-->

AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL



AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sosiologi agama merupakan suatu ilmu yang menduduki tempat yang profane. Ia bukanlah lmu yang sakaral, bukan seperti ilmu teknologi, tetapi ilmu profane, yang positif dan empiris.  Pemahaman sosiologi tentang agama tidak ditimba dari “pewahyuan” yang datang dari “dunia luar”, tetapi diangkat dari eksperiensi, atau pengalaman konkret sekitar agama yang dikumpulkan dari sana sini baik dari masa lampau (sejarah) maupun dari kejadian-kejadian sekarang.
Dalam struktur masyarakat selalui kita temui statifikasi sosial. Menentukan siapa yang lebih tinggi kedudukannya dan menentukan hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat tertentu. Ini adalah hal yang lumrah untuk melanggengkan status Quo sesuai dengan fungsi-fungsinya yang ada dimasyarakat (teori struktur fungsional).
Mau tidak mau ada sistem yang mengatur pelapisan karena gejala tersebut sekaligus memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat, yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar malaksanakan kewajibannya yang sesuai dengan kedudukan serta perannya. (soerjono soekanto:226)
Barnard menjelaskan pula dalam pengantar sosiologi karangan soerjono soekanto bahwa sistem kedudukan dalam organisasi formal timbul kerena perbedaan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan individual yang mencakup hal-hal sebagai berikut.
1.      Sistem fungsional yang merupakanpembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerjasama dalam kedudukan yang sederajat, dan;
2.      Sistem skala yang merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga kedudukan dari bawah ke atas.

Agama dalam pengertian yang dibangun Evans-Pritchard dalam penjelasannya tentang agama  dan perilaku masyarakat Nuer serta paham magis masyarakat azande, ia memperlihatkan bagaimana agama dapat membentuk “cita rasa trandensi” bagi masyarakat tribal tertentu dan dalam masa tertentu pula. Dia menunjukkan bagaimana agama secara intelektual tetap koheren telah membentuk pola dalam masyarakat Nuer, baik masalah pribadi maupun sosial.
Marx mengatakan bahwa agama adalah bagian dari ekpresi kekecewaan manusia akibat kegagalan dalam memperjuangkan kelas(tentang masyarakat kapitalis). Berbicara fungsi agama maxr menjabarkan seperti ini. Kita akan menemukan kunci dalam memahami agama bila kita telah menemukan apa yang diberikan agama kepada masyarakat. Baik dalam bentuk sosial, psikologis atau kedua-duanya. 
Bagaimana agama mengatur masyarakat, kehidupan ekonominya, sosialnya dan psikologinya?. Atau bagaimana masyarakat menciptakan agama untuk kehidupan ekonominya agar teratur, spikologisnya agar menemukan ketenangan?. Heh..
Disini kita menemukan kebingungan disisi lain agama dipandang sebagai ciptaan dari khayalan manusia karena kondisi yang begitu menekan mereka sehingga menciptakan sesuatu yang dianggap Maha.., kekuatan yang luar biasa. Sehingga menimbulkan kewajiban moral sebagai aturan hidup seperti yang dijelaskan Durkheim dan herbert spenser tentang ciri-ciri pengalaman keagamaan.
Tetapi marx mangatakan bahwa kita harus menarik garis pararel antara agama dan aktivitas sosio ekonomi. Keduanya sama-sama menciptakan alienasi; agama merampas potensi ideal kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada sebuah realitas asing dan unnat-ural yang disebut tuhan. Kita telah memberikan bagian dari diri kita sendiri “kebaikan dan perasaan kita” kepada yang bersifat khayalan semata(kajian marx masyarakat kristen). Trus, yang menciptakan manusia sehingga dia bias menciptakan alam khayal hingga menemukan konsep tuhan siapa?. Kemudian akal manusia itu membuat satuan nilai moral untuk menempatkan seseorang kedalam setatus dan kedudukan tertentu dalam kehidupan kelompok atau pribadinya.
Terlepas dari pencipta manusia membentuk system khayal manusia sehingga dia bisa menciptakan konsep ketergantunggannya pada yang maha biasa disebut tuhan. Kita akan membahas bagaimana konsep kemahaan ciptaan khayal manusia itu mampu mempengaruhi dirinya dan masyarakat sekitarnya, dalam satu pola-pola hubungan dan mobilitas tertentu yang disebut struktur.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana agama dan Pelapisan Sosial?
2.      Bagaimana agama, kelas sosial dan demokrasi?
3.      Bagaimana pengaruh agama tentang stratifikasi sosial?
4.      Bagaimana stratifikasi agama Islam dalam masyarakat Jawa?
5.      Apa saja dampak pandang seseorang tentang agama terkait pelapisan sosial?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan agama dan pelapisan sosial.
2.      Menjelaskan agama, kelas sosial dan demokrasi.
3.      Menjelaskan pengaruh agama tentang stratifikasi sosial.
4.      Menjelaskan stratifikasi agama Islam dalam masyarakat Jawa.
5.      Menjelaskan dampak pandangan seseorang tentang agama terkait pelapisan sosial.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Agama dan Pelapisan Sosial
Agama dan pelapisan sosial adalah dua hal yang berbeda. Walaupun demikian, membicarakan keduanya dalam satu bahasan atau topik, tetap akan mempunyai aspek–aspek positif dalam kajian akademis, bahkan lebih jauh bisa menemukan hal–hal yang baru dalam bidang keagamaan. Pernyataan ini tidak lepas dari anggapan bahwa agama dan masyarakat dalam pengertian lapisan sosial diduga sebagai dua unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Dalam tulisan ini, agama didefinisikan sebagai sistem kepercayaan, yang di dalamnya meliputi aspek–aspek hukum, moral, budaya, dan sebagainya. Sedangkan lapisan sosial dipahami sebagai strata orang–orang yang berkedudukan sama dalam kontinum (rangkaian satuan) status sosial. Tetapi, Horton dan Hunt menegaskan bahwa jika ditanya berapa banyak jumlah kelas sosial, mereka sulit menjawabnya. Barangkali, enam klasifikasi yang diajukan oleh banyak ahli bisa menjadi jawaban, yaitu (1) upper-upper class; (2) lower upper class; (3) upper-middle class; (4) lower-middle class; (5) upper-lower class; dan (6) lower-lower class.
Klasifikasi sosial di atas, tentu tidak berlaku umum. Sebab, setiap kota ataupun desa masing–masing memiliki karakteristik yang berbeda. Pernyataan ini, paling tidak, menggambarkan bagaimana kelas sosial sebenarnya. Maka di sisni bisa ditegaskan bahwa kelas sosial merupakan suatu realitas sosial yang penting, bukan sekedar suatu konsep teoritis. Manusia memang mengklasifikasikan orang lain ke dalam kelompok yang sederajad, lebih tinggi, atau lebih rendah. Manakala sejumlah orang menganggap orang–orang tertentu sebagai anggota masyarakat mempunyai karakteristik perilaku tertentu pada gilirannya menciptakan kelas sosial.
Di Amerika sekalipun yang sering dijadikan contoh negara paling demokrasi hubungan atau kaitan agama dan kelas sosial tetap disignifikan. Maksudnya, karena tidak ada gereja negara, agama mudah merembes ke dalam kelas kelas sosial; sebagaimana dikemukakan Demerath bahwa kegerejaan mencerminkan pengaruh sosial. Lebih lanjut, dia menandaskan bahwa agama di Amerika, khususnya Protestanisme, secara umum dilihat sebagai kegiatan masyarakat kelas menengah dan atas. Terdapat tiga indikator yang mendukung pernyataan di atas, yaitu keanggotaan gereja, kehadiran dalam acara peribadatan gereja, dan keikutsertakan dalam kegiatan – kegiatan resmi gereja. Dalam setiap unsur tadi, orang–orang yang bersetatus tinggi tampaknya lebih dalam keterlibatannya daripada yang bersetatus rendah.
Demikian pula hasil penelitian Contril. Ia menemukan bahwa anggota–anggota Protestan umumnya mempunyai status yang lebih tinggi; meskipun perbedaan ini tidak besar di wilayah selatan di mana fundamentalisme Protestanisme kuat di antara kelas–kelas bawah. Lebih dari itu, kajian suami istri Lynd (1929) yang mempelajari hubungan antara kehadiran di gereja dan kelas sosial, menunjukkan bahwa kalangan bisnis (white collar) tingkat kehadirannya ke gereja jauh lebih tinggi daripada kelas pekerja (blue collar). Tetapi, kesimpulan ini ditolak oleh Hollingshead. Dalam pandanagannya, kelas sosial tidak ada hubungannya dengan kepercayaannya kepada Tuhan. Kehadiran dan kepercayaan adalah dua aspek yang penting dan apabila kelas sosial tidak konsisten berkaitan dengan dua hal itu, kita harus berusaha menemukan hubungan yang lebih kompleks antara kelas sosial dan keagamaan secara keseluruhan.
Terlepas dari hasil penelitian diatas, yang jelas antara agama dan stratifikasi sosial memiliki hubungan yang mengandung multiinterpretasi. Penelitian Weber, misalnya, menyatakan bahwa kelas menengah rendah dianggap memiliki peranan strategis dalam sejarah agama Kristen. Lebih lanjut Weber menyimpulkan bahwa stratifikasi sosial dianggap sebagai factor yang menentukan kecenderungan kecenderungan keagamaan dan orientasinya. Tak heran, jika Weber menyimpulkan bahwa kelas-kelas yang secara ekonomis paling tidak mampu, seperti para budak dan buruh harian, tidak akan pernah bertindak sebagai pembawa panji-panji agama tertentu.
Hubungan lain dari agama dan stratifikasi sosial adalah konversi atau beralih agama, dari agama tertentu kepada agama lain. Ada beberapa factor yang menyebabkan seseorang pindah agama, antara lain faktor ekonomi dan lingkungan sosial. Ernest Treoltsch mengungkapkan bahwa sebagian besar yang beralih ke agama Kristen berasal dari kelas menengah bawah yang hidup di kota–kota besar, yang menikmati peralihan peningkatan ekonomi yang terjadi secara lamban pada waktu itu.
Dari perspektif di atas, paling tidak, akan dipahami tentang esensi gerakan sosialis abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang menawarkan ide sekuler dan komunisme sebagai “kecemburuan” atas doktrin-doktrin agama. Atau, bisa jadi mereka tidak puas terhadap agama karena kesenjangan sosial ternyata tidak pernah berhenti.
Tanpa berpretensi jelek terhadap agama Hindu yang mengakui eksistensi sistem kasta, hal ini hal ini jelas suatu masalah moral yang besar. Mengapa, umpamanya, seorang Brahmana yang malas dan mungkin tidak berguna memperoleh martabat sosial yang paling tinggi, sedangkan seorang sudra atau orang yang tak berkasta tapi jujur dan rajin tidak hanya dipisahkan dalam hubungan kerjanya, tetapi juga ditolak oleh masyarakat dan tidak diperkenankan menjalakan hal–hal yang berkenaan dengan upacara keagamaan tertentu.

B.     Agama, Kelas Sosial, dan Demokrasi
      Demikian pula dengan kelas sosial. Apakah agama bisa menjadi factor penentu dalam factor kelas sosial dalam tatanan masyarakat, sangat dipengaruhi oleh interpretasi manusia atas agama. Memang, kita tidak bisa mempungkiri, bahwa sekat–sekat sosial seringkali menimbulkan masalah sosial. Atara si kaya dan si miskin tetap saja jelas perbedaannya. Maka suatu hal yang wajar jika terdapat gereja–gereja yang peka terhadap setiap pelanggaran terhadap warga negara ataupun kebebasan beragama, kemudian mereka melakukan gerakan-gerakan yang melindungi hak–hak minoritas.
Kesalahan memahami prinsip–prinsip agama berkaitan dengan kelas sosial, pada gilirannya mengarah pada pemikiran anti agama atau komunis. Agama “dikambinghitamkan”. Inilah persoalan yang barangkali hingga saat ini masih dianut oleh sebagian manusia. Ini pula yang barangkali yang harus menjadi pemikiran kita bersama, khususnya peminat sosiologi agama. Di sini kita tidak bisa menafikkan bahwa secara de fakto masih terjadi ketimpangan sosial. Terlalu jauh jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Tetapkah itu yang di salahkan agama? Menurut saya, kritik kaum komunis-atau yang sejenisnya dengan–perlu dicermati dan ada sisi positifnya. Maksudnya, sosiolog agama atau cendikiawan agama harus senantiasa mereinterpretasikan ajaran agama yang ia percayai.
Dari pembicaraan ini mungkin kita bisa mengambil manfaat, khususnya untuk pembangunan keagamaan di Indonesia. Bagaimana agar hidup tetap maju dalam suasana yang tetap berketuhanan dan religious tanpa terjebak oleh paham–paham komunitas dan atheis, tentu memerlukan interpretasi atas ajaran agama yang actual, kontekstual, tanpa melupakan inti dan hakikat agama yang sebenarnya.

C.    Pengaruh Agama tentang Stratifikasi Sosial
Masyarakat bukan saja struktur sosial yang stabil, tetapi struktur sosial yang dinamis, berkembang dan berubah terus menerus sebagai akibat dari kekuatan hokum masyarakat yang disebut proses sosial dan perubahan sosial dengan ritme cepat ataupun lambat. Laju proses sosial (social process) dan perubahan sosial (social change) tidak terlepas dari perubahan sosio-kultural dan dipengaruhi secara langsung oleh sosio-budaya. Lalu, apakah ada perbedaan yang berarti dalam cara menanggapi dan menghayati iman (ajaran) agama oleh lapisan-lapisan sosial dan satuan-satuan kategorial yang ada dalam masyarakat?
Berikut merupakan beberapa pandangan mengenai pengaruh agama atas lapisan-lapisan sosial dan sebaliknya.
1.      Golongan Petani
Sikap mental golongan petani terbentuk oleh pengaruh situasi dan kondisi di mana mereka hidup, antara lain:
a.       faktor klimatologis dan hidrologis seperti musim dingin dan musim panas, yang sejalan dengan musim kering dan musim penghujan.
b.      faktor flora dan fauna seperti tanaman padi, sayuran, palawija dan lain-lain yang penggarapannya dibantu tenaga ternak seperti kuda, sapi kerbau dll.
2.      Golongan Pengrajin dan Pedagang Kecil
Golongan ini hidup berdasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional.
3.      Golongan Pedagang Besar
Pada umumnya golongan ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan moral, seperti yang dimiliki tingkat menengah bawah. Kelas ini dikuasai oleh keduniawian yang menutup kecenderungan kepada agama yang profesitis dan etis.
4.      Golongan Karyawan
Terdapat ajaran hasil persetujuan bersama yang mengandung kekosongan mutlak akan perasaan dan kebutuhan akan keselamatan atau landasan transenden untuk kesusilaan. Agama perseorangan yang berdasarkan perasaan cenderung disingkirkan.
5.      Golongan Kaum Buruh
Termasuk dalam golongan proletariat yang kehidupannya tidak diikutsertakan dalam masyarakat. Marx berpendapat bahwa agama merupakan suatu instansi yang mengasingkan proletar.
6.      Kelas yang Beruntung dan golongan Elite dan Hartawan
Golongan ini tidak menaruh gagasan tentang keselamatan, dosa, dan kerendahan hati, namun mereka haus akan kehormatan.
7.      Kategori Orang Dewasa dan Kategori Orang Muda
Mempunyai sikap iman yang sudah terbentuk, stabil dan sulit diubah. Dalam intensitas iman dan coraknya harus dikatakan tidak sama, karena kategori ini terdiri dari lapisan sosial yang menurut garis vertical tidak sama kedudukannya.
8.      Golongan Wanita
Menunjukkan reseptif yang kuat terhadap semua hal religious terkecuali berorientasi kemiliteran. Weber mengatakan bahwa wanita cenderung ikut andil dalam kegiatan keagamaan dengan keterlibatan emosional besar hingga titik yang disebut histeris.

D.    Stratifikasi Agama Islam pada Masyarakat Jawa
Clifford Gertz mengkategorisasikan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan besar yaitu sebagai berikut.
1.      Abangan
Kelompok abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim yang mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks dan cenderung mengikuti kepercayaan adat yang didalamnya mengandung unsur tradisi Hindu, Budha, dan Animisme.
2.      Santri
Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam. Substruktur sosial yang kedua, Pasar, diasosiasikan dengan kalangan Santri yang dihubungkan dengan elemen dagang (dan pada elemen tertentu di kalangan tani juga). Kalangan santri diidentikkan dengan kelompok yang melaksanakan doktrin-doktrin Islam yang lebih murni bukan saja pada tatacara pokok peribadatannya, namun juga dalam keseluruhan yang kompleks dari organisasi sosial (Geertz, 1981:7).
3.      Priyayi
Kelompok priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi atau sering disebut kaum bangsawan. Namun penggolongan ketiga kategorisasi ini tidaklah terlalu tepat, karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang, sedangkan pengelompokkan santri-abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam).

E.     Dampak Pandangan Seseorang terhadap Agama terkait Pelapisan Sosial
Agama memberikan pandangan yang berbeda-beda tentang kemiskinan. Orang-orang zuhud misalnya, masih menganggap kemiskinan sebagai suatu simbol ketulusan dan kesucian jiwa. Kecenderungan seperti ini memberikan kesan seolah-olah kelompok zuhud (asketis) tersebut mengkultuskan kemiskinan, sebab mereka tidak suka terhadap kesenangan duniawi. Setidak-tidaknya mereka berpandangan bahwa kemiskinan bukanlah suatu hal yang jelek dan harus dijauhi dan bukan merupakan sesuatu yang harus dipersoalkan. Kemiskinan merupakan anugrah Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya yang dicintai, agar hatinya selalu ingat akhirat dan dapat berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa terhalang oleh nafsu duniawi. Karenanya kemiskinan dipandang sebagai sarana terbaik menyiksa badan guna meningkatkan kualitas dan kesucian ruh secara efektif. Implikasi dari pandangan yang demikian terhadap agama menjadikannya “dengan senang hati mempertahankan diri” dalam lapisan sosial bawah. Seseorang menjadi tidak memiliki semangat untuk melakukan mobilitas sosial guna mencapai kelas sosial yang lebih tinggi.
Teologi memiliki peran yang cukup penting di dalam membentuk sikap dan cara pandang seseorang atau kelompok masyarakat terhadap realitas kehidupan yang dijalaninya. Pandangan seseorang terhadap masalah kemiskinan dan upaya-upaya untuk membebaskan dirinya dari jeratan kemiskinan bisa dibantu oleh paham teologis yang dianutnya. Karena itu, jika agama masih ingin menddapatkan tempat di hati kelompok masyarakat yang tertindas dan lemah maka agama harus dapat mengembangkan teologi pembebasan. Teologi pembebasan sangat diperlukan karena saat ini teologi konvensional cenderung sangat ritualistik, dogmatis dan metafisis. Akibatnya, agama hanya bersifat mistis dan hanya bisa menghipnotis masyarakat dengna doktrin-doktrinnya. Di sini teologi pembebasan diperlukan untuk merubah karakteristik teologi klasik dengan mengembangkan relevansi agama dengan problem kehidupan riil umat manusia. Ditegaskan bahwa agama bukan sekedar mengurusi masalah akhirat, atau sebaliknya.
Oleh karena itu, historisitas dan relevansi kontemporer agama sebagai wujud perhatiannya terhadap urusan duniawi harus dapat dipertemukan dengan urusan-urusan ukhrawinya. Ini merupakan prasyarat dasar untuk menjadikan agama sebagai sumber motivasi bagi kaum tertindas agar mereka dapat mengubah keadaan diri mereka. Agama dengan demikian akan menjadi kekuatan spiritual untuk mengangkat harkat kehidupan manusia. Agama menjadi semangat bagi seseorang dalam melakukan mobilitas sosial.
Sebagai contoh adalah seperti apa yang disampaikan oleh David McClelland dalam sebuah tulisan :
Saya sangat terkesan pada analisis tentang hubungan antara Protestanisme dan semangat kapitalisme yang dibuat oleh Max Weber. Ia mengatakan bahwa sifat-sifat yang membedakan antara wiraswasta Protestan taat dan pekerja biasa bukanlah karena mereka telah berhasil membentuk lembaga-lembaga kapitalisme atau memiliki keterampilan yang prima, melainkan karena mereka mengerjakan pekerjaannya dengan semangat baru. Doktrin kaum Calvins tentang nasib yang telah ditentukan sebelumnya telah memaksa mereka untuk memperhitungkan segala aspek kehidupan mereka secara rasional dan untuk bekerja keras guna membuat segala sesuatu sempurna sesuai dengan posisi mereka di dunia, seperti yang telah ditetapkan Tuhan (McClelland, 1971: 85).

Teologi pembebasan lebih menekankan pada aspek praksis ketimbang teorisasi metafisis yang mencakup konsep-konsep abstrak dan ambigu. Jika agama  tidak bisa menjadi sumber kebebasan dan perubahan maka agama hanya akan menjadi sesuatu yang formal tanpa memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari. Jika demikian halnya, maka orang akan memiliki cukup alasan untuk meninggalkan agama. 
Agama akan dapat memenuhi fungsi liberatifnya jika ia mampu menunjukkan keterlibatannya dalam kehidupan sosial-politis, di mana perubahan dan pembebasan menjadi inspirasi setiap agama. Doktrin tentang relevansi iman dengan amal shaleh sebagai mata rantai yang sinergis harus menjadi mainstream dalam mewujudkan perubahan sosial. Harus dipahami bahwa kemiskinan dan ketertindasan (penempatan seseorang pada lapisan sosial bawah) bukanlah problem dasar dari agama tetapi problem akibat pemahaman keagamaan secara parsial.




BAB III
KESIMPULAN

Masyarakat bukan saja struktur sosial yang stabil tetapi struktur sosial yang dinamis. Agama dan pelapisan sosial adalah dua hal yang berbeda. Meski demikian, stratifikasi atau pelapisan sosial tersebut menarik untuk dikaji dalam perspektif sosiologi agama. Kelas sosial merupakan suatu realitas sosial yang penting, bukan sekedar suatu konsep teoritis. Apakah agama bisa menjadi faktor penentu faktor kelas sosial dalam tatanan masyarakat, sangat dipengaruhi oleh interpretasi manusia atas agama.
Teologi memiliki peran yang cukup penting di dalam membentuk sikap dan cara pandang seseorang atau kelompok masyarakat terhadap realitas kehidupan yang dijalaninya. Kesalahan memahami prinsip–prinsip agama berkaitan dengan kelas sosial, menjadikan agama sering “dikambinghitamkan”. Agama akan dapat memenuhi fungsi liberatifnya jika ia mampu menunjukkan keterlibatannya dalam kehidupan sosial-politis, di mana perubahan dan pembebasan menjadi inspirasi setiap agama.
Di dalam sosiologi agama dilihat pula beberapa pandangan mengenai pengaruh agama atas lapisan-lapisan sosial dan sebaliknya yang terjadi pada golongan petani, pengrajin dan pedagang kecil, pedagang besar, karyawan, kaum buruh, kelas yang beruntung dan golongan elite dan hartawan, kategori orang dewasa dan muda, serta golongan wanita. Sedangkan Clifford Gertz memberikan perhatiannya pada masyarakat Jawa dan mengkategorisasikan ke dalam tiga golongan besar yaitu abangan, santri, dan priyayi.




DAFTAR  PUSTAKA

Abdul Munir Mulkham, dkk (ed: Muh. Asror Yusuf). 2006. Agama sebagai Kritik Sosial di tengah Arus Kapitalisme Global. Yogyakarta: IRCiSoD
Bryan S. Turner. 2006. Agama dan Teori Sosial; Rangka-Pikir Sosiologi dalam Membaca Eksistensi Tuhan di antara Gelegar Ideologi-ideologi Kontemporer. Yogyakarta: IRCiSoD
Dadang Kahmad. 2006. Sosiologi Agama. Bandung: Rosdakarya
D. Hendropuspito, O.C. 2006. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius



0 Response to "AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL"

Post a Comment

Contoh Penelitian Sederhana, Materi Sosiologi: Metode Penelitian Sosial (Problematika Proses Pembelajaran di Sekolah-Sekolah di Perkotaan)

Contoh Penelitian Sederhana, Materi Sosiologi: Metode Penelitian Sosial (Problematika Proses Pembelajaran di Sekolah-Sekolah di Perkotaa...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel