join venture 1

perkembangan desa ditinjau dari masa pra modern, modern, dan era globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan baik bersifat regress maupun progress, karena masyarakat bersifat dinamis. Perubahan-perubahan tersebut yang terjadi pada masyarakat dunia dewasa ini merupakan gejala yang normal. Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman dahulu.
Sosiologi perdesaan merupakan salah satu cabang ilmu Sosiologi. Ruang lingkup sosiologi perdesaan mencakup proses-proses sosial, struktur sosial, dinamika sosial, dan pola perilaku serta mata pencahariannya. Dalam perkembangannya desa dibagi menjadi beberapa tingkatan dari desa masa pra modern, modern, dan era globalisasi. Dari berbagai macam desa, pastinya satu desa dengan desa yang lain berbeda dan mempunyai karakteristik masing-masing.
Desa mengalami proses pengalihan dari masa pra modern hingga era globalisasi mencapai titik kemajuan masyarakat perdesaan, baik dalam bidang IPTEK, pendidikan, pemerintahan dan lain-lain. Perkembangan desa tidak hanya di intepretasikan dari pembangunan yang nampak seperti pembangunan infrastruktur, tetapi dilihat dari pola masyarakat dan dinamika dalam masyarakat. Dari hal tersebut, maka masyarakat terjadi mobilitas mulai dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks. Dengan demikian, perlu kita mengetahui perkembangan desa ditinjau dari masa pra modern, modern, dan era globalisasi.
B.                 Rumusan Masalah
1.                  Apa pengertian desa dan bagaimana perkembangannya ?
2.                  Bagaimana perkembangan desa ditinjau dari masa pra modern, modern, dan era globalisasi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Desa dan Perkembangannya
1.         Definisi Desa dari beberapa ahli, yaitu :
a.      Bambang Utoyo 
Desa merupakan tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencarian di bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan.
b.      R. Bintarto 
Desa adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain.
c.       Sutarjo Kartohadikusumo 
Desa merupakan kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri merupakan pemerintahan terendah di bawah camat.
d.      William Ogburn dan MF Nimkoff 
Desa adalah kesatuan organisasi kehidupan sosial di dalam daerah terbatas.
e.       S.D. Misra 
Desa adalah suatu kumpulan tempat tinggal dan kumpulan daerah pertanian dengan batas-batas tertentu yang luasnya antara 50 – 1.000 are.
f.       Paul H Landis 
Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa.
2.      Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan.
3.       Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
g.      UU no. 22 tahun 1999 
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.
h.      UU no. 5 tahun 1979 
Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Sapari, 1990)
Pengertian desa berdasarkan dari beberapa aspek, antara lain :
1. Aspek Morfologi, desa merupakan pemanfaatan lahan atau tanah oleh penduduk atau masyarakat yang bersifat agraris, serta bangunan rumah tinggal yang terpancar (jarang).
2. Aspek jumlah penduduk, maka desa didiami oleh sejumlah kecil penduduk dengan kepadatan yang rendah.
3. Aspek ekonomi, desa merupakan wilayah yang penduduk atau masyarakatnya bermatapencaharian pokok di bidang pertanian, bercocok tanam atau agraria, atau nelayan.
4. Aspek sosial budaya, desa itu tampak dari hubungan sosial antar penduduknya bersifat khas, yakni hubungan kekeluargaan, bersifat pribadi, tidak banyak pilihan dan kurang tampak adanya pengkotaan, atau dengan kata lain bersifat homogen, serta gotong royong.
5. Aspek hukum, desa merupakan kesatuan wilayah hukum tersendiri. (P.J.M Nas, 1979 : 28- 29 dan Soetardjo, 1984 : 16)
2.    Perkembangan Desa

Desa-desa itu secara kualitatif dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan, yaitu :
1.                  Desa Swadaya (Tradisional), adalah desa yang belum mampu mandiri penyelenggaraan urutan rumah tangga sendiri, administrasi desa belum terselenggara dengan baik dan LKMD belum berfungsi dengan baik dalam mengorganisasikan dan menggerakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan desa secara terpadu.
2.                  Desa Swakarya (Transisional), adalah desa setingkat lebih tinggi dari Desa Swadaya. Pada desa Swakarya ini, mulai mampu mandiri untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri, administrasi desa sudah terselenggara dengan cukup baik dan LKMD cukup berfungsi dalam mengorganisasikan dan menggerakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan secara terpadu.
3.                  Desa Swasembada (Berkembang), adalah desa setingkat lebih tingi dari Desa Swakarya. Desa Swasembada adalah desa yang telah mampu menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri, administrasi desa sudah terselenggara dengan baik dan LKMD telah berfungsi dalam mengorganisasikan dan menggerakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan desa secara terpadu.
Menurut Edaran Surat  Surat Direktur Jendral Pembangunan Desa, Menteri Dalam Negeri Nomor : 414.1/1998 tanggal 30 Juli 1987, tentang skor klasifikasi tingkat perkembangan desa, bervariasi antara minimal 0 dan maksimal 150, dengan tingkatan nilai sebagai berikut :
a.                   Nilai 101-150 = tingkat Swasembada
b.                  Nilai 5-100 = tingkat Swakarya
c.                   Nilai 0-50 = tingkat Swadaya
Klasifikasi itu adalah tingkat perkembangan desa berdasarkan kesamaan tingkat perkembangannya, atas dasar faktor-faktor tertentu, yaitu yang disebut faktor pembangunan desa. (Sapari, 1990)
B.  Perkembangan Desa ditinjau dari Masa Pra Modern, Modern, dan Era Globalisasi
1.    Perkembangan Desa Era Pra Modern
Perkembangan desa era pra modern terjadi pada desa di mana masyarakatnya mengalami masa transisi dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Masyarakat transisi atau peralihan merupakan masyarakat yang mengalami perubahan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lainnya. Misalnya masyarakat perdesaan yang mengalami transisi ke arah kebiasaan kota, yaitu pergeseran tenaga kerja dan pertanian, dan mulai masuk ke sektor industri. Ciri-ciri masyarakat transisi, sebagai berikut :
a.       Adanya pergeseran dalam aspek kehidupan. Contohnya dalam bidang pekerjaan di mana pergeseran dari tenaga kerja pertanian ke sektor industri.
b.      Adanya pergeseran pada tingkat pendidikan.
c.       Mengalami perubahan ke arah kemajuan.
d.      Masyarakat sudah mulai terbuka dengan perubahan dan kemajuan jaman.
e.       Tingkat mobilitas masyarakat tinggi.
f.       Biasanya terjadi pada masyarakat yang sudah memiliki akses ke kota misalnya jalan raya.
(http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/masyarakat-tradisional-masyarakat.html)
Perkembangan desa pra modern sering disebut dengan masyarakat transisi bahwa perkembangan masyarakat merupakan dialektis yang timbul karena pertentangan pendapat pada masyarakat yang mempunyai peristiwa-peristiwa, mengingat kehidupan masyarakat dinamis pasti menimbulkan social affairs.

Ada beberapa ciri yang dimiliki oleh desa di era pra-modern.
a.       Isolasi
Orang-orang desa mengelompokan diri ke dalam desa-desa kecil yang lading pertaniannya dapat dicapai dengan berjalan kaki. Kelompok desa ini terpisah dengan kelompok lainya, karena penduduk yang berjumlah kecil itu hidup dengan menyebar, sehingga kontak antara individu dan juga antar masyarakat jarang terjadi.
b.      Homogenitas
Dalam tempat pemukiman, para pemukim cenderung sangat homogeny dari latar  belakang etnik dan budaya. Pada umumnya mereka mengikuti jejak imigran yang terdahulu. Itulah sebabnya para pemukim yang berasal dari suatu wilayah tertentu cenderung mengelompok.
c.       Pertanian
Hampir semua penduduk desa adalah petani. Semua mengalami masalah yang sama dan tugas yang sama serta sama-sama merasakan ketidakmampuan dalam menghadapi kekuatan alam yang berada di luar kemampuan manusia.
d.      Ekonomi subsistensi
Keluarga  di desa pada umumnya memproduksi segala sesuatu yang dikonsumsi (Paul B. Horton, 1992:130-131)

2.    Perkembangan Desa Era Modern
TEORI MODERNITAS GEORGE SIMMEL
Kesadaran individu merupakan sumber awal bagi Simmel dalam mengkaji lebih jauh tentang interaksi sosial, ia telah melakukan teoretisasi masalah modernitas dengan penekanan pada perkembangan pesat dari ilmu, teknologi, pengetahuan obyektif, berikut diferensiasinya di satu sisi dan erosi budaya subyektif di sisi lain. Konflik dan krisis kebudayaan modern oleh Simmel digambarkan dalam bentuk pemiskinan-subyektivitas yang disebutnya endemi atrophy (terhentinya pertumbuhan budaya subyektif) karena hypertrophy (penyuburan budaya obyektif). Simmel berusaha menjelaskan adanya ketimpangan budaya individu atas manusia sebagai subjeknya dibandingkan dengan perkembangan media atau sarana kehidupan yang mengurangi peran aktif  manusia dalam berkarya. Sehubungan dengan fenomena endemi antrophy interaksi menjadi salah satu pokok pemikiran dalam teori Simmel.
Kemudian masyarakat dapat diartikan  sebagai sejumlah individu yang terhubungkan melalui interaksi. Interaksi ini dapat menjadi mengkristal sebagai bidang permanen. Hubungan ini, atau bentuk sociation, sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa masyarakat bukan merupakan substansi, tetapi sebuah peristiwa, dan karena bentuk-bentuk sociation mengatasi individu / dualisme sosial (individu terlibat dengan satu sama lain dan dengan demikian merupakan sosial).
Sedangkan interaksi sosial sendiri menurut Georg Simmel memiliki point-point tersendiri yang menurutnya merupakan hal yang perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel mengungkapkan bahwa interaksi menurut bentuknya dapat dibedakan menjadi berikut yaitu:
a.       Subordinasi (ketaatan),
b.      Superordinasi (dominasi),
c.       Hubungan seksual, Konflik, dan
d.      Sosiabilita (interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan untuk tujuan lain). (Ritzer, 2004)
Sedangkan menurut tipenya meliputi:
a.       Interaksi yang terjadi antar individu-individu,
b.      Interaksi yang terjadi antar individu-kelompok, dan
c.       Interaksi yang terjadi antar kelompok-individu. (Ritzer, 2004) 
Pada keadaan yang sama yaitu kehidupan dengan interaksi dan komunikasi dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan tertentu, dimana hal tersebut memiliki dampak positif dan negatif, ada pada suatu saat seseorang merasakan kedekatan, kekompakan, dan kebersamaan baik secara pribadi maupun  kelompok. Adanya kontak merupakan faktor yang mendorong terjadinya komunilkasi , kontak tersebut terdiri dari kontak secara langsung maupun secara tidak langsung (melalui media), dan komunikasi itu sendiri adalah gambaran dari adanya interaksi dalam hidupnya dengan orang lain.
Simmel juga memusatkan pemikirannya mengenai relasi (hubungan), khususnya interaksi antar pemeran sadar dan tujuannya adalah melihat besarnya cakupan interaksi yang mungkin sepele namun pada saat lain sangat penting. Menurut Simmel interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu. Salah satu bentuk interaksi yang dibicarakan Simmel adalah gaya (fashion). Gaya adalah bentuk relasi sosial yang menginginkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Hal positif yang muncul dari adanya interaksi bisa terjadi melalui terjalinnya solidaritas masyarakat, dan hal negatif adalah berupa adanya konflik.
Kondisi desa di era modernisasi saat ini mereka sudah mulai menggunakan pemanfaatan tekhnologi, pendidikan sumber daya manusia juga mulai berkembang. Produksi dilakukan dimasyarakat desa sudah mulai menprioritaskan keuntungan yang sesuai, selain itu kehidupan perkotaan sudah mulai ada didesa. Ciri desa di era modern sebagai berikut:
a.       Memanfaatkan tekhnologi baru.
b.      Produksi berorientasi pasar. Sebagian besar dijual untuk pasar sehingga jenios komoditi yang diproduksi selalu disesuaikan dengan keadaan harga pasar. Tujuan produksi adalah untuk memperoleh keuntugan sebesar-besarnya.
c.       Mulai menerapkan sistem agrobisnis, paradigam pertanian berubah menjadi agrobisnis dan agroindustri dan perdagangan berkembang.
d.      Masyarakat sangat menghargai pendidikan, bersedia melakukan human investmen.
e.       Masyarakat sudah mengadopsi kehidupan kota. Perbedaannya kegiatan ekonominya adalah berbasis pedesaan seperti pertanian, industry desa, pertambangan, pariwisata dan lain lain.
(http://2frameit.blogspot.com/2012/03/ciri-desa-dan-beberapa-permasalahan.html)

3.    Perkembangan Desa Era Globalisasi
Perkawinan antara teknologi transmisi mutakhir dengan komputer melahirkan sebuah era baru, yaitu era informasi. Era dimana akan lahir global village (desa global). Sehingga tidak berlebihan bila kata globalisasi dikatakan sebagai word of the year. Globalisasi berasal dari kata global yang artinya secara umum atau keseluruhan. Era global adalah proses masuknya sebuah negara ke ruang lingkup dunia, sehingga sekat-sekat atau tapal batas antara negara akan semakin kabur. Globalisasi ini ditandai dengan semakin majunya teknologi komunikasi, inilah yang disebut dengan era informasi. (Mansyur, 1977)
Collin Cherry mengungkapkan perkembangan teknologi komunikasi yang cepat dewasa ini dengan istilah explosion. Hal ini disebabkan karena, Pertama, secara potensial teknologi komunikasi dapat menjangkau seluruh permukaan bumi hanya dalam tempo sekejap. Kedua, jumlah pesan dan arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik. Untuk dua dekade belakangan ini saja, jumlah kontak komunikasi global yang ada diperkirakan sama banyak dengan komunikasi serupa selama beberapa abad lalu. Ketiga, kompleksitas teknologinya sendiri semakin canggih (sophisticated), baik piranti lunak maupun piranti kerasnya. (Mansyur, 1977)
Era globalisasi memiliki potensi untuk ikut mengubah hampir seluruh sistem kehidupan masyarakat, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Dialog antar budaya progresif  Barat dan budaya ekspresif  Timur berlangsung dalam skala besar-besaran tanpa disadari. Fenomena baru dalam era globalisasi ini hanya dalam hal tempo edar informasi yang kian pendek dan cakupannya yang kian luas. Berikut ini adalah  pengaruh dari era globalisasi informasi:

1)  Masyarakat global adalah semakin tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat modern sebagaimana dihasilkan oleh industrialisasi dan teknologisasi merupakan masyarakat dengan struktur kehidupan yang dinamis, kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan. Daya berpikir dan daya cipta semakin berkembang sedemikian rupa sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam konteks yang nyata, seterusnya akan berakibat pada bergesernya nilai-nilai budaya yang setiap saat dapat berlangsung walaupun lamban namun pasti.
Tidak satupun peradaban yang dapat disebut maju tanpa diikuti oleh pesatnya pertumbuhan ilmu dan teknologi. Munculnya industrialisasi adalah dampak dari kemajuan pola pikir dan daya kreasi manusia sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam bentuk sarana yang tersedia di alam raya. Industrialisasi dengan demikian menyangkut proses perubahan sosial, yaitu perubahan susunan kemasyarakatan dari suatu sistem sosial, perubahan dari keadaan negara kurang maju (less developed country) menuju kepada negara maju (more developed country). Karena itu, penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat untuk memenuhi kebutuhan hidup modern yang sudah memasuki seluruh wilayah kehidupan manusia dan masyarakat bangsa.
2) Globalisasi informasi adalah penyerbuan komunikasi dan informasi yang menembus batas-batas budaya. Seluruh kemajuan yang diperoleh oleh manusia tidak bisa dilepaskan dari peranan komunikasi. sehingga sebagian orang menyebut komunikasi sebagai “perekat” hidup bersama. Hal ini dipahami karena istilah komunikasi itu sendiri mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris) berasal dari bahasa Latin communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, di mana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya; ikut mengambil bagian.
Di samping sebagai lem perekat hidup bersama, komunikasi juga sering dipandang seolah-olah memiliki kekuatan gaib. Menurut B. Aubrey Fisher, tidak ada persoalan sosial yang tidak melibatkan komunikasi. Oleh sebab itu setiap saat manusia selalu dihadapkan dengan masalah sosial, yang penyelesaiannya menyangkut komunikasi yang lebih banyak atau lebih baik. Setidak-tidaknya semua kesalahfahaman yang kemudian menimbulkan konflik antara manusia dalam bidang politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya dinyatakan sebagai akibat kesalahan komunikasi. Memang komunikasi sering dimunculkan sebagai kambing hitam, jika terjadi keruwetan dan ketidakharmonisan dalam hubungan antar manusia dan antara bangsa.
Komunikasi memang menyentuh semua aspek kehidupan bermasyarakat, atau sebaliknya semua aspek kehidupan masyarakat menyentuh komunikasi. Justru itu orang selalu melukiskan komunikasi sebagai ubiquitous atau serba hadir. Artinya komunikasi berada di manapun dan kapanpun. Komunikasi merupakan sesuatu yang memang serba ada. Sifat komunikasi yang serba hadir ini, selain memberikan keuntungan juga sekaligus menimbulkan banyak kesulitan karena fenomena komunikasi itu menjadi luas, ganda dan multi makna.
3) Tingginya laju transformasi sosial. Kemajuan teknologi komunikasi yang dialami umat manusia dewasa ini memberikan kemudahan dan kecepatan dalam berhubungan antara satu dengan lainnya. Jarak tidak lagi menjadi kendala untuk dapat berkomunikasi. Informasi dan peristiwa yang terjadi di belahan dunia secara cepat dapat diakses oleh manusia di benua lain. Di samping jarak yang semakin dekat, masyarakat juga semakin banyak mendapatkan pilihan sarana untuk menyerap informasi. Dengan semakin cepatnya arus informasi dan beragamnya media komunikasi mengantarkan umat manusia kepada transformasi.
Dengan munculnya masyarakat informasi, muncul pula ekonomi informasi. Industri pabrik berubah menjadi industri informasi. John Naisbitt mengidentifikasi beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi sekaligus yang mencirikan masyarakat informasi adalah: 1) masyarakat informasi merupakan suatu realitas ekonomi; 2) inovasi di bidang komunikasi dan teknologi komputer akan menambah langkah perubahan dalam penyebaran informasi dan percepatan arus informasi; 3) teknologi informasi yang baru pertama kali diterapkan dalam tugas industri yang lama, kemudian secara perlahan akan melahirkan aktivitas dalam proses produksi yang baru; 4) di dalam masyarakat informasi, individu yang menginginkan kemampuan menulis dan kemampuan dasar membaca lebih bagus daripada masa yang lalu, bisa mendapatkan pada sistem pendidikan yang tidak begitu terinci; 5) keberhasilan atau kegagalan teknologi komunikasi ditentukan oleh prinsip teknologi tinggi dan sentuhan yang tinggi pula. (Mansyur, 1977)
Alfin Toffler menggambarkan “karena tumbuhnya karakter global dari teknologi, masalah-masalah lingkungan, keuangan, telekomunikasi dan media, maka umpan balik kultural yang baru mulai beroperasi, sehingga kebijakan sebuah negara menjadi perhatian bagi negara lain”. Selanjutnya ia menjelaskan, implikasi dari kebijakan ini tidak ada negara yang dengan sendirinya memiliki hak untuk menyimpan fakta dan bahwa etika informasi yang tidak terucapkan mengatasi kepentinga nasional.
4) Terjadinya perubahan gaya hidup (lifestyle). Teknologi komunikasi yang semakin canggih memberi kemudahan dan kebebasan kepada masyarakat untuk mengakses informasi apa saja yang ada. Implikasinya terjadilah perubahan sistem nilai karena perbenturan sistem nilai yang diadopsi oleh suatu masyarakat belum tentu atau tidak sesuai dengan latar belakang budaya, agama pada masyarakat sebelumnya. Bahkan ada pameo yang mengatakan kebingungan manusia modern bukan disebabkan oleh kurangnya informasi yang diterima, namun karena terlalu banyaknya informasi yang sampai melalui berbagai media komunikasi (flood of information).
Terpaan media cukup penetratif dan persuasif, daya pengaruhnya sudah mampu menembus filterisasi kebudayaan tradisional yang sudah semakin jauh ditinggalkan oleh para generasi muda di sebuah negara. Mereka pada umumnya sudah tercerabut dari akar-akar kebudayaan nasional, sementara kita belum lagi menemukan bentuk idel kebudayaan baru yang nota bene diimpor dari luar. Pada saat itu peranan informasi sangat dominan dalam mempengaruhi sekaligus mengubah watak dan kepribadian seseorang. Di sinilah fungsi krusial informasi benar-benar berlaku sebagai sebuah kekuasaan (information is power).
Informasi memainkan peranan yang vital dalam sebuah masyarakat, dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sebuah komunitas. Sebaliknya, jika informasi dibatasi dan dikekang, ia bisa menjadi alat depostisme dan ketidakadilan sosial. Menurut Ziauddin Sardar informasi merupakan kekuasaan, tanpa informasi seseorang tidak memiliki kekuasaan. Jika informasi dibolehkan mengalir secara bebas dalam masyarakat, maka ia akan memberikan jalan ke arah kekuasaan kepada masyarakat yang terbelakang, serta akan mencegah konsentrasi kekuasaan pada segelintir orang.
 5) Era globalisasi dan informasi adalah semakin tajamnya gap antara negara industri dengan negara berkembang, dengan kata lain terjadinya dominasi informasi oleh negara-negara maju terhadap negara-negara terbelakang. Alat dominasi yang paling efektif adalah pengetahuan, sedangkan pengetahuan itu tidak lain berbasis informasi. Menurut F. Rachmadi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada satu sisi telah berhasil mengatasi dimensi ruang dan waktu, namun di sisi lain ternyata juga mempertajam ketidakseimbangan informasi antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Secara kuantitatif arus informasi dunia dikuasai oleh negara-negara maju. Arus informasi dunia memperlihatkan ketidakseimbangan yang serius, bahkan sebagian besar negara-negara dunia ketiga tidak memiliki alat-alat dan struktur yang memadai bagi pemancaran dan penerimaan informasi. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan kepincangan dan ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju. Negara-negara maju memiliki pengaruh dan dominasi yang kuat terhadap negara yang belum memiliki teknologi maju. (Sumber 1 s/d 5)
Kita harus dapat memahami manfaat dan mudarat informasi serta secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan kita, bukan tujuan-tujuan Barat. Penyaluran informasi yang dikembangkan oleh Barat pada era ini bertendensi sinisme dan antipati terhadap Islam sehingga seringkali tidak berdasarkan objektivitas, akurasi dan keseimbangan sumber. Arus deras penyebaran berita dengan kedangkalan interpretasi Dunia Barat terhadap masalah hak azasi dalam Islam, seringkali merupakan akibat dari kurangnya informasi dan karena pengaruh kekuasaan yang emosional. Mereka menggambarkan situasi ke dalam kaca yang pecah. Ahmad Naufal mengatakan bahwa strategi yang dilakukan Barat adalah memecah belah dan menimbulkan kecemasan (keresahan) di hati umat Islam, dengan taktik memanfaatkan perbedaan pendapat di kalangan umat. Rekayasa informasi merupakan bagian integral dari rekayasa sosial.

  
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Definisi desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.
Desa era pra modern ciri cirinya terdiri dari:
1.      Isolasi,
2.      Homogenitas,
3.      Pertanian, dan
4.      Ekonomi subsistensi
Desa era modern ciri-cirinya terdiri dari:
1)      Memanfaatkan tekhnologi baru,
2)      Produksi berorientasi pasar. Sebagian besar dijual untuk pasar sehingga jenios komoditi yang diproduksi selalu disesuaikan dengan keadaan harga pasar. Tujuan produksi adalah untuk memperoleh keuntugan sebesar-besarnya,
3)      Mulai menerapkan sistem agribisnis, paradigam pertanian berubah menjadi agribisnis dan agroindustri dan perdagangan berkembang, Masyarakat sangat mengahrgai pendidikan, bersedia melakukan human investmen, dan
4)      Masyarakat sudah mengadopsi kehidupan kota. Perbedaannya kegiatan ekonominya adalah berbasis pedesaan seperti pertanian, industri desa, pertambangan, pariwisata dan lain lain
Desa di era globalisasi Perkawinan antara teknologi transmisi mutakhir dengan komputer melahirkan sebuah era baru, yaitu era informasi. Era dimana akan lahir global village (desa global). Sehingga tidak berlebihan bila kata globalisasi dikatakan sebagai word of the year. Globalisasi berasal dari kata global yang artinya secara umum atau keseluruhan. Era global adalah proses masuknya sebuah negara ke ruang lingkup dunia, sehingga sekat-sekat atau tapal batas antara negara akan semakin kabur. Globalisasi ini ditandai dengan semakin majunya teknologi komunikasi, inilah yang disebut dengan era informasi.Berikut ini adalah  pengaruh dari era globalisasi informasi:
1.      Masyarakat global adalah semakin tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.      Globalisasi informasi adalah penyerbuan komunikasi dan informasi yang menembus batas-batas budaya.
3.      Tingginya laju transformasi sosial.
4.      Terjadinya perubahan gaya hidup (lifestyle).
5.      Era globalisasi dan informasi adalah semakin tajamnya gap antara negara industri dengan negara berkembang, dengan kata lain terjadinya dominasi informasi oleh negara-negara maju terhadap negara-negara terbelakang.
B.  Saran
Hendaknya setelah kita mempelajari tentang Teori Perkembangan Desa dapat mengetahui bahwa suatu desa di wilayah tertentu mengalami perubahan progress dan regress. Oleh karena itu, setiap masyarakat desa mengalami perubahan kita harus mengetahui desa terdapat tiga tahapan, yaitu pra era modern, era modern, dan era globalisasi.

  
DAFTAR PUSTAKA

Alvin, Toffler. 1992.Pergeseran KekuasaanBagian II. Jakarta: Panca Simpati.
Anwar, Arifin. 1995. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas.  Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Asy’ari, Sapari Imam. 1990. Sosiologi Desa Kota. Surabaya: Usaha Nasional.
B. Aubrey Fisher. 1986. Teori-teori Komunikasi. Bandung: Remadja Karya.

ciri desa dan beberapa permasalahan http://2frameit.blogspot.com/2012/03/ciri-desa-dan-beberapa-permasalahan.html diakses pada hari Senin, tanggal 3 Maret 2014 pukul 19.00 WIB.

Horton & Paul. 1992. Sosiologi. Jakarta: Erlangga
Ifzanul. 2010. Masyarakat Tradisional. http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/masyarakat-tradisional-masyarakat.html diakses pada hari Senin, tanggal 3 Maret 2014 pukul 19.30 WIB.
Malik, Dedy Djamaludin. 1993. Komunikasi dan Budaya Massa. Audientia Jurnal Komunikasi. LP3 K Bandung dan Humas Pemda Jabar.
Mansyur, M. Cholil. 1977. Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa. Surabaya: Usaha Nasional.
Ptkom. 2010. Era Globalisasi Informasi Mengubah (http://ptkom.blogspot.com/2010/07/era-globalisasi-informasi-mengubah.html) diakses pada hari Senin, tanggal 3 Maret 2014 pukul 19.15 WIB.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2004. TeoriSosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2008.TeoriSosiologi. Yogyakarta : KreasiWacana.
Wikipedia. 2014. Desa. http://id.wikipedia.org/wiki/Desa diakses pada hari Senin, tanggal 3 Maret 2014 pukul 19.00 WIB.
Zamroni. 2007. Pendidikan dan Demokrasi dalam Transisi. Jakarta :PSAP Muhammadiyah.



SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel