join venture 1

KONFLIK DAN PERDAMAIAN DUNIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Suatu negara tidak mungkin dapat berdiri sendiri, seperti halnya manusia atau individu  sebagai makhluk sosial. Suatu negara pasti akan membutuhkan bantuan dari negara lain dan akan negara tersebut akan menjalin sebuah kerjasama, dimana negara satu dengan negara lain akan saling mengisi kekurangannya dalam berbagai komponen. Bahkan ada pula negara yang memiliki keterkaitan serta ketergantungan dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Salah satunya adalah negara  dengan negara-negara lain. Dinamakamasyarakat global, ditandai adanya saling ketergantungan antar bangsa, adanya persaingan yang ketat dalam suatu kompetisi dan dunia cenderung berkembang kearah perebutan pengaruh antar bangsa, baik lingkup regional, ataupun lingkup global.
Namun pada kenyataanya masih banyak hubungan yang bertentangan antara negara satu dengan yang lain. Yang mengakibatkan terjadinya konflik dan terusiknya perdamaian dunia.Konflik biasanya dipicu dengan adanya masalah dalam hal sosial, ekonomi, politik, agama maupun kebudayaan. Terjadinya konflik akibat adanya keserakahan, kurang saling menghargai dan mengerti antara satu dengan yang lain.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konflik dunia dilihat dari perspektif global?
2.      Bagaimana perdamaian dunia dilihat dari perspektif global?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui konflik dunia dilihat dari perspektif global
2.      Mengetahui perdamaian dunia dilihat dari perspektif global


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan seagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (dapat pula kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tida berdaya. Menurut KBBI konflik didefinisikan sebagai percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Dengan demikian secara sederhana, konflik merujuk pada adanya dua hal atau lebih yang berseberangan, tidak selaras, dan bertentangan. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik anggotanya atau dengan kelompok lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa indivdu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah meyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merpakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
a.      Faktor-Faktor Penyebab Konflik
1.      Perbedaan antarindividu,
Setiap manusia tentu memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan pendirian tersebut dapat menjadi faktor penyebab konflik.
2.      Perbedaan kebudayaan
Perbedaan kepribadian seseorang tergantung dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan dan perkembangan kepribadian orang terssebut. Perbedaan kepribadian individu akibat pola kebudayaan yang berbeda seperti itu tidak jarang menjadi penyebab terjadinya konflik antar kelompok dengan pola kebudayaan yang cenderng berlawanan dapat menimbulkan rasa marah dan beci sehingga berakibat konflik.
3.      Perbedaan kepentingan
Perbedaan kepentingan antar individu maupun kelompok merupakan faktor lain penyebab konflik atau pertentangan. Setiap individu tentu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu. Demikian pula dengan kelompok. Setiap klompok tentu memiliki kepentingan berbeda-beda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu. Kepentingan itu dapat menyangkut kepentingan politik, ekonomi, sosial dan budaya.
4.      Perubahan sosial
Perubahan tentu mempengaruhi cara pandang sebagian anggota mayarakat terhadap nilai, norma, dan pola perilaku masyarakat. Apalagi jika perubahan itu berlangsung dengan cepet dan meluas. Muncullah perilaku-perilku yang dianggap oleh sebagian anggota masyarakat lain sebagai perilaku yang berlawanan, aneh dan bertentangan dengan kebudayaan masyarakatnya. Situasi seperti itu dapat memunculkan konflik atau pertentangan.
b.      Bentuk konflik
Menurut Lewis A. Coser
1.    Konflik realistis, yang berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem dan tuntunan-tuntunan yang terdapat dalam hubungan sosial.
2.    Konflik nonrealistis, adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonistis (berlawanan), melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan ketegangan.

Dahrendorf membedakan konflik atas empat macam, yaitu
1.      Konflik-konflik di antara peranan-peranan sosial.
2.      Konflik-konflik di antara kelompok-kelompok sosial .
3.      Konflik-konflik di antara kelompok-kelompok yang terorganisasi dan tidak terorganisasi.
4.      Konflik-konflik di antara satuan nasional, seperti antara partai politik, antar negara-negara, atau antar organisasi-organisasi internasional.
Soerjono Soekanto menyebutkan lima bentuk khusus konflik atau pertentangan yang terjadi dalam masyarakat
1.      Konflik atau pertentangan pribadi, terjadi pada dua individu atau lebih karena perbedaan pandangan dan sebagainya.
2.      Konflik atau pertentangan rasial, timbul akibat perbedaan-perbedaan ras, seperti perbedaab ciri badaniah, kepentingan, dan kebudayaan.
3.      Konflik atau pertentangan antara kelas-kelas sosial, disebabkan karena perbedaan kepentingan.
4.      Konflik atau pertentangan politik, terjadi akibat adanya kepentingan atau tujuan-tujuan politis seseorang atau kelompok.
5.      Konflik atau pertentangan yang bersifat internasional, umumnya terjadi karena perbedaan kepentingan yang kemudian berpengaruh pada kedaulatan negara.
c.       Dampak dari konflik
Menurut Lewis A. Coser, konflik merupakan peristiwa normal yang dapat memperkuat struktur hubungan sosial. Tidak adaya konflik dalam sebuah masyarakat tidak dapat di anggap sebagai petunjuk kekuatan dan stabilitas hubungan sosial masyarakatnya.Konflik yang di ungkapkan dapat merupakan tanda hubungan sosial yang hidup dan dinamis.Sebenarnya, masyarakat yang memperbolehkan terjadinya konflik adalah masyarakat yang cenderung terhindar dari kemungkinan ledakan konflik dan kehancuran struktur sosial.
a)      Segi positif konflik
1.      Konflik dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.
2.      Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok.
3.      Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain.
4.      Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
5.      Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
6.      Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat.
7.      Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang seimbang.
b)     Segi negatif konflik
1.      Keretakan hubungan antar individu dan persatuan kelompok.
2.      Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.
3.      Berubahnya kepribadian para individu.
4.      Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah.
B.     Konflik dalam Perspektif Global
Dunia sekarang ini mengalami ancaman yang luar biasa tentang konflik atau perang, banyak pihak yang sensitif jika dihubungkan dengan negara lain hal ini ada banyak faktor yang menyebabkan mereka berkonflik dari faktor geografis sampai faktor politik yang ada didalamnya. Konflik atau perang di era globalisasi tidak hanya kontak fisik tetapi juga konflik laten yang memungkinkan ancaman yang lebih berbahaya. Dahulu orang atau negara berperang hanya serdadu militer yang gugur dimedan perang tetapi saat ini banyak rakyat sipil yang menjadi korban akan adanya perang. Banyak pertentangan bagaimana rakyat sipil menjadi korban tetapi banyak negara yang tidak memperdulikan hal itu karena mereka terpaku pada ambisi dan primordialismenya.
Dalam perspektif global tentunya perang atau konflik dunia menjadi hal paling dihindari karena merugikan banyak pihak. Pihak yang berperang maupun yang tidak karena banyak dari sebuah negara bergantung dengan negara lain. Contoh konflik atau perang antar negara adalah sebagai berikut:
1.      Perang Dunia I
2.      Perang Dunia II
3.      Perang India-Pakistan
4.      Perang Arab-Israel
5.      Perang Israel-Palestina
6.      Konflik Indonesia-Malaysia
7.      Konflik Korea Utara-Korea Selatan
Dari beberapa contoh perang dan konflik tersebut membuat semua negara selalu berstatus siaga. Dan terkadang berimbas pada kegiatan perekonomian sebuah negara tertentu. Kegiatan untuk meminimalisir adanya konflik harus digalakkan oleh setiap negara agar kedamaian hidup didunia dapat terwujud.
C.    Pengertian Perdamaian Dunia
Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian.Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis kekerasan.Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non-kekerasan. Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang  miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa kekerasan. Perdamaian selain merupakan sebuah keadaan, juga merupakan suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam transformasi (fase perkembangan) suatu konflik. Umumnya pemahaman tentang kekerasan hanya merujuk pada tindakan yang dilakukan secara fisik dan mempunyai akibat secara langsung.Batasan seperti ini terlalu minimalistis karena rujukannya berfokus pada peniadaan atau perusakan fisik semata.
 Kendati pun demikian, pengertian perdamaian tidak berhenti di situ.Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan kekerasan atau pun situasi yang anti kekerasan.Lebih jauh dari itu perdamaian seharusnya mengandung pengertian keadilan dan kemajuan. Perdamaian dunia tidak akan dicapai bila tingkat penyebaran penyakit, ketidakadilan, kemiskinan dan keadaan putus harapan tidak diminimalisir. Perdamaian bukan soal penggunaan metode kreatif non-kekerasan terhadap setiap bentuk kekerasan, tapi semestinya dapat menciptakan sebuah situasi yang seimbang dan harmoni, yang tidak berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama sederajat dan seimbang bagi semua pihak.Jadi perdamaian dunia merupakan tiadanya kekerasan, kesenjangan, terjadinya konflik antar negara di seluruh dunia.
D.    Mewujudkan Perdamaian Dunia
Negara yang lebih suka menyerukan peperangan, adalah negara yang berambisi dannegara yang tidak bersosialita.Banyak orang yang mengharapkan perdamaian dari pada perang. Seharusnya seluruh negara di dunia ini mau bersama-sama “saling bergandengan tangan” dan berkomitmen untuk terus menyerukan dan mewujudkan perdamaian dunia dan saling membantu demi
bersama harus yakin bahwa suatu saat nanti perdamaian dunia akan benar-benar terwujudkan. Tentu yakin saja tidak cukup dan tidak akan pernah mengubah keadaan. Harus ada upaya-upaya nyata yang  lakukan bersama Negara-negara di seluruh penjuru dunia. Selama ini memang sering ada upaya-upaya diplomasi dan pertemuan antar Negara guna menciptakan perdamaian dunia.Pada akhirnya yang dihasilkan seperti biasa yaitu butir-butir kesepakatan atau semacam perjanjian bersama yang selama ini belum banyak mampu merubah keadaan.
Ada beberapa solusi atau upaya menurut Cipto Wardoyo yang harus dilakukan demi mewujudkan perdamaian dunia, antara lain:
1.                   Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian harus mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat ataupun sebuah Negara. Jika tidak,akan percuma saja segala upayanya. Dengan mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah Negara maka  bisa memahami karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut. Atas dasar budaya dan karakteristik masyarakat atau suatu Negara, untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif dalam mewujudkan perdamaian disana. Pendekatan budaya ini merupakan cara yang paling efektif dalam mewujudkan perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.
2.                   Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang dimaksudkan terkait masalah kesejahteraan dan faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh terhadap upaya perwujudan perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan kekerasan di dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan “tidak perduli” atas isu dan seruan perdamaian. “Jangankan memikirkan perdamaian dunia, buat makan untuk hidup sehari-hari saja sangat susah”, begitu fikir mereka yang kurang sejahtera. Maka untuk mendukung upaya perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di dunia ini.
3.                   Melalui Pendekatan Politik
Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif untuk mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam artian ada agenda politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi Negara-negara maju dan adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negara-negara maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk “melakukan sedikit penekanan” pada Negara-negara yang saling berkonflik agar bersedia berdamai kembali. Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan agar persenjataan mereka terus dibeli.
4.                   Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya perdamaian.Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan, kekerasan ataupun peperangan. Maka dari itu setiap manusia yang mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus memiliki kepedulian dalam turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di kancah dunia.Para tokoh agama yang dianggap memiliki karisma dan pengaruh besar di masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.
Di lingkungan masyarakat sekarang ini banyak ditemukan masalah-masalah yang terjadi dan sering menimbulkan masalah di tengah tengah masyarakat yang kurang memahami satu dengan yang lainnya.Sebaiknya agar terjadi perdamaian dunia adalah kesadaran dari diri sendiri dan pemikiran, perbuatan yang tidak semena-mena agar tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik atau keributan di tengah masyarakat.
Manusia harus memiliki suatu tujuan yang sama dengan orang lain untuk bersatu dan berjuang demi mewujudkan perdamaian dunia. Selain itu harus saling mengalah, tidak egois dan selalu menghargai orang lain. Jika  hanya berpikir untuk kepentingan  sendiri tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain, kebersamaan pun tentu tidak akan terbentuk dengan baik. Dari kebersamaan tersebut, akan menjadi awal mula bisa terbentuknya perdamaian. Setelah terbentuknya kebersamaan juga diiperlukan kesadaran. Maksud dari kesadaran itu adalah  dituntut untuk sadar terhadap situasi. Contohnya dengan :
a.         Sadar dibentuknya peraturan,  patut dan wajib mematuhi peraturan.
b.         Sadar terhadap kekurangan dan kelebihan orang lain.
c.         Sadar bahwa  memiliki perbedaan dengan orang lain seperti suku, adat-istiadat, agama, ras, dan status sosial.
d.        Sadar untuk mengendalikan diri dan menempatkan diri
Hans Morgenthau membagi beberapa perdamaian yang pernah dilakukan didunia menjadi 3 yaitu; Melalui pembatasan, Melalui transformasi, Melalui Akomodasi.
BAB III
PENUTUP
Dalam masalah perdamaian dan konflik dunia perspektif global menjadikan bahasan ini sebagai tindakan persuasif bagi negara negara yang ada didunia ini untuk menciptakan perdamaian dan tidak mendahulukan kepentingan bangsanya saja.



DAFTAR PUSTAKA
Morgenthau, Hans. 2010. Politik Antarbangsa. Terj, Maimoen,A. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel