Individu, kelompok dan hubungan sosial (materi sosiologi kelas x)
Wednesday, 28 March 2018
Add Comment
BAHAN AJAR SOSIOLOGI
KELAS X
Semester 1
KOMPETENSI
DASAR
|
INDIKATOR
PENCAPAIAN KOMPETENSI
|
3.2.
Mengenali
dan mengidentifikasi realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial di
masyarakat.
|
3.2.1.
Mengidentifikasi
pengertian hubungan sosial dalam hubungan sosial di masyarakat
3.2.2
Menjelaskan
faktor-faktor pendorong hubungan sosial dalam masyarakat
3.2.3.
Menguraikan
pola-pola hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat
3.2.4.
Menjelaskan
syarat dan bentuk hubungan sosial yang membentuk hubungan sosial di
masyarakat
3.2.5.
Menelaah dan memberikan contoh hubungan sosial antar individu,
individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
|
4.2.
Mengolah
realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial sehingga mandiri dalam
memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat.
|
4.2.1.
Mengamati
berbagai bentuk hubungan sosial antar individu dan antar kelompok di dalam
masyarakat
4.2.2
Mempresentasikan
hasil pengamatan mengenai berbagai bentuk hubungan sosial antar individu dan
antar kelompok di dalam masyarakat
4.2.3.
Merancang
peran ideal individu di dalam hubungan antar individu, individu dengan
kelompok maupun hubungan antar kelompok.
|
BAB 2
A. Individu, kelompok dan hubungan
sosial
1. Pengertian hubungan sosial
2. Faktor pendorong hubungan sosial
3. Pola Hubungan sosial
4. Syarat hubungan sosial
5. Bentuk hubungan sosial
A. Individu, kelompok dan hubungan
sosial
Sejak kapan manusia
melakukan interaksi sosial? Tentu saja sejak manusia hadir di muka bumi ini
telah ada interaksi sosial antar manusia walaupun dalam skop yang lebih kecil.
Ini dapat kita lihat dari adanya naluri manusia untuk selalu hidup bersama
orang lain dan ingin bersatu dengan lingkungan sosialnya. Pengaruh dan hubungan
timbal balik terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok
individu dan kelompok individu dengan kelompok individu. Interaksi sosial
terdiri dari stimulan, respon, aksi, dan reaksi. Interaksi merupakan materi
yang paling dasar dalam mempelajari sosiologi.
1. Pengertian Hubungan sosial
Hubungan sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut
hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau
antara kelompok dengan kelompok,
baik berbentuk kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian.
2. Faktor Pendorong Hubungan sosial
Hubungan sosial yang
terjadi di masyarakat didasarkan pada berbagai faktor, antara lain imitasi,
sugesti, identifikasi, simpati, motivasi, dan empati. Faktor-faktor tersebut
dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah ataupun saling berkaitan.
Imitasi
Imitasi merupakan suatu
tindakan meniru sikap, tingkah laku,
atau penampilan orang lain. Tindakan ini pertama kali dilakukan manusia di dalam keluarga dengan meniru kebiasaan-kebiasaan anggota keluarga yang lain, terutama
orang tuanya. Imitasi akan terus berkembang ke lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat.
Dalam hubungan sosial, imitasi dapat bersifat positif, apabila
mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
sehingga tercipta keselarasan dan keteraturan sosial. Namun, imitasi juga dapat
berpengaruh negatif, apabila yang dicontoh itu adalah perilaku-perilaku
menyimpang. Akibatnya berbagai penyimpangan sosial terjadi di masyarakat yang
dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan sosial budaya. Imitasi yang berlebihan
dapat melemahkan bahkan mematikan daya kreativitas manusia.
Sugesti
Sugesti adalah cara
pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan
cara tertentu, sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh
tersebut tanpa berpikir secara kritis dan rasional. Sugesti terjadi karena
pihak yang menerima anjuran itu tergugah secara emosional dan biasanya emosi
ini menghambat daya pikir rasionalnya.
Identifikasi
Identifikasi adalah
kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi ‘sama’ dengan
orang lain yang menjadi idolanya. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut
dari imitasi dan sugesti. Dengan identifikasi seseorang mencoba menempatkan
diri dalam keadaan orang lain, atau ‘mengidentikkan’ dirinya dengan orang lain.
Proses identifikasi ini tidak hanya meniru pada perilakunya saja, bahkan
menerima kepercayaan dan nilai yang dianut orang lain tersebut menjadi
kepercayaan dan nilainya sendiri.
Proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana
seseorang yang melakukan identifikasi benar-benar mengenal orang lain yang
menjadi tokoh atau idolanya, baik secara langsung maupun tidak langsung
(melalui televisi). Contohnya seorang remaja yang mengubah penampilannya, mulai
dari cara berpakaian, cara berbicara, dan model rambut sesuai dengan artis
idolanya. Iamengidentifikasikan dirinya dengan artis tersebut.
Simpati
Simpati adalah perasaan
‘tertarik’ yang timbul dalam diri seseorang dan kemampuan untuk merasakan diri
kita seolaholah berada dalam keadaan orang lain. Simpati bisa disampaikan
kepada seseorang, kelompok, atau institusi. Dalam simpati seseorang ikut larut
merasakan apa yang dialami, dilakukan, dan diderita oleh orang lain. Misalnya
kita merasa sedih melihat penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa
musibah gempa dan tsunami di daerah Pangandaran, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Motivasi
Motivasi merupakan
dorongan, rangsangan, pengaruh yang diberikan oleh individu kepada individu
lain, sehingga individu yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa
yang diberikan itu secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab.
Motivasi juga dapat diberikan oleh individu kepada kelompok, kelompok kepada
kelompok, atau bahkan kelompok kepada individu. Contohnya untuk memotivasi
semangat belajar siswanya, seorang guru memberikan tugas-tugas yang berhubungan
dengan materi yang telah disampaikan.
Empati
Empati adalah proses
kejiwaan seseorang untuk larut dalam perasaan orang lain, baik suka maupun
duka. Contohnya apabila kamu melihat orang tua temanmu meninggal dunia. Kamu
tentu ikut merasakan penderitaan dan kesedihan temanmu. Kamu seolah-olah juga
ikut merasakan kehilangan seperti yang dirasakan oleh temanmu.
4. Syarat Hubungan sosial
Syarat utama terjadinya suatu hubungan sosial adalah adanya
kontak sosial (social contact) dan komunikasi (communication).
Kontak Sosial
Kontak berasal dari kata Latin cum atau con yang
berarti Bersama sama, dan tangere yang memiliki arti menyentuh. Jadi,
secara harafiah kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian
sosiologis, kontak merupakan gejala sosial, di mana orang dapat mengadakan
hubungan dengan pihak lain tanpa mengadakan sentuhan fisik, misalnya berbicara
dengan orang lain melalui telepon, surat, dan sebagainya. Jadi, kontak sosial
merupakan aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna
bagi si pelaku dan si penerima, dan si penerima membalas aksi itu dengan
reaksi. Kita membedakan kontak berdasarkan cara, sifat, bentuk, dan tingkat
hubungannya.
Komunikasi
komunikasi adalah tindakan seseorang menyampaikan pesan terhadap
orang lain dan orang lain itu memberi tafsiran atas sinyal tersebut serta
mewujudkannya dalam perilaku. Dari uraian di atas, tampak bahwa komunikasi
hampir sama dengan kontak. Namun, adanya kontak belum tentu berarti terjadi
komunikasi. Komunikasi menuntut adanya pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan
Bersama antara masing-masing pihak. Dalam komunikasi terdapat empat unsur,
yaitu pengirim, penerima, pesan, dan umpan balik.
1)
Pengirim (sender) atau
yang biasa disebut communicator adalah pihak yang mengirimkan pesan
kepada orang lain.
2)
Penerima (receiver) yang biasa disebut communicant
adalah pihak yang menerima pesan dari sender.
3)
Pesan (message)
adalah isi atau informasi yang disampai- kan pengirim kepada penerima.
4)
Umpan balik (feed back) adalah reaksi
dari penerima atas pesan yang diterima.
5.
Bentuk
Hubungan Sosial
Bentuk-bentuk hubungan
sosial terbagi dua, yaitu proses asosiatif (kerja sama, akomodasi, asimilasi,
akulturasi) dan proses disosiatif (persaingan, kontravensi, pertikaian, konflik
sosial).
A.
Proses Asosiatif
Pada hakikatnya proses ini mempunyai kecenderungan untuk membuat
masyarakat bersatu dan meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok.
Kita mengenal empat bentuk proses asosiatif, yaitu kerja sama, akomodasi,
asimilasi, dan akulturasi.
1.
Kerja Sama
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan
atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia
berinteraksi dengan sesamanya. Kebiasaan dan sikap mau bekerja sama dimulai
sejak kanak-kanak, mulai dalam kehidupan keluarga lalu meningkat dalam kelompok
sosial yang lebih luas. Kerja sama berawal dari kesamaan orientasi.
Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa
mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan
mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi
kepentingan tersebut. Kesadaran akan adanya kepentingan yang sama dan adanya
organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam menjalin kerja sama.
Di dalam masyarakat, kerja sama dibedakan menjadi lima jenis,
yaitu sebagai berikut:
a.
Bargaining; pelaksanaan
perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua
organisasi atau lebih. Dalam arti yang lebih luas, bargaining adalah nilai
tawar. Bargaining dilakukan agar proses kerjasama dapat memberi keuntungan secara
adil bagi kedua belah pihak, misalnya proses jual beli di pasar.
b.
Kooptasi, proses
penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam
suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya
kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
c.
Koalisi, gabungan dua
kelompok atau lebih yang berusaha mencapai tujuan sama. Misalnya, dua atau
lebih partai politik berkoalisi untuk untuk mengajukan seorang calon presiden.
d.
Joint venture, bentuk
kerjasama yang dilakukan oleh dua organisasi (perusahaan) dalam melaksanakan
suatu pekerjaan (proyek). Misalnya Pertamina mengadakan join venture dengan salah satu perusahaan minyak internasional
untuk mengeksplorasi ladang minyak di Blok Cepu, Jawa Tengah.
e.
Kerukunan yang mencakup
gotong-royong dan tolong-menolong.
2. Akomodasi
Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri dari orang
perorang atau kelompok-kelompok manusia yang semula saling bertentangan sebagai
upaya untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Tujuan dari akomodasi
adalah terciptanya keseimbangan hubungan sosial dalam kaitannya
dengan norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat. Ini dapat
digunakan untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan menghargai
kepribadian yang berkonflik atau dengan cara paksaan atau tekanan.
Bentuk-bentuk akomodasi antara lain:
a.
Coersion
Suatu bentuk akomodasi yang terjadi melalui pemaksaan kehendak pihak
tertentu terhadap pihak lain melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap
pihak lain yang lebih lemah.
b.
Kompromi
Suatu bentuk akomodasi ketika pihak-pihak yang terlibat
perselisihan saling mengurangi tuntutan agar tercapai suatu penyelesaian, semua
pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya.
c.
Arbitrasi
Suatu bentuk akomodasi apabila pihak-pihak yang berselisih tidak
sanggup mencapai kompromi sendiri. Untuk itu, akan diundang pihak ketiga yang
tidak memihak (netral) untuk mengusahakan penyelesaian pertentangan tersebut.
Pihak ketiga disini dapat pula ditunjuk atau dilaksanakan oleh suatu badan yang
dianggap berwenang.
d.
Mediasi
Suatu bentuk akomodasi yang hampir sama dengan arbitrasi. Namun,
pihak ketiga yang bertindak sebagai penengah atau juru damai tidak mempunyai
wewenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan antara
kedua belah pihak.
e.
Konsiliasi
Suatu bentuk akomodasi untuk mempertemukan keinginankeinginan dari
pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
f.
Toleransi
Suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang resmi. Biasanya
terjadi karena adanya keinginan-keinginan untuk sedapat mungkin menghindarkan diri
dari perselisihan yang saling merugikan kedua belah pihak.
g.
Stalemate
Suatu bentuk akomodasi ketika kelompok yang terlibat
pertentangan mempunyai kekuatan seimbang.
h.
Ajudikasi
Penyelesaian masalah atau sengketa melalui pengadilan atau jalur
hukum.
3. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai
dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang
terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang
meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan
proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama.
Artinya, apabila orang-orang melakukan asimilasi ke dalam suatu
kelompok manusia atau masyarakat maka tidak lagi membedakan dirinya
dengan kelompok tersebut. Secara singkat proses asimilasi adalah peleburan
dua kebudayaan menjadi satu kebudayaan. Tetapi hal ini tidak semudah
yang dibayangkan karena banyak faktor yang memengaruhi suatu budaya itu dapat
melebur menjadi satu kebudayaan.
Faktor-faktor yang dapat
mempermudah terjadinya proses asimilasi, yaitu:
a.
toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan saling menerima
unsurunsur kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan
sendiri;
b.
kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi sehingga dapat mengurangi kecemburuan sosial;
c.
sikap menghargai orang asing dengan segala kebudayaan yang dimilikinya;
d.
sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat;
e.
perkawinan campuran antara beberapa kelompok (amalgamasi);
f.
persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan;
g.
masuknya unsur-unsur atau musuh berbahaya dari luar yang harus dihadapi bersama.
Adapun faktor-faktor yang
menghambat terjadinya proses asimilasi adalah:
a.
kehidupan masyarakat yang terisolir dari masyarakat umum,
b.
kurangnya pengetahuan terhadap kebudayaan lain,
c.
kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain,
d. perasaan primordial atau
merasa kebudayaan sendiri lebih baik daripada kebudayaan kelompok lain,
e. adanya perbedaan yang
mencolok dalam hal ras, teknologi, dan ekonomi,
f.
adanya etnosentrisme atau menilai kelompok lain berdasarkan ukuran kelompok
sendiri, sehingga kelompok lain selalu tampak lebih buruk,
g. golongan minoritas yang
mengalami gangguan dari golongan yang berkuasa,
h. adanya perbedaan
kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi yang dapat menyebabkan
terhambatnya proses asimilasi.
4. Akulturasi
Menurut Koentjaraningrat, akulturasi diartikan sebagai suatu
proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia kebudayaan
tertentudihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian
rupa sehingga unsur-unsurnya kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan
tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Proses
akulturasi yang berlangsung dengan baik dapat menghasilkan integrasi
unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur- unsur kebudayaan sendiri. Yang paling mudah menerima
kebudayaan asing adalah generasi muda. Coba kalian amati begitu mudahnya kalian
menerima perkembangan model rambut penyanyi barat
atau model pakaian artis luar negeri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing
yang mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan, peralatan-peralatan yang
sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer,
handphone, mobil, dan lain-lain. Sedangkan unsur kebudayaan asing yang sulit
diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan atau nilai
tertentu yang menyangkut prinsip hidup seperti komunisme, kapitalisme,
liberalisme, dan lain-lain.
Unsur-unsur yang mudah diterima dalam alkulturasi antara lain:
a. kebudayaan material;
b. teknologi baru yang manfaatnya cepat dirasakan dan mudah
dioperasikan, misalnya kebudayaan pertanian (alat-alat, pupuk, dan benih);
c. kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat
(kesenian, olahraga);
d. kebudayaan yang pengaruhnya kecil, misalnya model pakaian.
Unsur-unsur kebudayaan yang sukar di terima antara lain:
a. kebudayaan yang mendasari pola pikir masyarakat, misalnya unsur
keagamaan;
b. kebudayaan yang mendasari proses sosialisasi yang sangat meluas
dalam kehidupan masyarakat, misalnya makanan pokok, sopan-santun, dan mata pencaharian.
Individu/orang yang mudah menerima budaya asing, yaitu:
a. golongan muda yang belum memiliki identitas dan kepribadian yang
mantap;
b. golongan masyarakat yang hidupnya belum memiliki status yang
penting;
c. kelompok masyarakat yang hidupnya tertekan, misalnya
pengangguran dan penduduk terpencil.
B.
Proses Disosiatif
1.
Persaingan
Persaingan merupakan suatu proses sosial ketika ada dua pihak
atau lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu.
Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya
sangat terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian
umum.
2.
Kontravensi
Kontravensi merupakan proses sosial yang ditandai oleh
ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan
penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka. Penyebabnya antara lain
perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan kalangan lain dalam
masyarakat, atau bisa juga dengan pendirian masyarakat.
3.
Pertikaian
Pertikaian merupakan proses sosial bentuk lanjut dari kontravensi. Artinya dalam pertikaian perselisihan
sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi
karena semakin tajamnya perbedaan antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Pertikaian dapat muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan
atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain dengan cara ancaman atau
kekerasan.
4.
Konflik
Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan
jalan menantang pihak lawan yang
disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik selama ini banyak dipersamakan dengan kekerasan. Namun
sesungguhnya konflik berbeda dengan
kekerasan. Kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya
orang lain atau juga menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
Konflik dapat berubah menjadi
kekerasan apabila upaya-upaya yang berkaitan dengan tuntutan akan dapat menimbulkan gerakan yang mengarah
pada kekerasan. Menurut Robert Lawang,
konflik adalah perjuangan untuk memperoleh
nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk
menundukkan saingannya. Konflik sosial merupakan proses sosial antarperorangan
atau kelompok suatu masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar
sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal hubungan
sosial di antara pihak yang bertikai.
0 Response to " Individu, kelompok dan hubungan sosial (materi sosiologi kelas x)"
Post a Comment