 1

proposal penelitian kualitatif Nico Fergiyono

A.    Judul
Dampak Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
B.     Latar Belakang Masalah
Kebiasaan merokok di lingkungan umum dianggap sangat mengganggu, terutama bagi mereka yang biasa hidup sehat. Di indonesia sendiri kebiasaan ini dapat dengan mudah dilihat pada masyarakat khususnya masyarakat tingkat menengah kebawah. Merokok dianggap sebagai kebiasaan buruk yang berdampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain, karena rokok mengandung zat adiktif yang membahayakan kesehatan manusia baik gangguan kesehatan bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Dampak gangguan kesehatan yang diakibatkan rokok antara lain gangguan pernafasan serangan jantung, kanker paru-paru, impotensi, gangguan kehamilan pada ibu hamil maupun janin yang dikandungnya. Merokok juga hanya diperbolehkan bagi mereka yang sudah dewasa.
Dalam kasus kebiasaan merokok seseorang, menimbulkan resiko yang lebih besar bagi perokok pasif daripada perokok pasif. Hal inilah yang mengakibatkan seseorang yang tidak merokok cenderung enggan untuk berinteraksi atau berkomunikasi secara langsung dengan orang yang merokok. Perasaan enggan ini menjadi salah satu sebab penghambat interaksi antar manusia khususnya bagi orang yang merokok dengan orang yang tidak merokok. Akan tetapi sebaliknya bagi orang yang sesama perokok, rokok dapat menjadi media interaksi yang baik antara orang yang satu dengan satu atau beberapa orang lainnya, bahkan bagi mereka yang belum saling kenal satu sama lain. Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat terkait hubungan manusia dalam kehidupan sehari-hari terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat atau pendorongnya, dengan demikian perilaku merokok dianggap sebagai faktor penghambat dalam hal ini. Bagi mereka yang tahu akan bahaya merokok, maka mereka akan lebih memilih untuk menghindari segala resiko dari bahaya rokok baik dampak langsung (sebagai perokok aktif) maupun dampak yang ditimbulkan secara tidak langsung (prokok pasif). Hal inilah yang dapat mendorong seseorang untuk lebih memilih tidak melakukan kontak langsung, mengingat dampak negatifnya bagi kesehatan begitu besar.
C.    Identifikasi Masalah
Interaksi sosial yang terjadi di lingkungan fis uny memiliki beberapa permasalahan yang disebabkan oleh adanya perilaku kebiasaan merokok oleh mahasiswa didalamnya. Maka penulis mengidentifikasikan beberapa permasalahan tentang interaksi mahasiswa dengan kebiasaan merokok.
1.      Merokok dianggap sebagai kebiasaan buruk, karena tidak bermanfaat dan merupakan bentuk tindakan pemborosan.
2.      Rasa enggan yang dimiliki mahasiswa yang tidak merokok untuk berdekatan bahkan berinteraksi dengan mahasiswa lain yang merokok.
3.      Kampus merupakan tempat umum yang tidak memperbolehkan mahasiswanya untuk merokok, sehingga mahasiswa yang merokok dianggap melakukan penyimpangan dan orang akan bersikap arogan atau gengsi untuk bergaul dengan orang yang melakukan penyimpangan.
4.      Asap rokok merupakan polusi yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi mahasiswa lain.
5.      Aroma tidak sedap yang menyengat dari asap rokok yang membuat masiswa lain merasa minder untuk berdekatan bahkan berinteraksi, terlebih lagi aroma rokok masih dapat tercium walaupun perokok sudah tidak sedang merokok.
6.      Merokok ditempat umum seperti kantin, taman, koridor atau lorong kampus merupakan tindakan yang mengganggu ketertiban umum.
7.      Banyaknya mahasiswa perempuan yang merasa tidak nyaman atau bahkan terganggu dengan mhasiswa laki-laki yang merokok, mengingat kebanyakan perempuan memang tidak merokok dan begitu memperhatikan kesehatan.
8.      Terdapat pandangan masyarakat mengenai kebiasaan merokok merupakan kebiasaan orang-orang dengan tingkat ekonomi menengah kebawah.
9.      Pengetahuan mahasiswa mengenai dampak buruk yang diakibatkan dari rokok, mendorong mahasiswa untuk menghindar.

D.    Batasan Masalah
1.      Mengetahui dampak merokok pada proses interaksi
2.      Mengetahui berbagai tindakan yang dilakukan akibat merokok saat berinteraksi
3.      Mengetahui korelasi dampak merokok terhadap intensitas berinteraksi
4.      Mengetahui berbagai upaya yang dilakukan perokok pasif dalam berinteraksi dengan perokok aktif
5.      Mengetahui sejauh mana dampak yang ditimbulkan dari merokok dengan intensitas berinteraksi
6.      Mengetahui siapa saja yang menjadi perokok aktif di lingkungan kampus

E.     Rumusan Masalah

1.      Apakah kebiasaan merokok menjadi pertimbangan tersendiri bagi mahasiswa dalam melakukan kontak sosial?
2.      Bagaimana bentuk interaksi yang terjadi antara mahasiswa yang tidak merokok dengan mahasiswa yang merokok?
3.      Bagaimana bentuk interaksi yang terjadi antar mahasiswa sesama perokok?
4.      Apakah peran gender berpengaruh terhadap interaksi sosial, berkenaan dengan kebiasaan merokok mahasiswa laki-laki?

F.     Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui apakah kebiasaan merokok menjadi pertimbangan tersendiri bagi mahasiswa dalam melakukan kontak sosial
2.      Untuk mengetahui bagaimana bentuk interaksi yang terjadi antara mahasiswa yang tidak merokok dengan mahasiswa yang merokok
3.      Untuk mengetahui bagaimana bentuk interaksi yang terjadi antar mahasiswa sesama perokok
4.      Untuk mengetahui apakah peran gender berpengaruh terhadap interaksi sosial, berkenaan dengan kebiasaan merokok mahasiswa laki-laki

G.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini yang mengangkat tema tentang Dampak Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Manfaat Teoritis
a.       Penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi serta dapat juga sebagai bahan referensi yang berkaitan dengan Sensitivitas Interaksi Mahasiswa.
b.      Penelitian ini dapat dijadikan penelitian yang relevan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Universitas Negeri Yogyakarta.
Penelitian ini diharapkan mampu untuk dijadikan sarana acuan dalam meningkatkan dan menambah wawasan mengenai  Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.
b.      Bagi Peneliti
1)        Penelitian ini untuk memenuhi syarat dalam rangka menyelesaikan tugas akhir mata kuliah metode penelitian kualitatif.
2)        Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan kedalam karya nyata.

c.       Bagi Masyarakat Umum
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memberikan informasi yang luas mengenai Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.

H.    Kajian Pustaka
       I.            INTERAKSI SOSIAL
a)      Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya. Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama
dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi
sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial.
Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana. Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang Hall juga menjelaskan aturan mengenai Waktu. Pada dimensin waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat.
b)     Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi
dua syarat (Soerjono Sukanto) yaitu: adanya kontak sosial, dan adanya komunikasi.
1.      Kontak Sosial
Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum yang berarti bersama-sama dan tango yang berarti menyentuh. Jadi secara harfiah kontak adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan
badaniah, karena orang dapat mengadakan hubungan tanpa harus menyentuhnya,
seperti misalnya dengan cara berbicara dengan orang yang bersangkutan. Dengan
berkembangnya teknologi dewasa ini, orang-orang dapat berhubungan satu sama
lain dengan melalui telepon, telegraf, radio, dan yang lainnya yang tidak perlu
memerlukan sentuhan badaniah.
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk (Soerjono Soekanto :
59) yaitu sebagai berikut :
·         Antara orang perorangan
Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaankebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui komunikasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana dia menjadi anggota.
·         Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau
sebaliknya
Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang merasakna bahwa
tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat.
·         Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Umpamanya adalah dua partai politik yang bekerja sama untuk mengalahkan partai politik lainnya.
Kontak sosial memiliki beberapa sifat, yaitu kontal sosial positif dan kontak sosial negative. Kontak sosial positif adalah kontak sosial yang mengarah
pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negative mengarah kepada suatu
pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan kontak sosial. Selain itu kontak sosial juga memiliki sifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, sebaliknya kontak yang sekunder memerlukan suatu perantara.

2.      Komunikasi
Komunikasi adalah bahwa seseorang yang memberi tafsiran kepada orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan. Dengan adanya komunikasi sikap dan perasaan kelompok dapat diketahui olek kelompok lain aatau orang lain. Hal ini kemudain merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.
Dalam komunikasi kemungkinan sekali terjadi berbagai macam penafsiran terhadap tingkah laku orang lain. Seulas senyum misalnya, dapat ditafsirkan sebagai keramah tamahan, sikap bersahabat atau bahkan sebagai sikap sinis dan sikap ingin menunjukan kemenangan. Dengan demikian komunikasi memungkinkan kerja sama antar perorangan dan atau antar kelompok. Tetapi disamping itu juga komunikasi bisa menghasilkan pertikaian yangterjadi karena
salah paham yang masing-masing tidak mau mengalah.

c)      Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

1.      Proses Asosiatif (Processes of Association)
a.       Kerja Sama (Cooperation)
Beberapa sosiolog menganggap bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Sosiolog lain menganggap bahwa kerja sama merupakan proses utama. Golongan terakhir tersebut memahamkan kerja sama untuk menggambarkan sebagian besar bentuk-bentuk interaksi sosial atas dasar bahwa segala macam bentuk inetarksi tersebut dapat dikembalikan kepada kerja sama. Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk dan pola-pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok
manusia. Kebiasaan-kebiasaan dan sikap-sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak di dalam kehidupan keluarga atau kelompok-kelompok kekerabatan.
Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakkan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama, agar rencana kerja samanya dapat terleksana dengan baik. Kerja sama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya
(in-group-nya) dan kelompok lainnya (out-group-nya). Kerja sama mungkin
akan bertambah kuat apabila ada bahaya luar yang mengancam atau ada tindakan-tindakan luar yang menyinggung kesetiaan yang secara tradisional atau institusional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seseorang atau segolongan orang. Kerja sama dapat bersifat agresif apabila kelompok dalam jangka waktu yang lama mengalami kekecewaan sebagai akibat perasaan tidak puas, karena keinginan-keinginan pokoknya tak dapat terpenuhi oleh karena adanya rintangan-rintangan yang bersumber dari luar kelompok itu.
Sehubungan dengan pelaksanaan kerja sama, ada lima bentuk kerja sama,
yaitu:
1)      Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
2)      Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.
3)      Ko-optasi (Co-optation), yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilisasi organisasi yang bersangkutan.
4)      Koalisi (Coalition), yaitu kombinasi antara dua ornagisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu, karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi karena maksud utama adalah untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya alaha kooperatif.
5)      Joint-ventrue, yaitu kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pemboran minyak, pertambangan batu bara, perfilman, perhotelan, dll.

b.      Akomodasi (Accomodation)
1)      Pengertian
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk
pada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang-peorangan  atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan normanorma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan. Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu pengertian yang
digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya. Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan
pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:
a)      Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi disini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa antara kedua pendapat tersebut, agar menghasilkan suatu pola yang baru.
b)      Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.
c)      Untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompokkelompok sosial yang hidupnya terpisah sebagai akibat faktorfaktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem kasta.
d)     Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah.

2)      Bentuk-bentuk akomodasi
a)      Coercion, adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan. Coercion merupakan bentuk akomodasi, dimana salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah bila dibandingkan dengan pihak lawan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fisik (langsung), maupun psikologis (tidak langsung).
b)      Compromise, adalah suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Sikap dasar untuk dapat melaksanakan compromise adalah bahwa salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya dan begitu pula sebaliknya.
c)      Arbitration, merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh suatu badan yang berkedudukan lebih tinggi dari pihak-pihak bertentangan.
d)     Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. Tugas pihak ketiga tersebut adalah mengusahakan suatu penyelesaian secara damai. Kedudukan pihak ketiga hanyalah sebagai penasihat belaka, dia tidak berwenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan tersebut.
e)      Conciliation, adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama. Conciliation bersifat lebih lunak daripada coercion dan membuka kesempatan bagi pihak-pihak yang bersangkutan untuk mengadakan asimilasi.
f)       Toleration, juga sering disebut sebagai tolerant-participation. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya. Kadang-kadang toleration timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan, ini disebabkan karena adanya watak orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari suatu perselisihan.
g)      Stalemate, merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Hal ini disebabkan oleh karena kedua belah pihak sudah tidak ada kemungkinan lagi baik untuk maju maupun untuk mundur.
h)      Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

3)      Hasil-hasil akomodasi
a)      Akomodasi, dan integrasi masyarakat, telah berbuat banyak untuk menghindari masyarakat dari benih-benih perentangan latent yang akan melahirkan pertentangan baru.
b)      Menekan oposisi. Seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu demi kerugian pihak lain.
c)      Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda.
d)     Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah.
e)      Perubahan-perubahan dalam kedudukan.
f)       Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi.

c.       Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengann adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usahausaha
untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Secara singkat, proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walau kadangkala bersifat emosional, dengan tujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling sedikit mencapai integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan. Proses asimilasi timbul bila ada:
·         Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.
·         Orang perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama.
·         Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah:
·         Toleransi
·         Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi
·         Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
·         Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
·         Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
·         Perkawinan campur (amalgamation)
·         Adanya musuh bersama di luar.

Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi
adalah:
·         Terisolasi kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.
·         Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.
·         Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
·         Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
·         Perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah.
·         In-group feeling yang kuat.
·         Golongan minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa.
·         Perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi

2.      Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, persis
halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun
bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan system social masyarakat
bersangkutan. Apakah suatu masyarakat lebih menekankan pada salah satu bentuk
oposisi, atau lebih menghargai kerja sama, hal itu tergantung pada unsure-unsur
kebudayaan terutama yang menyangkut system nilai, struktur masayarakat dan
system sosialnya. Factor yang paling menentukan adalah system nilai masyarakat
tersebut. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawanseseoran atau
sekelompok manusia, untuk mencapai tujuan tertentu. Terbatasnya makanan,
tempat tinggal serta lain-lain factor telah melahirkan beberapa bentuk kerja sama
dan oposisi. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk
tetap hidup (struggle for existence). Perlu dijelaskan bahwa pengertian struggle
for existence juga dipakai untuk menunjuk kepada suatu keadaan di mana manusia yang satu tergantung pada kehidupan manusia yang lainnya, keadaan mana menimbulkan kerja sama untuk dapat tetap hidup. Perjuangan ini mengarah pada paling sedikit tiga hal yaitu perjuangan manusia melawan sesame, perjuangan manusia melawan makhluk-makhluk jenis lain serta perjuangan manusia melawan alam.
Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses
yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :
a.       Persaingan (competition)
b.      Kontravensi (contravention)
c.       Pertentangan atau pertikaian (conflict)

a.       Persaingan (competition)
Adalah suatu proses social, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian public atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Ada beberapa bentuk persaingan, di antaranya :
1)      Persaingan ekonomi. Timbul karena terbatasnya persediaan apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen.
2)      Persaingan kebudayaan. Menyangkut persaingan kebudayaan, keagamaan, lembaga kemasyarakatan seperti pendidikan, dan sebagainya.
3)      Persaingan kedudukan dan peranan. Di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan-keingian untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan yang terpandang.
4)      Persaingan ras. Perbedaan ras baik karena perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut dan sebagainya, hanya merupakan suatu perlambang kesadaran dan sikap atas perbedaanperbedaan dalam kebudayaan.

Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat memiliki beberapa fungsi,
antara lain :
1)      Menyalurkan keinginan-keinginan individu ata u kelompok yang bersifat kompetitif
2)      Sebagai jalan di mana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.
3)      Merupakan alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan social
4)      Alat untuk menyaring para warga golongan karya (fungsional) yang akhirnya akan menghaslkan pembagian kerja yang efektif.

Hasil suatu persaingan terkait erat dengan berbagai factor, antara lain :
·         Kepribadian seseorang
·         Kemajuan masyarakat
·         Solidaritas kelompok
·         disorganisasi

b.      Kontravensi (contravention)
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses social yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian.
1)      Bentuk-bentuk kontravensi menurut Leopold von Wiese, dan Howard Becker, ada 5, yaitu :
a.       Yang umum meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguan-gangguan, perbuatan kekerasan, dan mengacaukan rencana pihak lain.
b.      Yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di depan umum, memaki melalui selembaran surat, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain, dan sebagainya.
c.       Yang intensif mencakup penghasutan, menyebarkan desasdesus, mengecewakan pihak lain, dsb.
d.      Yang rahasia, seperti mengumumkan rahasia pihak lain, perbuatan khianat, dll.
e.       Yang taktis, misalnya mengejutkan lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lain, seperti dalam kampanye parpol dalam pemilihan umum.

2)      Tipe-tipe Kontravensi
Menurut von Wiese dan Becker terdapat tiga tipe umum kontravensi yaitu kontravensi generasi masyarakat 9 bentokan antara generasi muda dengan tua karena perbedaan latar belakang pendidikan, usia dan pengalaman), kontravensi yang menyangkut seks (hubungan suami dengan istri dalam keluarga) dan kontravensi parlementer (hubungan antara golongan mayoritas dengan minoritas dalam masyarakat baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga-lembaga legislative, keagamaan, pendidikan, dan seterusnya). Selain tipe-tipe umum tersebut ada ada pula beberapa kontravensi yang sebenarnya terletak di antara kontravensi dan pertentangan atau pertikaian,yang dimasukkan ke dalam kategori kontravensi, yaitu :
·         Kontravensi antar masyarakat
·         Antagonism keagamaan
·         Kontravensi intelektual
·         Oposisis moral

Kontravensi, apabila dibandingkan dengan persaingan dan pertentangan bersifat agak tertutup atau rahasia.
c.       Pertentangan atau pertikaian (conflict)
Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses social di mana individu
atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.
Peyebab terjadinya pertentangan, yaitu :
·         Perbedaan individu-individu
·         Perbedaan kebudayaan
·         Perbedaan kepentingan
·         Perbedaan sosial
Pertentangan-pertentangan yang menyangkut suatu tujuan, nilai atau kepentingan, sepanjang tidak berlawanan dengan pola-pola hubungan social di dalam srtuktur social tertentu, maka pertentangan-pertentangan tersebut bersifat positif. Masyarakat biasanya mempunyai alat-alat tertentu untuk menyalurkan benih-benih permusuhan, alat tersebut dalam ilmu sosiologi dinamakan safety-valve institutions yang menyediaka objek-objek tertentu yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak yang bertikai ke arah lain.
Bentuk-bentuk pertentangan antara lain :
·         Pertentengan pribadi
·         Pertentangan rasial
·         Pertentangan antara kelas-kelas social, umumnya disebabkan oleh karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan.
·         Pertentangan politik
·         Pertentangan yang bersifat internasional.

Akibat dari bentuk-bentuk pertentangan adalah sebagai berikut :
1)      Bertambahnya solidaritas “in-group” atau malah sebaliknya yaitu terjadi goyah dan retaknya persatuan kelompok
2)      Perubahan kepribadian
3)      Akomodasi, dominasi dan takluknya satu pihak tertentu

d)     Jenis-jenis Interaksi Sosial
Ada tiga jenis interaksi sosial, yaitu:
1.      Interaksi antara Individu dan Individu.
Pada saat dua individu bertemu, interaksi sosial sudah mulai terjadi. Walaupun kedua individu itu tidak melakukan kegiatan apa-apa, namun sebenarnya interaksi sosial telah terjadi apabila masing-masing pihak sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam diri masing-masing. Hal ini sangat dimungkinkan oleh faktor-faktor tertentu, seperti bau minyak wangi atau bau keringat yang menyengat, bunyi sepatu ketika sedang berjalan dan hal lain yang bisa mengundang reaksi orang lain.

2.      Interaksi antara Kelompok dan Kelompok.
Interaksi jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu kesatuan bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Contohnya, permusuhan antara Indonesia dengan Belanda pada zaman perang fisik.

3.      Interaksi antara Individu dan Kelompok.
Bentuk interaksi di sini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Interaksi tersebut lebih mencolok manakala terjadi perbenturan antara kepentingan perorangan dan kepentingan kelompok.

e)      Ciri-ciri Interaksi Sosial
Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang
2.      Ada komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol-simbol
3.      Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedan berlangsung
4.      Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat.

Tidak semua tindakan merupakan interaksi. Hakikat interaksi terletak
pada kesadaran mengarahkan tindakan pada orang lain. Harus ada orientasi timbal-balik antara pihak-pihak yang bersangkutan, tanpa menghiraukan isi perbuatannya: cinta atau benci, kesetiaan atau pengkhianatan, maksud melukai
atau menolong.

f)       Faktor-faktor Interaksi Sosial
Kelangsungan interaksi sosial, sekalipun dalam bentuknya yang sederhana, ternyata merupakan proses yang kompleks, tetapi padanya dapat kita beda-bedakan beberapa faktor yang mendasarinys, baik secara tunggal maupun
bergabung, yaitu (vide Bonner, Social Psychology, no. 3):
1.      Faktor Imitasi
Gabriel Tarde beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini ternyata berat sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil. Misalnya bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan mengimitasi penggunaannya dari orang lain. Lebih jauh, tidak hanya berbicara yang merupakan alat komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya untuk menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya, tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih, cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara, dan lain-lain. Selain itu, pada lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian individu, imitasi mempunyai peranannya, sebab mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat merangsang perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatanperbuatan yang baik.
Peranan imitasi dalam interaksi sosialjuga mempunyai segi-segi yang negatif. Yaitu, apabila hal-hal yang diimitasi itu mungkinlah salah atau secara moral dan yuridis harus ditolak. Apabila contoh demikian diimitasi orang banyak,
proses imitasi itu dapat menimbulkan terjadinya kesalahan kolektif yang
meliputi jumlah serba besar. Selain itu, adanya proses imitasi dalam interaksi sosial dapat menimbulkan kebiasaan di mana orang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, seperti yang berlangsung juga pada faktor sugesti. Dengan kata lain, adanya peranan imitasi dalam interaksi sosial dapat memajukan gejala-gejala kebiasaan
malas berpikir kritis pada individu manusia yang mendangkalkan kehidupannya.
Imitasi bukan merupakan dasar pokok dari semua interaksi sosial seperti
yang diuraikan oleh Gabriel tarde, melainkan merupakan suatu segi dari proses interaksi sosial, yang menerangkan mengapa dan bagaimana dapat terjadi keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku di antara orang banyak.



2.      Faktor Sugesti
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial hampir sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu orang yang satu mengikuti
sesuatu di luar dirinya; sedangkan pada sugesti, seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Secara garis besar, terdapat beberapa keadaan tertentu serta syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:
a.       Sugesti karena hambatan berpikir
Dalam proses sugesti terjadi gejala bahwa orang yang dikenainya mengambil alih pandangan-pandangan dari orang lain tanpa memberinya pertimbangn-pertimbangan kritik terlebih dahulu. Orang yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan orang lain. Hal ini tentu lebih mudah terjadi apabila ia – ketika terkena sugesti – berada dalam keadaan ketika cara-cara berpikir kritis itu sudah agak terkendala. Hal ini juga dapat terjadi – misalnya – apabila orang itu
sudah lelah berpikir, tetapi juga apabila proses berpikir secara itu dikurangi dayanya karena sedang mangalami rangsangan-rangsangan emosional. Misalnya: Rapat-rapat Partai Nazi atau rapat-rapat raksasa seringkali diadakan pada malam hari ketika orang sudah cape dari pekerjaannya. Selanjutnya mereka pun senantiasa memasukkan dalam acara rapat-rapat itu hal-hal yang menarik perhatian, merangsang emosi dan kekaguman sehingga mudah terjadi sugesti kepada orang banyak itu.
b.      Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah (disosiasi)
Selain dari keadaan ketika pikiran kita dihambat karean kelelahan atau
karena rangsangan emosional, sugesti itu pun mudah terjadi pada diri seseorang apabila ia mengalami disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan terpecah-belah. Hal ini dapat terjadi – misalnya – apabila orang yangbersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya. Apabila orang menjadi bingung, maka ia lebih mudah terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu. Keadaan semacam ini dapat pula menerangkan mengapa dalam zaman modern ini orang-orang yang biasanya berobat kepada dokter juga mendatangi dukun untuk memperoleh sugestinya yang dapat membantu orang yang bersangkutan mengatasi kesulitan-kesulitan jiwanya.
c.       Sugesti karena otoritas atau prestise
Dalam hal ini, orang cenderung menerima pandangan-pandangan atau sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap tersebut dimiliki oleh para ahli dalam bidangnya sehingga dianggap otoritas pada bidang tersebut atau memiliki prestise sosial yang tinggi.
d.      Sugesti karena mayoritas
Dalam hal ini, orang lebih cenderung akan menerima suatu pandangan atau ucapan apabila ucapan itu didukung oleh mayoritas, oleh sebagian besar dari golongannya, kelompknya atau masyarakatnya.
e.       Sugesti karena ”will to believe
Terdapat pendapat bahwa sugesti justru membuat sadar akan adanya sikap-sikap dan pandangn-pandangan tertentu pada orang-orang. Dengan demikian yang terjadi dalam sugesti itu adalah diterimanya suatu sikap-pandangan tertentu karena sikap-pandangan itu sebenarnya sudah tersapat padanya tetapi dalam kedaan terpendam. Dalam hal ini, isi sugesti akan diterima tanpa pertimbangan lebih lanjut karena pada diri pribadi orang yang bersangkutan sudah terdapat suatu kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-hal disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya.

3.      Fakor Identifikasi
Identifikasi adalah sebuah istilah dari psikologi Sigmund Freud. Istilah identifikasi timbul dalam uraian Freud mengenai cara-cara seorang anak belajar norma-norma sosial dari orang tuanya. Dalam garis besarnya, anak itu belajar menyadari bahwa dalam kehidupan terdapat norma-norma dan peraturan-peraturan yang sebaiknya dipenuhi dan ia pun mempelajarinya yaitu dengan dua cara utama.
Pertama ia mempelajarinya karena didikan orangtuanya yang menghargai
tingkah laku wajar yang memenuhi cita-cita tertentu dan menghukum tingkah laku yang melanggar norma-normanya. Lambat laun anak itu memperoleh pengetahuan mengenai apa yang disebut perbuatan yang baik dan apa yang disebut perbuatan yang tidak baik melalui didikan dari orangtuanya. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan seorang  lain. Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi anak dan tidak hanya merupakan kecenderungan untuk menjadi seperti seseorang secara lahiriah saja, tetapi justru secara batin. Artinya, anak itu secara tidak sadar mengambil alih sikap-sikap orangtua yang diidentifikasinya yang dapat ia pahami norma-norma dan pedoman-pedoman tingkah lakunya sejauh kemampuan yang ada pada anak itu.
Sebenarnya, manusia ketika ia masih kekurangan akan norma-norma, sikapsikap, cita-cita, atau pedoman-pedoman tingkah laku dalam bermacammacam situasi dalam kehidupannya, akan melakukan identifikasi kepada orang-orang yang dianggapnya tokoh pada lapangan kehidupan tempat ia masih kekurangan pegangan. Demikianlah, manusia itu terus-menerus melengkapi sistem norma dan cita-citanya itu, terutama dalam suatu masyarakat yang berubah-ubah dan yang situasi-situasi kehidupannya serba ragam.
Ikatan yang terjadi antara orang yang mengidentifikasi dan orang tempat identifikasi merupakan ikatan batin yang lebih mendalam daripada ikatan antara orang yang saling mengimitasi tingkah lakunya. Di samping itu, imitasi dapat berlangsung antara orang-orang yang tidak saling kenal, sedangkan orang tempat kita mengidentifikasi itu dinilai terlebih dahulu dengan cukup teliti (dengan perasaan) sebelum kita mengidentifikasi diri dengan dia, yang bukan merupakan proses rasional dan sadar, melainkan irasional dan berlangsung di bawah taraf kesadaran kita.

4.      Faktor Simpati
Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses identifikasi. Akan tetapi, berbeda dengan identifikasi, timbulnua simpati itu merupakan proses yang sadar bagi manusia yang merasa simpati terhadap orang lain. Peranan simpati cukup nyata dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih. Patut ditambahkan bahwa simpati dapat pula berkembang perlahan-lahan di samping simpati yang timbul dengan tiba-tiba. Gejala identifikasi dan simpati itu sebenarnya sudah berdekatan. Akan tetapi, dalam hal simpati yang timbal-balik itu, akan dihasilkan suatu hubungan kerja sama di mana seseorang ingin lebih mengerti orang lain sedemikian jauhnya sehingga ia dapat merasa berpikir dan bertingkah laku seakan-akan ia adalah orang lain itu. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan di mana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar daripadanya karena yang lain itu dianggapnya sebagai ideal. Jadi, pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin bekerja sama dengan orang lain, sedangkan pada identifikasi dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejaknya, ingin mencontoh ingin belajar dari orang lain yang dianggapnya sebagai ideal. Hubungan simpati menghendaki hubungan kerja sama antara dua atau lebih orang yang setaraf. Hubungan identifikasi hanya   menghendaki bahwa yangsatu ingin menjadi seperti yang lain dalam sifat-sifat yang dikaguminya. Simpati bermaksud kerja sama, identifikasi bermaksud belajar.

    II.            Perilaku Merokok

a)      Pengertian Perilaku Merokok
Kegiatan merokok sudah di kenal sejak zaman dulu. Pada awalnya kebanyakan orang menghisap tembakau dengan menggunakan pipa. Masyarakat
Timur (Eastern Societies) menggunakan air untuk mengurangi asap tembakau
sebelum diinhalasi. Pada tahun 1840-an barulah dikenal rokok, tetapi belum memiliki dampak dalam pemasaran tembakau. Mendekati tahun 1881 mulai terjadi produksi rokok secara besar-besaran dengan bantuan mesin. Melalui reklame, rokok menjadi terkenal dan pada tahun 1920 sudah tersebar ke seluruh dunia. Maka merokok saat ini merupakan suatu kebiasaan yang dapat dilakukan di manapun, kapanpun dan mampu memberikan kenikmatan bagi si perokok. Bila telah kecanduan, sangatlah susah untuk menghentikan kebiasaan merokok (Perwitasari,2006).
Pada hakekatnya merokok adalah menghisap rokok, sedangkan rokok adalah gulungan tembakau yang dibungkus oleh daun nipah atau kertas (Poerwadarminta, 1983). Sedangkan menurut Aritonang (dalam Perwitasari, 2006) merokok adalah perilaku yang komplek, karena merupakan hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi psikologis, dan keadaan fisiologis. Perilaku sendiri adalah setiap tindakan manusia yang dapat dilihat (Kartono, 2003). Sedangkan pengertian perilaku dalam arti luas adalah mencakup segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang. Dalam pengertian sempit, perilaku dapat dirumuskan hanya mencakup reaksi yang dapat diamati secara umum atau objektif
(Chaplin, 2002).
Perilaku merokok seseorang secara keseluruhan dapat dilihat dari jumlah
rokok yang dihisapnya. Seberapa banyak seseorang merokok dapat diketahui melalui intensitasnya, dimana menurut Kartono (2003) intensitas adalah besar atau kekuatan untuk suatu tingkah laku. Maka perilaku merokok seseorang dapat dikatakan tinggi maupun rendah yang dapat diketahui dari intensitas merokoknya yaitu banyaknya seseorang dalam merokok. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah suatu kegiatan atau aktivitas membakar rokok dan kemudian menghisapnya dan menghembuskannya keluar dan dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya.

b)     Tipe-tipe Perokok
Menurut Mu’tadin (dalam www.e-psikologi.com) tipe-tipe perokok yaitu:
a.       Perokok sangat berat adalah bila mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi.
b.      Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 - 30 menit.
c.       Perokok sedang menghabiskan rokok 11 – 21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi.
d. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.

Tipe perokok (Sitepoe dalam Perwitasari, 2006) yaitu :
a. Perokok ringan, merokok 1-10 batang sehari.
b. Perokok sedang, merokok 11-20 batang sehari.
c. Perokok berat, merokok lebih dari 24 batang sehari.

Tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory (Tomkins dikutip Mu’tadin dalam www.e-psikologi.com) adalah:
a.       Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Menurut Green tiga sub tipe ini adalah:
1)      Pleasure relaxation, adalah perilaku merokok untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
2)      Stimulation to pick them up adalah perilaku merokok yang dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
3)      Pleasure of handling the cigarette adalah kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api.
b.      Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat.
c.       Perilaku merokok yang adiktif (psychological addiction) adalah perilaku dengan menambahkan dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
d.      Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin atau tanpa dipikirkan dan tanpa disadari.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan tipe perokok dapat dibedakan menjadi dua yaitu berdasarkan intensitas merokok yang dilihat dari banyaknya jumlah rokok yang dihisap dalam satu hari dan berdasarkan keadaan yang dialami perokok.

c)      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok
Perilaku merokok merupakan perilaku yang berbahaya, namun masih banyak orang yang melakukannya termasuk wanita. Menurut Levy (dalam Nasution, 2007) setiap individu mempunyai kebiasaan merokok yang berbeda dan biasanya disesuaikan dengan tujuan mereka merokok. Lewin (dalam Komasari dan Helmi, 2000) perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan. Mu’tadin (dalam Aula, 2010) mengemukakan alasan seseorang merokok, diantaranya:
a.       Pengaruh orang tua
Menurut Baer dan Corado, individu perokok adalah individu yang berasal dari keluarga tidak bahagia, dimana orang tua tidak memperhatikan anak-anaknya
dibandingkan dengan individu yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang
bahagia. Perilaku merokok lebih banyak didapati pada individu yang tinggal dengan satu orang tua (Single Parent). Individu berperilaku merokok apabila ibu mereka merokok dibandingkan ayah mereka yang merokok. Hal ini terlihat pada wanita.
b.      Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan semakin banyak individu merokok maka semakin banyak teman-teman individu itu yang merokok, begitu pula sebaliknya.
c.       Faktor kepribadian
Individu mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan dari rasa sakit atau kebosanan.
d.      Pengaruh iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour membuat seseorang seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku yang ada di iklan tersebut.
Pendapat lain dikemukakan oleh Hansen (dalam Nasution, 2007) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok, yaitu :
a.       Faktor Biologis
Banyak penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting pada ketergantungan merokok. Pendapat ini didukung Aditama (1992) yang mengatakn nikotin dalam darah perokok cukup tinggi.
b.      Faktor Psikologis
Merokok dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat
memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga bagi individu yang sering
bergaul dengan orang lain, perilaku merokok sulit dihindari.
c.       Faktor Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap, kepercayaan, dan perhatian individu pada perokok. Seseorang berperilaku merokok dengan memperhatikan lingkungan sosialnya.
d.      Faktor Demografis
Faktor ini meliputi umur dan jenis kelamin. Orang yang merokok pada usia dewasa semakin banyak (Smet, 1994) akan tetapi pengaruh jenis kelamin zaman sekarang sudah tidak terlalu berperan karena baik pria maupun wanita sekarang sudah merokok.
e.       Faktor Sosial – Kultural
Kebiasaan budaya, kelas sosial, tingkat pendidikan, dna gengsi pekerjaan akan mempengaruhi perilaku merokok pada individu (Smet, 1994).
f.       Faktor Sosial – Politik
Menambahkan kesadaran umum berakibat pada langkah-langkah politik yang bersifat melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok dan usaha melancarkan    kampanye-kampanye promosi kesehatan untuk mengurangi perilaku merokok. Merokok menjadi masalah yang bertambah besar bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia (Smet, 1994). Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok yaitu faktor dari dalam diri individu dan juga dari lingkungan.

d)     Dampak Merokok
a.      Dampak merokok bagi kesehatan
Menurut studi prospektif yang dilakukan Rosenman timbulnya penyakit
jantung koroner lebih tinggi 50 % bagi individu yang merokok kira-kira 12 batang sehari dan 200 % bagi individu yang merokok lebih dari 12 batang sehari (Sarafino dalam Perwitasari, 2006). Asap rokok mengandung nikotin yang merupakan salah satu bahan kimia berminyak yang tidak berwarna dan salah satu racun yang cukup keras. Selain itu di dalam asap rokok terdapat karbon monoksida, amonia, dan butan (Amstrong, 1992). Efek toleran yang disebabkan oleh nikotin sesungguhnya relatif ringan, tetapi sifat adiktifnya dapat menyebabkan tubuh tergantung dan termanifestasi dalam bentuk pusing-pusing, mudah gugup, lesu, sakit kepala, dan perasaan cemas (Theodorus dalam Perwitasari, 2006). Berdasarkan “Teori Dampak Merokok”, nikotin dapat memacu jantung menyebabkan relaksasi pada otot-otot skeleton. Secara subyektif, nikotin memiliki kapasitas berlawanan untuk memproduksi rasa ketergantungan dan relaksasi serentak (Taylor, 1995).
Merokok memiliki efek sinergis pada faktor beresiko kesehatan lainnya,
yaitu memperluas dampak faktor resiko lainnya yang berkenaan dengan kesehatan (Dembroski & Mac Dougal dalam Shelly, 1995). Nikotin menghasilkan efek rangsang pada sistem jantung pada orang yang memiliki kerusakan jantung maupun yang tidak memiliki kerusakan jantung. Kematian mendadak pada perokok, dapat diakibatkan dari kurang baiknya aliran darah karena pembuluh darah yang berkerut dan terhalangi pada detak jantung yang dihasilkan oleh naiknya sirkulasi catecholamine (Benowitz dalam Shelly, 1995). Nikotin dapat juga menyebabkan kekejangan pembuluh arteri (vasopasm) pada orang yang menderita penyakit atherosclerotic (Pomerlau dalam Shelly, 1995). Merokok dapat menyebabkan penyakit jantung koroner karena ketika seseorang merokok denyut jantungnya semakin cepat, sedangkan pemasokan zat asam yang diperlukan oleh jantung kurang dari normal. Merokok dapat memicu terjadinya trombosis koroner atau serangan jantung karena bekuan darah yang menutup salah satu pembuluh darah utama yang memasok jantung, hal ini disebabkan oleh nikotin yang mengganggu irama jantung yang teratur dan membuat darah dalam tubuh menjadi lengket. Asap rokok ketika merokok dapat menyebabkan bronkitis (Amstrong, 1992). Merokok dapat memicu berbagai macam penyakit lainnya yang digolongkan bersama sebagai penyakit paru-paru kronis yang merintangi lebih 80 % kasus penyakit paru-paru di Amerika Serikat (Oskamp et al dalam Smet, 1994).
Bahaya merokok tidak dibatasi hanya pada perokok saja. Penelitian pada
perokok pasif yang berhubungan langsung dengan perokok menunjukkan bahwa
pasangan perokok, anggota keluarga perokok, dan rekan kerja memiliki resiko
terkena berbagai gangguan kesehatan (Marshal dalam Shelly, 1995)\

b.      Dampak merokok secara psikologis
Dalam (Sarafino, 1990) mengatakan akibat dari merokok adalah agar
seseorang dapat :
1)      Memperoleh perasaan positif seperti rasa santai, rasa senang, atau sebagai penambah semangat.
2)      Mengurangi perasaan yang negatif seperti rasa cemas atau rasa tegang.
3)      Sudah menjadi suatu kebiasaan.
4)      Sebagai obat dari ketergantungannya secara psikologis yang mengatur keadaan emosional, baik yang positif maupun yang negatif.
Seseorang merokok karena ketagihan nikotin dan tanpa nikotin hidupnya terasa hampa. Mereka menjadi terbiasa untuk merokok agar dapat merasa santai
dan mereka menikmatinya sewaktu merokok. Perilaku merokok telah menjadi
bagian dari perilaku sosial mereka, secara tidak langsung tanpa merokok mereka
akan terasa hampa dan merokok merupakan penopang bermasyarakat. Mereka
yang pemalu perlu mengambil tindakan tertentu untuk menutupi perasaan
malunya di hadapan orang lain dengan merokok (Amstrong, 1992).
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, merokok berdampak pada kesehatan dan psikologis seseorang. Merokok bagi kesehatan dapat menyebabkan kanker paru-paru, bronkitis, penyakit jantung, sedangkan dampak psikologis
merokok dapat menyebabkan ketergantungan secara psikis.
e)      Tempat Merokok
Menurut Mu`tadin (2002) tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku perokok. Berdasarkan tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas :
a.       Merokok di tempat-tempat umum atau ruang publik
1)      Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smooking area.
2)      Kelompok yang heterogen (merokok di tengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dan lain-lain). Mereka yang berani merokok ditempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar “racun” kepada orang lain yang tidak bersalah.

b.      Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi.
1)      Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat-tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam.
2)      Di toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tempat merokok dibedakan menjadi dua yaitu merokok di tempat umum dan tempat pribadi.

f)       Aspek-Aspek Perilaku Merokok
Menurut Kumalasari (dalam Triyono,2004) ada empat prediktor dalam
mengukur perilaku merokok seseorang, yaitu :
a.       Aktivitas merokok adalah seberapa sering individu melakukan aktivitas yang berhubungan dengan perilaku merokoknya (menghisap asap rokok, merasakan dan menikmatinya)
b.      Tempat merokok adalah dimana individu melakukan aktivitas merokoknya (rumah, sekolah, jalan, dan lain-lain).
c.       Waktu merokok adalah kapan (pada momen-momen apa saja) individu melakukan aktivitas merokoknya.
d.      Fungsi merokok, yaitu seberapa penting aktivitas merokok bagi diri si perokok dalam kehidupannya sehari-hari dan makna merokok itu sendiri bagi individu yang bersangkutan.
Menurut Rasmiyati (dalam Triyono, 2004) aspek-aspek perilaku merokok antara lain :
a.       Aktivitas individu yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, diukur melalui intensitas merokok, tempat merokok, waktu merokok dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Sikap permisif orangtua terhadap perilaku merokok yaitu bagaimana penerimaan keluarga terhadap perilaku merokok.
c.       Lingkungan teman sebaya, yatu sejauh mana individu mempunyai teman sebaya yang merokok dan memiliki penerimaan positif terhadap perilaku merokok.
d.      Kepuasan psikologis, yaitu efek yang diperoleh dari merokok yang berupa keyakinan dan perasaan yang menyenangkan.
Senada dengan pendapat diatas, menurut Aritonang (dalam Nasution, 2007) Perilaku merokok memiliki beberapa aspek sebagai berikut :
a.       Fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari Erickson mengatakan bahwa merokok berkaitan dengan masa mencari jati diri pada diri remaja. Silvans & Tomkins mengatakan bahwa fungsi merokok ditunjukkan dengan perasaan yang dialami si perokok, seperti perasaan yang positif maupun perasaan negatif.
b.      Intensitas merokok
Smet mengklasifikasikan perokok berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap, yaitu :
·         Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
·         Perokok sedang yang menghisap 5 – 14 batang rokok dalam sehari.
·         Perokok ringan yang menghisap 1 – 4 batang rokok dalam sehari.

c.       Tempat merokok
Menurut Mu`tadin tipe perokok berdasarkan tempat ada dua yaitu :
·         Merokok di tempat-tempat umum/ruang publik.
·         Merokok di tempat-tempat pribadi

d.      Waktu merokok
Menurut Presty individu yang merokok dipengaruhi oleh keadaan yang
dialaminya pada saat itu, misalnya ketika sedang berkumpul dengan teman, cuaca yang dingin, setelah dimarahi orangtua, dll. Berdasarkan uraian di atas, maka hasil analisis penulis menyimpulkan bahwa aspek perilaku merokok dalam penelitian ini yaitu:
a)      Fungsi merokok menyatakan perasaaan yang dialami perokok seperti perasaan positif. Hal ini merupakan gabungan dari pendapat Kumalasari, Rasmiyati dan Aritonang.
b)      Intensitas merokok yaitu seberapa banyak seseorang menghisap rokok. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasmiyati dan Aritonang.
c)      Tempat merokok, yaitu dimana saja individu melakukan aktivitas merokoknya. Ini merupakan pendapat Kumalasari dan Aritonang. d) Waktu merokok yaitu kapan saja individu melakukan aktivitas merokoknya. Keempat aspek tersebut merupakan gabungan antara pendapat Kumalasari, Rasmiyati dan Aritonang, namun saya lebih menitikberatkan pada pendapat Aritonang karena aspek-aspeknya lebih tepat untuk pengukuran skala psikologinya.

I.       Penelitian yang Relevan
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005-2006,  sekitar 78,8 persen kepala keluarga miskin di perkotaan adalah perokok. Dan ternyata disebutkan bahwa pengeluaran mingguan mereka untuk rokok adalah lebih besar yakni 22 persen daripada pengeluaran mereka untuk membeli beras yang hanya 19 persen. Dalam laporan tersebut adanya korelasi adanya potensi merokok yang lebih besar dikalangan masyrakat perkotaan, tidak menutup kemungkinna pula dengan mahasiswa yang merupakan bagian dari masyrakat kota dengan tingkat mobilitas tinggi.
Para peneliti dari New York University School of Medicine menganalisis lebih dari 1.500 anak muda berusia 12-19 tahun yang berpartisipasi dalam riset gizi dan nutrisi berskala nasional tahun 2005-2006. Peserta menjalani tes darah untuk mengukur tingkat zat kimia yang disebut continine, suatu bentuk pecahan dari nikotin. Para remaja ini juga diperiksa fungsi pendengarannya. Hasilnya menunjukkan, remaja yang terpapar asap rokok lebih cenderung memiliki gangguan pendengaran yang berhubungan dengan masalah koklea. Koklea merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak.
Dalam sebuah situs blog tentang rokok dikatakan bahwa rokok menimbulkan bahaya yang sangat merusak kesehatan. Rokok mengandung 4000 racun yang diantaranya adalah nikotin yang mengandung zat adiktif  dan tar yang merupakan zat karsinogenik. Mengenai “tulisan” dalam sampul rokok yang mengatakan “rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, hiportensi dan gangguan kehamilan dan janin”, itu karena hasil dari racun dan karsinogenik yang muncul dari hasil pembakaran tembakau itu sendiri.
Skripsi RYAN ALAN BUDIANTO pada tahun 2012 yang berjudul POLA KOMUNIKASI ANTARA ORANG TUA DENGAN MAHASISWI YANG KECANDUAN MEROKOK DI SURABAYA (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Antara Orang Tua Dengan Mahasiswi Yang Kecanduan Merokok di Surabaya). Dalam laporan ini dituliskan bahwa adanya pola ketidak harmonisan interaksi akibat dari merokok yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa.
J.      Kerangka Pikir
Dewasa ini banyak orang yang sudah sadar dan mengerti akan bahaya tentang rokok, baik itu perokok aktif maupun perokok pasif. Salah satu perilaku yang sangat merusak generasi muda saat ini adalah perilaku merokok. Efek dari rokok/tembakau dapat memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran , tingkah laku dan fungsi psikomotor (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri ,1979 : 33). Dampak yang ditimbulkan dari sebatang rokok pun sangat kompleks bahayanaya bagi tubuh manusia, tak jarang bahwa rokok juga disebut sebagai pembunuh perlahan bagi manusia. Dalam kasus interkasi yang kami pilih disisi lebih menekankan pada dampak merokok terhadap sensitivitas interkasi. Dimana sering kita temui dan lihat bahwa mahasiswa sekarang sudah mengerti dan sadar betul tentang bahya dari merokok, khususnya perokok pasif. Dampak yang ditimbulkan dari perokok pasif sendiri bahkan lebih berbahaya daripada perokok aktif. Kanker paru-paru hingga impotensi yang siap melirik disetiap asap rokok yang masuk kedalam tubuh manusia. Kami ingin menelisik dampak dari interaksi antara mahasiswa yang tidak merokok dengan mahasiswa yang sedang merokok apakah ada dampaknya terhadapa sensitivitas interksi. Karena yang kami temui dibanyak kasus-kasus dewasa ini banyak mahasiswa yang sedikit terganggu ataupun bahkan langsung menghindar ketika teman yang diajak mengobrol tersebut sedang merokok.



Text Box: Dampak kebiasaan merokok terhadap sensitivitas interaksi
Text Box: Interaksi mahasiswa perokok aktif dan pasif
 













Bagan 1. Kerangka Pikir
K.    Metode Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terkait dengan adanya Dampak Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Peneliti mengambil lokasi ini dikarenakan peneliti sering melihat banyak mahasiswa FIS UNY yang merokok diarea kampus dan bukan pada tempatnya, banyak yang merokok di teras-teras kampus, sehingga kami tertarik untuk mengadakan penelitian di lingkungan FIS UNY terkait dengan pengaruh kebiasaan merokok tersebut terhadap sensitivitas interaksi mahasiswa.

2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan, yaitu  mulai bula Mei hingga selesai pada bulan Juni 2014. Penelitian terhitung hingga terselesaikannya proposal ini.

3.      Bentuk Penelitian
Penelitian mengenai Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta ini memerlukan pendekatan penelitian yang nantinya mampu untuk menganalisis setiap kejadian, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya untuk kemudian dijelaskan serta diuraikan dalam sebuah data berupa kalimat ataupun kata-kata. Maka dari itu, penelitian ini menggunakan pendekatan secara kualitatif deskriptif.
Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2007), penelitian kualitatif didefinisikan sebagai sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Moleong menjelaskan dalam pendekatan kualitatif deskriptif, data yang dikumpulkan adalah data yang berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Data tersebut bisa diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, video, foto, dan dokumentasi pribadi. Hasil penelitian ini berupa kutipan dari transkrip hasil wawancara yang sebelumnya telah diolah dan kemudian disajikan secara deskriptif.
Dalam penelitian ini, tentu data yang akan diambil oleh peneliti bersumber dari pihak-pihak yang terkait dalam Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus dan Interaksi Mahasiswanya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Pengambilan data dilaksanakan dengan melakukan pengamatan setiap kegiatan dan tentunya dari hasil wawancara kepada mahasiswa perokok aktif, mahasiswa perokok pasif, serta dosen dan karyawan yang ada di lingkungan FIS UNY.

4.      Sumber Data Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara dan observasi untuk mencari dan mengumpulkan data yang kemudian akan diolah untuk mendeskripsikan tentang Kebiasaan Merokok di Lingkungan Kampus Terhadap Sensitivitas Interaksi Mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta atau dengan istilah lain yaitu menggunakan data primer.
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dimana data tersebut diambil langsung oleh peneliti kepada sumber secara langsung melalui responden. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/ audio tape, pengambilan foto dan film (Moleong, 2007: 157). Data diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Sumber data primer pada penelitian ini adalah melalui pengamatan secara langsung di Lingkungan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta dan dengan melalui wawancara kepada mahasiswa perokok aktif, mahasiswa perokok pasif, serta dosen dan karyawan. Sedangkan untuk data tambahan, peneliti mencari dan mendokumentasikan berbagai data dari sumber lain guna memperkaya data, baik itu melalui buku, foto, artikel, surat kabar, data statistik, dan lain sebagainya.

5.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2012: 224). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi:
a.    Observasi
Menurut W. Gulo (2004:116), observasi adalah metode pengumpulan data, dimana peneliti mencatat hasil informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Observasi melibatkan dua komponen, yaitu si pelaku observasi atau observer, dan obyek yang diobservasi atau observe. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi non pasrtisipan dimana peneliti hanya mengamati  secara langsung keadaan obyek, tetapi peneliti tidak aktif dan ikut terlibat langsung.
Beberapa hal yang menjadi obyek observasi dalam penelitian ini diantaranya mencakup keadaan geografis dan kehidupan sosial di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, serta kegiatan mahasiswa yang ada di lingkungan tersebut.
b.      Wawancara
Moleong (2007: 186) menjelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan, dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara secara umum terbagi menjadi dua, yaitu: wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur memiliki arti bahwa wawancara yang dilakukan dimana pewawancara telah menetapkan sendiri masalah-masalah yang akan diajukan sebagai pertanyaan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang memiliki ciri kurang diinterupsi dan arbiter. Wawancara tersebut digunakan untuk menemukan informasi yang bulan baku atau informasi tunggal (Moleong, 2007: 190).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara secara semi terstruktur. Maka sebelum melakukan wawancara, peneliti telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan diajukan kepada informan. Namun, pada pelaksanaannya nanti akan disesuaikan dengan keadaan responden.
c.       Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang memiliki arti barang-barang tertulis (Arikunto, 2002:135). Dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumentasi pendukung data-data penelitian yang dibutuhkan.
Dalam penelitian ini, pendukung data dalam hal tertulis atau dokumen diambil dari berbagai arsip-arsip, serta juga melalui berbagai warta berita.
d.      Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi yang sesuai dengan topik atau tema yang diteliti. Studi pustaka ini digunakan untuk menunjang kelengkapan data dalam penelitian dengan menggunakan sumber-sumber dari kepustakaan yang relevan.

6.      Instrumen Penelitian
Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument). Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif dapat dikatakan cukup rumit karena selain sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, menganalisis, penafsir data, peneliti tentu juga sebagai pelapor hasil penelitiannya tersebut (Moleong, 2007: 168). Instrumen sendiri menurut Arikunto (2002: 126) ialah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode. Karena dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, maka intrumen yang dibutuhkan antara lain yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara, tape recorder, kamera, serta alat tulis.

7.      Teknik Pemilihan Informan
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel dengan tujuan menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (Moleong, 2007:224). Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dari sivitas akademika FIS UNY.
Informan dalam penelitian ini mencakup perwakilan dari mahasiswa perokok aktif, mahasiswa perokok pasif. Adapun kriteria perokok aktif  yang didijadikan sebagai informan yaitu perokok aktif yang selalu merokok dalam lingkungan kampus dan dalam kegiatan yang ada di Lingkungan FIS UNY. Berikutnya, perokok pasif sebagai informan dalam penelitian ini dipilih dari mereka yang tidak pernah merokok di lingkungan FIS UNY.
8.      Validitas Data
Validitas data merupakan bagian penting dalam sebuah penelitian dimana dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh sang peneliti dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dalam pemeriksaan keabsahan data ini, peneliti menggunakan trianggulasi data.
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan atau valid tidaknya data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2007:330). Untuk tekniknya sendiri, dalam penelitian ini digunakan teknik trianggulasi dengan sumber.
Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Menurut Patton dalam Moleong (2007: 330) hal tersebut dapat dicapai melalui:
a.    Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
b.    Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
c.    Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d.   Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Dalam trianggulasi sumber ini dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh peneliti dari masing-masing informan. Informasi yang diperoleh dari para tokoh masyarakat nantinya akan dibandingkan dengan informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara kepada anggota sivitas akademik di FIS UNY. Perbandingan tersebut nantinya tentu akan dijadikan analisis mengenai kesamaan atau perbedaan-perbedaan informasi yang diperoleh peneliti.
9.      Teknik Analisis Data
Dalam teknik analisis data, terdapat empat komponen dimana keempat komponen tersebut merupakan proses siklus dan interaktif dalam sebuah penelitian. Keempat komponen tersebuat ialah:
a.    Pengumpulan Data
Data dikumpulkan oleh peneliti berupa data dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi yang dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek, yaitu deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi merupakan data alami yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dan dialami sendiri oleh peneliti (Miles dan Huberman, 1994: 15). Pengamatan juga mencakup data-data lainnya baik itu data verbal maupun nonverbal dari penelitian ini. Peneliti juga akan melakukan pencatatan terkait dengan adanya perilaku sensitivitas interaksi mahasiswa FIS UNY, terutama dalam proses kegiatan yang melibatkan mahasiswa perokok aktif dan pasif di fakultas ilmu sosial tersebut.
Catatan refleksi merupakan catatan yang membuat kesan, komentar, dan tafsiran dari peneliti tentang berbagai temuan yang dijumpai pada saat melakukan penelitian dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya. Untuk mendapatkan catatan ini, maka peneliti harus melakukan wawancara dengan berbagai informan (Miles dan Huberman, 1994: 16).
b.    Redusi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan/ penyederhanaan data-data yang diperoleh baik itu dari hasil wawancara, observasi, maupun dokumentasi yang didasarkan atas fokus permasalahan. Setelah melalui proses pemilihan data, maka akan ada data yang penting dan data yang tidak digunakan. Maka, kemudian data diolah dan disajikan dnegan bahasa maupun tulisan yang lebih ilmiah dan lebih bermakna (Miles dan Huberman, 1994: 16).
c.    Penyajian Data
Penyajian data adalah proses penampilan data dari semua hasil penelitian dalam bentuk paparan naratif representatif tabular termasuk dalam format matriks, grafis dan sebagainya, yang nantinya dapat mempermudah peneliti dalam melihat gambaran hasil penelitian karena dari banyaknya data dan informasi tersebut peneliti kesulitan dalam pengambilan kesimpulan dari hasil penelitian ini (Usman, 2009: 85). Data-data yang diperoleh perlu disajikan dalam format yang lebih sederhana sehingga peneliti mudah dalam menganalisisnya dan membuat tindakan berdasarkan pemahaman yang diperoleh dari penyajian data-data tersebut.
d.      Penyimpulan Data
Kesimpulan merupakan langkah akhir dalam pembuatan laporan penelitian. Penarikan kesimpilan adalah usaha guna mencari atau memahami makna, keteraturan pola-pola penjelasan, alur sebab akibat. Kesimpulan yang telah ditarik maka kemudian diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali dan melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang tepat. Selain itu, juga dapat dengan mendiskusikannya (Usman, 2009: 87).
Miles dan Huberman (1994: 20) menjelaskan bahwa pengambilan kesimpulan harus dilakukan secara teliti dan hati-hati agar kesimpulan yang diperoleh berkualitas dan sesuai dengan tujuan penelitian. Hal tersebut dilakukan agar data tersebut mempunyai validitas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kuat. Berikut adalah bagan analisis Miles dan Huberman:

Bagan 2. Komponen-komponen Analisis Data


L.     Daftar Pustaka
Gerungan, W. A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Husaini Usman. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta; Bumi Aksara
Miles dan Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta; Universitas Indonesia Press.
Moleong, L. 1997. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung; PT Remaja Rosdakarya
Sitorus, M. 2001. Berkenalan dengan Sosiologi Edisi Kedua Kelas 2 SMA. Bandung: Erlangga.
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sosiologi, Tim. 2003. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas 1 SMA. Jakarta: Yudhistira.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif dan R & D. Bandung; Alfabeta
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta; Rineka Cipta.
W. Gulo. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta; Grasindo











LAMPIRAN



1.      Pedoman Observasi
No.
Aspek yang Diamati
Keterangan
1.
Waktu observasi

2.
Lokasi

3.
Perilaku perokok aktif di kampus

4.
Perilaku perokok pasif dikampus

5.
Interaksi antara perokok pasif dan aktif

6.
Dampak kebiasaan merokok dikampus terhadap interaksi


2.      Pedoman Wawancara Mahasiswa FIS UNY
a.      Identitas
Nama                                    :
Usia                          :
Agama                      :
Tempat tinggal          :
Pendidikan                :
b.      Pedoman Pertanyaan perokok aktif
1)      Apakah anda seorang perokok?
2)      Kapan pertama kali anda merokok?
3)      Apakah keluarga ataupun lingkungan sekitar anda adalah perokok?
4)      Selain teman dan lingkungan apa sih yang mendorong anda untuk merokok?
5)      Pernahkah anda merokok di lingkungan kampus?
6)      Selain di area smoking, dimana lagi anda merokok? Pernahkah ditempat lain?
7)      Tahukah anda ada larangan merokok di kampus apalagi disembarang tempat selain area smoking?
8)      Jika anda mengetahui hal itu, mengapa masih merokok diarea kampus?
9)      Bagaimana rasanya jika anda tidak merokok?
10)   Pernahkah anda ditegur apa dimarahi teman anda  ketika merokok diarea kampus?
11)   Bagaimana reaksi teman - teman jika anda merokok disekitarnya?
12)   Menurut anda ketika anda merokok apakah itu menganggu interaksi anda dengan teman
13)   Pernahkah anda mempunyai keinginan untuk berhenti merokok?
14)   Menurut anda merokok itu salah apa tidak?
15)   Berapa banyak uang yang anda keluarkan untuk membeli rokok setiap harinya?

c.       Pedoman wawancara perokok pasif
1)      Apakah anda termasuk orang yang sadar akan kesehatan?
2)      Apakah anda termasuk orang yang mengerti tentang bahaya meroko?
3)      Apakah anda termasuk orang yang mudah bergaul?
4)      Apa reaksi anda saat teman berbincanng sedang merokok?
5)      Kenapa anda sensitive terhadap rokok?
6)      Apakah anda merasa bersalah jika berbincang dengan teman merokok, terus anda tinggalkan?
7)      Apa reaksi anda, saat melihat teman yang merokok terus anda tinggalkan?
8)      Bagaimana upaya anda saat teman yang merokok itu mendekati anda lagi untuk berbincang kembali?


SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel