join venture 1

AGAMA DAN MORALITAS


AGAMA DAN MORALITAS

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap ajaran agama pada intinya mengajak umatnya untuk berbuat kebaikan, baik itu dari cara berhubungan dengan sang penciptanya, sesame manusia, bahkan dengan alam sekitarnya. Namun kadang kita sering salah kaprah tentang kebenaran yang dianut setiap agama. Kita cenderung melihat perbedaan yang ada di tiap-tiap agama sehingga seolah agama yang lain adalah salah. Dan agama kitalah yang paling benar, ini kalau pada tataran internal agama masing-masing pemeluknya sudah pasti agama yang dianut adalah agama yang paling benar, namun kalau berkaitan dengan hubungan eksternal dengan agama lain maka harus juga menghormati kebenaran agama lain yang tentunya terdapat pada batasan-batasan yang tidak mengganggu kesejahteraan pemeluk agama lain.
Kaitannya dengan moral terhadap antar umat beragama lebih ditekankan kepada bagaimana masing-masing umat beragama saling menghormati dan saling menghargai, bukankah dalam setiap agama sudah ada batasan-batasan yang bisa dinegosiasi, seperti dalam agama islam harus menghormati pemeluk agama lain selama itu tidak menyangkut masalah keyakinan. Misalnya dalam hal bergaul dalam kehidupan sehari-hari sebagai tetangga atau sesama anggota masyarakat, namun kalu kaitannya sampai pada tataran keyakinan seperti masalah ibadah itu sudah harus kembali kepada ajaran agama masing-masing.Untuk dapat lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama dan moralitas maka akan lebih jauh lagi dibahas dalam makalah ini.

B.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan agama?
2.      Apa yang dimaksud dengan moralitas?
3.      Bagaimana hubungan antara agama dengan moralitas?

C.    Tujuan
Mengetahui bagaimana hubungan antara agama dan moralitas .
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Agama
Mendefinisikan agama secara komprehensif yang mampu merangkum semua aspek nampaknya menjadi suatu permasalahan yang pelik bahkan mustahil untuk dilakukan mengingat luasnya aspek yang terkandung dalam agama itu sendiri. Elizabeth K. Nottingham, misalnya, menyatakan bahwa tidak ada definisi tentang agama yang benar-benar memuaskan karena agama dalam keanekaragamannya yang hampir tidak dapat dibayangkan itu memerlukan deskripsi (penggambaran) dan bukan definisi (batasan). Lebih jauh Nottingham menegaskan bahwa fokus utama perhatian sosiologi terhadap agama adalah bersumber pada tingkah laku manusia dalam kelompok sebagai wujud pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari dan peranan yang dimainkan oleh agama selama berabad-abad sampai sekarang dalam mengembangkan dan menghambat kelangsungan hidup kelompok-kelompok masyarakat.
Definisi agama yang dikemukakan oleh ketiga tokoh tersebut adalah sebagai berikut: Suatu agama ialah suatu sistem kepercayaan yang disatukan oleh praktek-praktek yang bertalian dengan hal-hal yang suci, yaitu hal-hal yang dibolehkan dan dilarang – kepercayaan dan praktek-praktek yang mempersatukan suatu komunitas moral yang disebut Gereja, semua mereka yang terpaut satu sama lain
Agama merupakan seperangkat bentuk dan tindakan simbolik yang menghubungkan manusia dengan kondisi akhir eksistensinya. Agama dapat dirumuskan sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktek dimana suatu kelompok manusia berjuang menghadapi masalah-masalah akhir kehidupan manusia. Definisi pertama yang dikemukakan oleh Durkheim merupakan definisi yang sudah cukup populer dan seringkali dikutip oleh kalangan sosiolog.


B.     Pengertian Moralitas.

            Moralitas berasal dari kata dasar “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan, kata jumlahnya “mores” yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores” adalah kesusilaan, kebiasaan. Sedangkan “moral” adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila.Kondisi mental yang membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.

            Moral secara etimologi diartikan: a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan kebiasaan yang berlaku pada kelompok tertentu, b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain ajaran tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam etika. Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma, aturan-aturan yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan tindakan manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak manusia. kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana sebenarnya tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk.
Moralitas yang secara klasikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat. Secara terminologi moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan aliran-aliran yang memiliki sudut pandang yang berbeda, namun kenyataannya dapat kita lihat di bawah ini, sebagai berikut:
W. Poespoprodjo, moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk atau dengan kata lain moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia. Lebih lanjut Franz Magnis Suseno menyatakan bahwa moralitas adalah sikap hati yang terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan merupakan ungkapan sepenuhnya dari hati), moralitas terdapat apabila orang mengambil sikap yang baik karena Ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan ia mencari keuntungan. Moralitas sebagai sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih.
Emile Durkheim mengatakan moralitas adalah suatu sistem kaidah atau norma mengenai kaidah yang menentukan tingka laku kita. Kaidah-kaidah tersebut menyatakan bagaimana kita harus bertindak pada situasi tertentu. Dan bertindak secara tepat tidak lain adalah taat secara tepat terhadap kaidah yang telah ditetapkan.
Dari pengertian tersebut di atas, dapat kita uraikan bahwa moralitas adalah suatu ketentuan-ketentuan kesusilaan yang mengikat perilaku sosial manusia untuk terwujudnya dinamisasi kehidupan di dunia, kaidah (norma-norma) itu ditetapkan berdasarkan konsensus kolektif, yang pada dasarnya moral diterangkan berdasarkan akal sehat yang objektif.
C.    Hubungan Agama dan Moralitas
Agama menjelaskan dan menunjukan nilai-nilai bagi pengalaman manusia yang sangat penting. Melalui agama, kehidupan lebih dapat dipahami dan secara pribadi lebih bermakna.
Geertz menganggap bahwa etos (seperangkat moral dan motivasi) bagian dari agama. Jika agama memfokuskan kepada sesuatu yang member makna kepada seluruh kehidupan, maka obyek yang dipuja harus menjadi sesuatu nilai yang signifikan atau sesuatu tang menjadi sumber ini. Didalam pemujaan, maka nilai sentral yang dipuja itu dikagumi, dihormati dan diyakini mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, serta diyakini mampu memberikan pertolongan dan sanksi kepada penganutnya.
Nilai moral sendiri merujuk kepada nilai-nilai kemanusiaan, itu tidak serta merta berarti bahwa nilai-nilai moral yang bersumber pada agama itu dinafikan. Justru ketika dialog dilakukan, nilai-nilai agama yang dianut pasti secara tidak langsung akan melebur di sana. Orang-orang yang terlibat dalam dialog pasti akan membawa aspirasi dan nilai-nilai agama yang diimaninya. Agama dan moralitas itu tidak sama. Namun, nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan itu sebetulnya tetap saling mengandaikan, saling memperkuat, dan mengembangkan satu sama lain. Antara moralitas dan agama itu sama sekali tidak saling menafikan dan meniadakan satu sama lain.
Kekuatan pengaruh agama terhadap nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari akan bervariasi antara berbagai jenis agama dan tergantung kepada ideology  masyarakat penganut agama itu. Selain itu hubungan kode moral dengan agama juga bervariasi, tergantung kepada struktur masyarakat. Bagaimanapun semua agama tampaknya berpengaruh kepada moralitas personal maupun sosial.
Kebanyakan kajian mengenai agama dam moral dibuat atas referensi agama tertentu dimasyarakat tertentu pula. Agama sangat erat berhubungan dengan ajaran moralitas kehidupan sehari-hari. Banyak moral masyarakat terkait erat dengan kepercayaan agama.
Fungsi agama terpenting adalah memberikan dasar metafisika bagi tatanan moral kelompok sosial dan memperkuat ketaatan terhadap norma. Karena agama dalam hal ini membantu memperkuat pelaksanaan norma dan aturan itu, bila ternyata tindakan individu bertentangan dengan keinginan atau kepentingan norma tersebut.
Agama menyajikan berbagai fungsi antara lain memberikan wawasan dunia yang mengurangi kebingungan dan berusaha menafsirkan makna ketidakadilan, penderitaan dan kematian; membentuk dasar-dasar kosmik bagi nilai dan system moralitas personal maupun sosial; merupakan sumber identitas rasa keanggotaan pada suatu kelompok agama tertentu, dll.
Selama ini agama selalu dikaitkan dengan moralitas. Hanya orang-orang beragama yang dianggap mampu menunjukkan sikap bermoral dan berintegritas. Semakin taat beragama, semakin bermoral lah ia. Sebaliknya semakin jauh dari agama, semakin bejat lah ia.
Moralitas adalah standar yang kita gunakan untuk menentukan baik dan buruk. Orang-orang beragama akan mengangkat tinggi-tinggi kitab suci mereka sebagai sumber moralitas tertinggi, panduan ilahi untuk menentukan baik dan buruk.Belum diketahui pasti bagaimana mekanisme moral bekerja dalam diri kita, namun manusia memang memiliki suatu alarm moral yang tertanam dalam dirinya. Saat melihat seorang nenek terjatuh dari tangga, alarm kita seketika akan berbunyi dan menyuruh kita berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Moralitas mungkin saja diperdebatkan serta dipertentangkan. Sebagian orang akan setuju bahwa wanita yang berpakaian minim itu tidak bermoral, tapi sebagian lain mungkin tidak menyetujuinya. Beragam alasan pun dapat mengemuka. Tapi ketika agama dipaksakan sebagai sumber moralitas dalam masyarakat, perdebatan ini akan rawan untuk dihentikan secara arogan. Agama itu suci dan absolut, sehingga standar yang telah ditetapkannya tak boleh dipertanyakan apalagi digugat.
Agama bahkan dapat mengandung standar moral yang bertentangan dengan alarm moral kita sendiri. Umat Islam di Indonesia yang menolak penerapan syariat hukum rajam menunjukkan bahwa alarm moral mereka masih bekerja sehingga mampu menolak mekanisme hukuman sadis semacam itu. Kita bisa menyebut alarm itu nurani, fitrah, intuisi, atau apa pun. Dan itu merupakan cara paling alami yang kita gunakan sebagai panduan dalam menjalani hidup. Mengikutinya secara jujur akan mendatangkan kedamaian jiwa, sesederhana itu. Tak perlu disogok surga atau ditakut-takuti dengan neraka seperti standar moral yang tertuang dalam agama.
Kekuatan pengaruh agama terhadap nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari akan bervariasi antara berbagai jenis agama dan terganmtung kepada ideology  masyarakat penganut agama itu. Selain itu hubungan kode moral dengan agama juga bervariasi, tergantung kepada struktur masyarakat. Bagaimanapun semua agama tampaknya berpengaruh kepada moralitas personal maupun sosial.




BAB III
KESIMPULAN

            Dari pemaparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa agama merupakan seperangkat bentuk dan tindakan simbolik yang menghubungkan manusia dengan kondisi akhir eksistensinya. Agama dapat dirumuskan sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktek dimana suatu kelompok manusia berjuang menghadapi masalah-masalah akhir kehidupan manusia.
 Sedangkan pengertian moralitas adalah suatu ketentuan-ketentuan kesusilaan yang mengikat perilaku sosial manusia untuk terwujudnya dinamisasi kehidupan di dunia, kaidah (norma-norma) itu ditetapkan berdasarkan konsensus kolektif, yang pada dasarnya moral diterangkan berdasarkan akal sehat yang objektif.
Kekuatan pengaruh agama terhadap nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari akan bervariasi antara berbagai jenis agama dan tergantung kepada ideology  masyarakat penganut agama itu. Selain itu hubungan kode moral dengan agama juga bervariasi, tergantung kepada struktur masyarakat. Bagaimanapun semua agama tampaknya berpengaruh kepada moralitas personal maupun sosial.
Kebanyakan kajian mengenai agama dam moral dibuat atas referensi agama tertentu dimasyarakat tertentu pula. Agama sangat erat berhubungan dengan ajaran moralitas kehidupan sehari-hari. Banyak moral masyarakat terkait erat dengan kepercayaan agama.





DAFTAR PUSTAKA
Djamari. 1988. Agama dalam Perspektif Sosiologi.
George Ritzer. 2008. Teori Sosiologi.
Diakses melalui, seratsosial.wordpress.com/2012/12/12/agama-dan-moralitas/. pada tanggal 12 April 2014                                                                                  



TUGAS Remidial dan Pengayaan XI IPS 1 (SAPI'I) SMA N 1 BANTUL

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi kelompok sosial" kelas XI IPS 1. N...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel