join venture 1

deskripsi dan analisis interaksi masyarakat desa

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari manusia lain. Sebagai makhluk sosial, dalam menjalankan hidupnya manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta saling mengadakan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dalam suatu masyarakat baik perdesaan maupun perkotaan pasti terdapat suatu proses sosial. Proses sosial ini dapat berupa interaksi sosial, interaksi sosial ini merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Interaksi pasti terdapat di dalam masyarakat tidak terkecuali pada masyarakat desa yang mana mereka mempunyai ikatan batin yang kuat sehingga hubungan dalam bermasyarakat diantara mereka lebih erat. Sehingga dalam makalah ini kami akan membahas lebih lanjut mengenai hal ini.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana deskripsi dan analisis interaksi masyarakat desa ?
2.      Apa saja bentuk-bentuk interaksi sosial pada masyarakat desa ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui deskripsi dan analisis interaksi masyarakat desa.
2.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi sosial pada masyarakat desa.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Interaksi dan Analisis Interaksi Masyarakat Desa
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial terjadi apabila dalam masyarakat terjadi kontak sosial dan komunikasi. (Soerjono Soekanto: 2009 : 55).
Interaksi sosial merupakan dasar dari proses sosial dimana hanya akan terjadi apabila ada interaksi sosial.  Interaksi sosial apabila tidak dilanjutkan dengan hubungan timbal balik antara kedua belah pihak tidak akan terjadi proses sosial.
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat diamati apabila perorangan atau kelompok manusia saling bertemu. Proses social merupakan pengaruh timbal balik atau interaksi antara berbagai segi kehidupan bersama. Suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi syarat sebagai berikut : (Soerjono Soekanto: 2009: 58-61)
1.      Kontak Sosial (social contact)
Kontak sosial ini dapat terjadi secara langsung atau primer (bersentuhan atau face to face) tetapi dapat pula secara tidak langsung melalui perantara atau sekunder misalnya melalui telepon, surat, radio, dan sebagainya. Kontak social dapat berlangsung dalam tiga bentuk :
a.       Antara orang perorang.
b.      Antara orang perorang dengan suatu kelompok manusia.
c.       Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.



2.      Komunikasi
Komunikasi dapat diartikan bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perlakuan orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Koentjaraningrat (dalam Yayuk Yuliati, 2003 : 93) mengatakan bahwa proses dan interaksi di perdesaan dapat kita lihat dari kegiatan kerja atau mata pencaharian mereka, seperti tolong menolong, gotong royong, musyawarah dan jiwa musyawarah.
Masyarakat perdesaan ditandai dengan pemilikan ikatan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakatnya dimana ia hidup. Selain itu masyarakat desa selalu mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat. Ciri-ciri masyarakat perdesaan antara lain :
1.      Masyarakat perdesaan mempunyai hubungan yang mendalam dan erat.
2.      Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
3.      Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian.
4.      Masyarakat desa homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, idat istiadat dan sebagainya. (Yayuk Yuliati, 2003 : 93)
Bentuk-bentuk interaksi masyarakat desa yaitu interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi antara individu dengan individu dapat terlihat jika individu memberikan pengaruh ataupun rangsangan terhadap individu lainnya. Wujud interksi ini dapat terlihat misalnya dalam bentuk berjabat tangan , bercakap-cakap maupun bertengkar.
Interaksi antara individu dengan kelompok dapat terlihat misalnya seorang kepala desa sedang menyampaikan berpidato di depan warga desa, hal ini menunjukkan bahwa kepentingan individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.
Interaksi antara kelompok dengan kelompok diperdesaan misalnya pemuda di dusun X bertanding bekerjasama dengan pemuda di dusun Y untuk mengadakan acara bersama.
Dalam proses interaksi di perdesaan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Faktor tersebut yaitu fator imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Imitasi akan mendorong seseorang untuk selalu mematuhi peraturan dan nilai yang ada. Faktor sugesti merupakan proses seseorang yang akan mengikuti pandangan yang disampaikan oleh seseorang. Identifikasi merupakan kecenderungan seseorang untuk berperilaku sama dengan orang lain yang dianggap lebih atau digemari ( Yayuk Yuliati, 2003 : 107).
B.  Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Masyarakat Desa
Bentuk-bentuk interaksi yang terdapat diperdesaan meliputi:
1)     Assosiatif
            Suatu interaksi sosial yang asosiatif merupakan proses sosial yang menuju pada suatu kerja sama. Proses sosial asosiatif dibagi ke dalam bentuk khusus antara lain :
a.       Kerja sama
Bentuk dan pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok manusia. Kebiasaan-kebiasaan dan sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak di dalam kehidupan keluarga atau kelompok-kelompok kekerabatan, umumnya dapat ditemui pada masyarakat desa.
Adanya kerjasama disebabkan oleh adanya kesulitan seseorang untuk memenuhi semua keperluan hidupnya. Kerjasama merupakan proses sosial yang akan selalu melekat di masyarakat guna memenuhi kebutuhan seseorang yang tidak mungkin dipenuhi secara mandiri.
Dalam masyarakat desa, kerjasama bisa dikenal dengan istilah sambatan, gugur gunung, soyo dan lain-lain. Bentuk kerjasama ini pada intinya merupakan pola hubungan kerjasama antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan juga kelompok dengan kelompok.
Dalam sebuah masyarakat yang kompleks bentuk-bentuk kerjasama menurut Soerjono Soekanto (dalam Yayuk Yuliati 2003: 97) terdiri atas:
1)      Kerjasama spontan (Sontaneous cooperation)
              Kerjasama spontan merupakan bentuk kerjasama yang terjadi secara spontan dan serta merta  di masyarakat. Kerjasama ini biasanya tidak terkoordinasi dengan baik dan merupakan hasil dari kepedulian atau keadaan yang menuntut kerjasama yang mendadak. Misalnya: tetulung kematian, tetulung sakit.
2)      Kerjasama langsung (Directed Cooperation)
              Kerjasama ini merupakan kerjasama yang terjadi karena sebuah perintah atau aturan tertentu. Misalnya: buruh tani di perdesaan akan cenderung bekerjasama untuk dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Apabila beberapa orang bekerja pada sebidang lahan sawah yang dipersiapkan bagi tanaman padi, maka buruh tani akan membegi pada bagian pembajakan ada yang mencangkul, membersihkan rumput dan kotoran.
3)       Kerjasama kontrak (Contractual Cooperation)
              Kerjasama ini terjadi karena adanya perjanjian untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Biasanya bentuk kerjasama ini sangat rinci antara kewajiban dan tanggungjawab masing-masing. Misalnya: petani akan melakukan kerjasama kontrak dengan pabrik bajak atau pabrik peralatan lainnya. Selain itu antara buruh tani dengan majikan yang mana mereka mempunyai hak dan kewajiban masing-masing untuk memperoleh kepuasan yang diinginkan.
4)      Kerjasama tradisional
              Kerjasama tradisional merupakan bentuk kerjasama yang biasanya dikemas dalam aturan adat istiadat dan mempunyai konsekuensi secara adat pula.
      Timbulnya kerja sama menurut Charles H. Cooley (Soerjono Soekanto: 2009: 66) adalah apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama, dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerja sama.
      Pada masyarakat desa di Indonesia, bentuk kerja sama yang dapat ditemukan antara lain :
1)      Sistem tolong menolong
Tolong menolong dalam hal ini kompensasinya bukan bagian dari hasil pekerjaan, juga bukan upah, tetapi berupa tenaga bantuan. Tambahan tenaga bantuan dalam pekerjaan pertanian tidak disewa tetapi yang diminta dari sesama warga desa ialah pertolongan pekerjaan, yang oleh masyarakat umum di Indonesia disebut sebagai gotong royong.
Aktivitas-aktivitas tolong menolong itu hidup dalam berbagai macam bentuk masyarakat desa di Indonesia. Kecuali dalam pekerjaan pertanian, aktivitas tolong menolong itu tampak dalam banyak lapangan kehidupan masyarakat yang lain, misalnya dalam aktivitas tolong menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan untuk pekerjaan-pekerjaan kecil sekitar rumah dan pekarangan, seperti menggali sumur, mengganti dinding bilik rumah, dsb.
Aktivitas tolong menolong antara kaum kerabat (dan kadang-kadang beberapa tetangga yang paling dekat) dapat berupa tolong menolong untuk menyelenggarakan pesta sunat, perkawinan atau upacara adat lain seperti tujuh bulanan, kelahiran, pemberian nama, dsb. Ada juga suatu tipe aktivitas tolong menolong yang spontan dan tanpa pamrih untuk membantu secara spontan pada waktu seseorang penduduk desa mangalami kematian atau bencana.
Beberapa tipe bantu membantu atau tolong menolong tersebut di atas biasanya dibeda-bedakan dengan tajam oleh para warga desa. Beberapa tipe tolong menolong itu masing-masing juga mempunyai sebutan yang berbeda-beda di tiap-tiap daerah.
a)      Gotong royong
Di samping adat istiadat tolong menolong antara warga desa dalam berbagai macam lapangan aktivitas-aktivitas sosial baik yang berdasarkan hubungan tetangga, ataupun hubungan kerabatan atau lain-lain hubungan yang berdasarkan efisiensi dan sifat praktis, ada pula aktivitas-aktivitas kerja sama yang lain, yang  secara populer biasanya juga disebut gotong royong. Hal itu adalah aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga desa untuk menyelesaikan suatu projek tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum. Untuk membedakan dari aktivitas tolong menolong itu, ada baiknya aktivitas-aktivitas sosial tersebut kita sebut kerja bakti, atau kalau kita memakai istilah “gotong royong” maka sebaiknya aktivitas-aktivitas yang lain itu disebut secara konsekuen”tolong menolong”. Gotong royong digambarkan dengan istilah “gugur gunung” (bahasa Jawa) dan tolong menolong adalah “sambat sinambat”. Mengenai gotong royong kerja bakti, dibedakan antara lain kerjasama untuk projek-projek yang timbul dari inisiatif atau swadaya para warga sendiri dimana hal ini dihasilkan atas keputusan rapat-rapat desa sendiri dan dirasakan benar-benar sebagai suatu projek yang berguna, dikerjakan bersama dengan suka rela dan penuh semangat dan kerjasama untuk projek-projek yang dipaksakan dari atas. Bentuk projek semacam ini oleh masyarakat desa seringkali tidak dipahami gunanya, oleh warga desa dirasakan saja sebagai kewajiban-kewajiban rutin yang amat tidak bisa dihindari, kecuali dengan cara mewakilkan giliran mereka kepada orang lain dengan bayaran.
b)      Akomodasi (Accomodation)
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti menurut Soerjono Soekanto (2009: 68), yaitu : Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti keadaan adanya suatu kesinambungan (equilibrium) dalam interaksi antara individu dan kelompok sehubungan dengan norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Menurut Gillin dan Gillin menggambarkan akomodasi sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.
Menurut Soerjono Soekonto (2009: 73) tujuan dari akomodasi adalah untuk mengurangi pertentangan antara individu atau kelompok sebagai akibat perbedaan faham serta untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan (konflik sementara waktu). Akomodasi kadang-kadang diusahakan untuk memungkinkan kerja sama antara kelompok-kelompok yang hidup terpisah sebagai akibat dari bekerjanya faktor-faktor sosial, psikologis, dan kebudayaan.
Hasil dari akomodasi antara lain :
1.      Usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri daribentuk-bentuk pertentangan yang baru guna kepentingan integrasi masyarakat.
2.      Menekan oposisi.
3.      Koordinassi pelbagai kepribadian yang berbeda.
4.      Perubahan dari lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru.
5.      Perubahan-perubahan kedudukan.
6.      Membuka jalan kearah asimilasi.
Pada kehidupan masyarakat desa di Indonesia, musyawarah merupakan suatu bentuk proses akomodasi. Musyawarah adalah suatu gejala sosial yang ada dalam banyak masyarakat perdesaan umumnya dan khususnya di Indonesia. Artinya ialah, bahwa keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat-rapat tidak berdasarkan suatu mayoritas, yang menganut suatu pendirian yang tertentu, melainkan seluruh rapat, seolah-olah sebagai suatu badan. Hal ini tentu berarti bahwa baik pihak mayoritas maupun pihak minoritas mengurangi pendirian mereka masing-masing, sehingga bisa dekat-mendekati.unsur ini rupa-rupanya sudah ada sejak berabad-abad lamanya dalam masyarakat perdesaan di Indonesia.
Jiwa musyawarah merupakan suatu extensi dari jiwa gotong royong. Tidak hanya dalam rapat-rapat saja, tetapi terutama dalam seluruh kehidupan sosial, warga dari suatu masyarakat yang berjiwa gotong royong itu diharapkan supaya mau melepaskan sebagian dari pendapatnya agar bisa cocok atau mendekati pendapat umum dan supaya tidak ngotot membenarkan pendiriannya sendiri. Dalam sebuah masyarakat yang berjiwa gotong royong, ide musyawarah itu biasanya dilaksanakan dalam hal memecahkan pertengkaran-pertengkaran kecil atau besar, dan tampak dalam prinsip-prinsip dari hukum adatnya yang lebih bersifat mendamaikan semua pihak daripada mengalahkan atau memenangkan satu pihak.  (Sajogyo, dkk, 1987 : 43)
Proses-proses dissosiatif sering disebut sebagai oppositional processes atau proses oposisi di mana proses ini dapat dtemukan pada setiap masyarakat walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat yang bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebgai cara berjunag seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
c)      Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Asimilasi ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada orang perorangan maupun kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan asimilasi dan tujuan-tujuan bersama.
Asimilasi akan terjadi apabila ada suatu pendekatan antara kedua pihak, interaksi sosial tersebut tidak mengalami hambatan atau pembatasan, interaksinya bersifat primer juga dilakukan dalam frekuensi yang tinggi.
2)      Dissosiatif
Proses dissosiatif dibedakan dalam tiga bentuk yaitu:
a)      Persaingan atau competition
 Persaingan merupakan proses sosial di mana individu atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang menjadi perhatian public tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.
Persaingan mempunyai dua tipe umum, yaitu persaingan yang bersifat pribadi atau perseorangan dan persaingan yang bersifat tidak pribadi. Tipe persaingan yang bersifat pribadi (rivalry) secara langsung bersaing antar pribadi, misalnya untuk mendapatkan kedudukan dalam organisasi.
Tipe persaingan yang bersifat tidak pribadi dibagi menjadi 4 yaitu:
(1)   Persaingan di bidang ekonomi, yang timbul sebagai akibat terbatasnya persediaan apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen.
(2)   Persaingan kebudayaan, yang menyangkut persaingan di bidang agama, lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan lainnya.
(3)   Persaingan mendapatkan kedudukan dan peran dalam masyarakat, sesuai dengan keinginan perorangan atau kelompokyang memiliki kedudukan serta peran yang terpandang.
Contoh: pada masa desa tradisional kedudukan Lurah sangat dicari masyarakat, namun sekarang sebagai pegawai yang memiliki penghasilan besarlah yang banyak dicari masyarakat desa.
(4)   Persaingan perbedaan ras, yang sebenarnya persaingan di bidang kebudayaan hanya saja sifat-sifat fisik suatu rasmudah kelihatan dibandingkan dengan ciri-ciri kebudayaan lainnya. Misalnya ketika Afrika Selatan menerapkan Apharthied, maka orang-orang kulit putih lebih terhormat dibandingkan orang local yang berkulit gelap.
b)      Pertentangan atau konflik
Pertentangan atau konflik adalah suatu proses sosial di mana individu aatu kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lain yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.
Akar-akar pertentangan antara lain:
(1)   Perbedaan antara individu-individu, terutama perbedaan pendirian dan perasaan di antara mereka.
(2)   Perbedaan kebudayaan yang sedikit banyak akan mempengaruhi kepribadian seseorang dalam kebudayaan tersebut.
(3)   Perbedaan kepentingan baik, kepentingan ekonomi, politik, dan sebagainya.
(4)   Perubahan sosial, terutama yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang dapat menyebabkan munculnya golongan-golongan yang berbeda pendiriannya.
Bentuk-bentuk pertentangan:
(1)   Pertentangan pribadi, yang terjadi antara individu yang saling tidak menyukai.
(2)   Pertentangan antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang terjadi karena perbedaan kepentingan.
c)      Kontravensi
Kontravensi merupakan bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan.
Bentuk-bentuk kontravensi menurut Leopold von Wiese dan Howard Becer (1932) (dalam Soerjono Soenkanto. 2009 : 88) adalah:
(1)   Umum, meliputi penolakan, keengganan, perlawanan, protes, perbuatan kekerasan dan mengacaukan rencana pihak lain.
(2)   Sederhana, menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat atau selebaran, mencerca, memfitnah.
(3)   Intensif, meliputi penghasutan, menyebarkan desas-desus, mengecewakan pihak lain.
(4) Rahasia, seperti mengemukakan rahasia pihak lain.
(5) Taktis, sepertimengejutkan lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lain, provokasi, intimidasi, dan lain sebagainya.
        Salah satu tanda adanya kontravensi adalah sifat agak terutup atau rahasia dari pihak-pihak yang melakukan kontravensi. (Soerjono Seokanto. 2009 : 89)
        Analisis proses sosial dilakukan untuk mengetahui interaksi yang terjadi dalam masyarakat sehingga akan diketahui proses-proses sosial yang terjadi dalam msayarakat. Proses-proses sosial tersebut terjadi dalam masyarakat perdesaan di Indonesia. Peyelesaian persoalan dalam interaksi sosial masyarakat desa melalaui dua pendektan pada masyarakat desa yang berbeda, yaitu:
(1)   Pada masayarakat desa yang tradisional yang hanya mengenal hukum adat, dilakukan dengan cara damai maupun menggunkan hukum adat desa. Sistem penyelesaian dan sanksi dilakukan oleh pemimpin desa adat atau orang yang dituakan untuk menyelesaikan kasus tersebut. Hukum adat adalah hukum yang menjadi pegangan dalam tindkaan-tindakan masyarakat, jika masyarakat melanggar hukum adat maka akan dikenai sanksi oleh masyarakat yang bersangutan.
(2)   Pada masyarakat desa modern yang telah menganal hukum positif (hukum Negara), sistem penyelesaian persoalan dilakukan secara hukum desa atau hukum positif, bahkan sampai ke pengadilan.


  

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial terjadi apabila dalam masyarakat terjadi kontak sosial dan komunikasi.
Pada masyarakat desa selalu ada interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi antara individu dengan individu dapat terlihat jika individu memberikan pengaruh ataupun rangsangan terhadap individu lainnya. Wujud interksi ini dapat terlihat misalnya dalam bentuk berjabat tangan , bercakap-cakap maupun bertengkar.
Bentuk interaksi yang terjadi pada masyarakat perdesaan terdiri dari assosiatif dan dissosiatif. Assosiatif meliputi kerjasama, akomodasi dan asimilasi sedangkan dissosiatif terdiri dari pertentangan, konflik serta kontravensi.

B.     Saran
Dalam penyusunan makalah mengenai interaksi pada masyarakat perdesaan ini sebagai salah satu aktivitas dan tugas di dalam perkuliahan. Dalam penyusunannya menuntut adanya keseriusan, ketelitian, serta keuletan dari mahasiswa agar tercapai hasil yang maksimal untuk itu perbanyak referensi buku yang berkaitan dengan topik makalah ini karena kajian dalam makalah ini sangat penting.




DAFTAR PUSTAKA


Hanum, Farida. 2011. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Kanwa Publisher.

Leibo, Jefta. 1986. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Unit Kanvas Andi Offset.

Murdiyanto, Eko. 2008. Sosiologi Perdesaan, Pengantar Untuk Memahami Masyarakat Desa. Yogyakarta : UPN “Veteran” Yogyakarta.

Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo. 1987. Sosiologi Perdesaan Jilid 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Soekanto, Soerjono 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Press.

Taneko, Soleman B.. 1984. Struktur dan Proses Sosial.  Jakarta : CV. Rajawali.


Yuliati, Yayuk dan Mangku Poernomo. 2003. Sosiologi Perdesaan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama.

TUGAS Remidial dan Pengayaan XI IPS 1 (SAPI'I) SMA N 1 BANTUL

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi kelompok sosial" kelas XI IPS 1. N...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel