join venture 1

Fungsi Sosiologi Untuk Mengkaji Gejala Sosial di Masyarakat


BAHAN AJAR SOSIOLOGI
KELAS X
Semester 1

KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
3.1
Memahami pengetahuan dasar Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk mengkaji gejala sosial di masyarakat.

3.1.1.
Mengidentifikasi konsep dasar sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji gejala sosial yang ada di masyarakat

3.1.2
Menjelaskan Teori  dan objek kajian sosiologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan

3.1.3.
Menyimpulkan hakikat sosiologi sebagai ilmu

3.1.4.
Merumuskan fungsi sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji gejala sosial di masyarakat
4.1.
Menalar suatu gejala sosial di lingkungan sekitar dengan menggunakan pengetahuan sosiologis.

4.1.1.
Mengamati dan mendiskusikan berbagai gejala sosial yang ada di masyarakat dari sudut pandang sosiologi

4.1.2.
Mempresentasikan hasil pengamatan tentang berbagai gejala sosial yang ada di masyarakat





Fungsi Sosiologi Untuk Mengkaji Gejala Sosial di Masyarakat

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai bagaimana kita harus berperilaku dan berhubungan dengan masyarakat, ada baiknya kamu mengetahui dahulu apa sebenarnya pengetahuan dasar sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan fungsinya dalam mengkaji gejala sosial yang ada di masyarakat. Nah, pada bab ini kamu akan mempelajari tentang sosiologi, dari apakah sosiologi itu, apa saja objek kajian sosiologi,   hingga fungsi dan manfaat yang dapat kamu peroleh dengan mempelajari sosiologi.


  
BAB 1

A.    Konsep Dasar Sosiologi
1.      Pengertian Sosiologi
2.      Teori Sosiologi
3.      Objek Kajian Sosiologi
4.      Hakikat Sosiologi Sebagai Ilmu
5.      Hubungan Sosiologi dan Gejala Sosial
B.     Fungsi dan Manfaat Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji

 A.    Konsep Dasar Sosiologi
1.      Pengertian Sosiologi
Apa itu sosiologi? Setelah merenungkan mengenai kerja bakti yang ada di lingkungan masyarakat serta tindakan tolong menolong antar masyarakat membuat kita sedikit mengetahui mengenai sosiologi. Pernahkah terlintas dibenak kalian ketika manusia hanya hidup sendiri tanpa ada orang lain disekitarnya, apa yang akan terjadi? Ya tentunya akan sangat sulit ketika kita hidup sendiri tanpa bantuan dan tanpa adanya interaksi dengan orang lain. Manusia itu adalah mahluk yang unik karena berbeda satu sama lain, bahkan manusia yang memiliki kembar identikpun pasti memiliki perbedaan, baik perbedaan fisik, perilaku, kemampuan, dan lain sebainya.

Pernahkah kamu berpikir mengapa setiap orang mempunyai perilaku yang berbeda-beda? Mengapa orang melakukan hubungan dengan orang lain? Jika kita mau melihat masyarakat lebih kritis, terdapat tingkatan-tingkatan di dalamnya. Inilah sosiologi. Dengan kata lain, asal mula terbentuknya sosiologi atas dasar keinginan untuk memahami manusia itu sendiri dari segi sosialnya (masyarakat). Istilah sosiologi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata socius dan logos (Soerjono Soekanto: 1990). Socius artinya teman atau kawan dapat juga diartikan sebagai pergaulan hidup manusia atau masyarakat dan logos artinya berbicara, mengajar atau ilmu. Dengan demikian, secara sederhana sosiologi berarti ilmu tentang hubungan antarteman. Secara umum, sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat.
Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat. Sosiologi bermaksud untuk mengkaji kejadian-kejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Istilah sosiologi pertama kali digunakan Auguste Comte untuk mempelajari keadaan masyarakat Eropa pada saat itu. Sosiologi sebagai ilmu mulai dikenal sejak abad ke-19 dengan melepaskan diri dari filsafat. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antarmanusia dalam kehidupan. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk, tumbuh, dan berubahnya kumpulan-kumpulan manusia yang hidup bersama itu, serta kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.
Singkatnya, sosiologi merupakan ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakat (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakat), serta ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agama, tingkah laku, dan kesenian atau kebudayaan masyarakat tersebut.

2.      Teori – Teori Sosiologi
Setelah membahas mengenai pengertian sosiologi yang bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan industrialisasi, sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu sosiologi. Beberapa persoalan seperti munculnya kelas-kelas sosial, berkembangnya kriminalitas, berkembangnya urbanisasi, berkembangnya kemiskinan, dan lain sebagainya mendapat perhatian secara serius oleh para sosiolog melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian yang dilaksanakan secara terus menerus seperti itulah yang mendorong berkembangnya ilmu sosiologi. Berikut ini akan dijelaskan mengenai beberapa teori-teori sosiologi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh sosiologi di dunia yang populer sampai saat ini.
a.      Auguste Comte
Taukah kalian bahwa tokoh yang pertama kali memberikan nama sosiologi adalah Auguste Comte. Auguste Comte  (nama panjangnya Isidore Marie Auguste Fran├žois Xavier Comte) lahir pada tanggal 19 januari 1798 di Kota Montpellier di Perancis Selatan (Pickering, 1993: 7).
Berkat jasa-jasanya yang besar dalam meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi, Auguste Comte dianggap sebagai Bapak Sosiologi. Menurut pemikirannya, sosiologi terdiri atas dua bagian penting, yaitu social statistic dan social dynamics. Sebagai social statistic, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga sosial. Sedangkan sebagai social dynamics, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan lembaga-lembaga sosial yang ada di tengah tengah masyarakat.
Comte percaya bahwa pendekatan ilmiah untuk memahami masyarakat akan membawa pada kemajuan kehidupan sosial yang lebih baik. Ini didasari pada gagasannya tentang Teori Tiga Tahap Perkembangan. Perkembangan tersebut pada hakikatnya melewati tiga tahap, sesuai tahap-tahap pemikiran manusia yaitu:

1)   Tahap teologis
Pada tahap teologis ini, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala alam. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia. Tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan lebih tinggi dari pada makhluk-makhluk selain insani. Pada tahap ini masyarakat mempercayai kekuatan Tuhan, Roh, dan Dewa-Dewa
Contoh: Sebagaian masyarakat Indonesia masih percaya denagan kekuatan-kakuatan ghaib. Misalnya kepercayaan masyarakat jawa akan Nyi Roro Kidul dan penunggu Gunung Merapi.

2)   Tahap metafisis
Pada tahap ini pengetahuan manusia berdasar pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak yang menggantikan kedudukan kuasa-kuasa adikodrati. Tahap ini bisa juga disebut sebagai tahap transisi dari pemikiran Comte. Tahapan ini sebenarnya hanya merupakan varian dari cara berpikir teologis, karena di dalam tahap ini dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak, dengan pengertian atau dengan benda-benda lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang disebut dengan alam. Terjemahan metafisis dari monoteisme itu misalnya terdapat dalam pendapat bahwa semua kekuatan kosmis dapat disimpulkan dalam konsep “alam”, sebagai asal mula semua gejala.
Pada tahap metafisik manusia mempercayai kekuatan alam tanpa pembuktian Ilmiah Manusia belum berusaha untuk mencari sebab dan akibat gejala-gejala.
Contoh: percaya kepada batu besar, pohon, dan lain sebagainya

3)   Tahap positif
Tahap positifis yaitu tahap dimana pengetahuan manusia berdasar atas fakta-fakta. Pengetahuan positif adalah pengetahuan tertinggi kebenarannya yang dicapai manusia. Pada tahap ini manusia telah sanggup untuk berfikir secara ilmiah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.


b.      Herbert Spencer
Tokoh selanjutnya yang akan kita bahas adalah Herbert Spencer. Spencer lahir pada 27 April 1820 di kota kecil Derbyshire, Midland, Inggris. Sebagai anak tunggal seorang guru sekolah. Herbert Spencer, mengetengahkan sebuah teori tentang “evolusi sosial”, yang hingga kini masih dianut walaupun di sana-sini ada perubahan. Ia menerapkan secara analog teori Darwin mengenai “teori evolusi” terhadap masyarakat manusia. la yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri.

Soekanto (1990:484-485) mendefinisikan evolusi sebagai serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan dan kumulatif yang terjadi dengan sendirinya dan memerlukan waktu lama. Evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang  terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perubahan ini tidak harus sejalan dengan rentetan  peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

Menurut Soekanto (1990:345-347), teori tentang evolusi dapat dikategorikan dalam  tiga kategori:
1)      Unilinear theories of evolution.
Teori ini berpendapat bahwa manusia  dan masyarakat (termasuk kebudayaannya) mengalami perkembangan melalui tahapan tertentu, mulai dari bentuk sederhana menuju ke yang lebih kompleks (madya dan modern) dan akhirnya menjadi sempurna (industrial, sekuler). Pelopor teori ini antara lain adalah August Comte dan  Herbert Spencer. Variasi teori ini adalah Cyclical theories yang dipelopori oleh Vilfredo Pareto dengan mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan mempunyai tahap-tahap perkembangan yang merupakan lingkaran yang pada tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Pendukung teori ini adalah Pitirim A. Sorokin yang mengemukakan teori dinamika sosial dan kebudayaan. Menurut Sorokin, masyarakat berkembang melalui tahap kepercayaan, tahap kedua dasarnya adalah indera manusia, dan tahap terakhir dasarnya adalah kebenaran.
2)      Universal theory of evolution.
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap perkembangan tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Spencer mengemukakan prinsip-prinsipnya yaitu antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan sifat maupun  susunannya dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen.
3)      Multilined theories of evolution.
Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang pengaruh sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian kekeluargaan dalam masyarakat.

Tahap-tahap dalam proses evolusi sosial dengan tipe-tipe masyarakat, dibagi oleh Spencer menjadi tiga bagian sebagai berikut.
1)      Tipe Masyarakat Primitif


Pada masyarakat primitif dikatakan bahwa belum ada diferensiasi dan spesialisasi fungsional. Pembagian kerja masih sedikit. Hubungan kekuasaan belum jelas terlihat. Masyarakat dengan tipe ini sangat tergantung kepada lingkungan. Kerja sama sudah terjadi dengan spontan dan didukung oleh hubungan kekeluargaan.
2)      Tipe Masyarakat Militan
Pada masyarakat militan ini, heterogenitas sudah mulai meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk atau karena penaklukan. Hal yang penting ialah koordinasi tugas-tugas yang dikhususkan, dilakukan dengan paksaan. Cara ini memerlukan sistem-sistem atau bagian-bagian yang dapat mengatur dirinya sendiri. Kerja sama yang tidak sukarela ini dijamin keberlangsungannya oleh seorang pemimpin, kemudian oleh negara secara nasional. Pengendalian oleh negara terbatas pada produksi, distribusi, dan pada bidang-bidang kehidupan.
3)      Tipe Masyarakat Industri
Pada masyarakat industri bercirikan suatu tingkat kompleksitas yang sangat tinggi, yang tidak lagi dikendalikan oleh kekuasaan negara. Sebagai penggantinya masyarakat mengendalikan diri sendiri, seperti hak menentukan diri sendiri, kerja sama sukarela, dan keseimbangan berbagai kepentingan. Kondisi ini mengakibatkan individualisasi yang ditandai dengan berkurangnya campur tangan pemerintah daerah.

c.       Emile Durkheim
Sosiolog besar ini dilahirkan di Epinal suatu perkampungan kecil orang Yahudi di Bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas pada tanggal 15 April 1858. Empat buah buku ditulis Durkheim untuk mengukuhkan dirinya sebagai sosiolog besar, buku pertama ialah disertasi doktornya dari Unversitas Sorbone berjudul One the Division of Social Labor yang diterbitkan tahun 1893, Buku kedua berjudul The Rules of Sociological Method terbit tahun 1895, buku ketiga berjudul Suicide terbit tahun 1897, dan buku keempat berjudul The Elementary forms of Religious life terbit tahun 1912.
Menurut Durkheim, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Tahukah kamu apakah fakta sosial itu? Fakta sosial adalah setiap cara bertindak yang telah baku ataupun tidak, yang dapat melakukan pemaksaan terhadap individu. Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu. Fakta sosial bisa berupa cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan ciri-ciri tertentu yang berada di luar kesadaran individu. Fakta sosial bersifat umum, dalam arti tersebar merata dan menjadi milik kolektif, bukan sekadar hasil penjumlahan beberapa fakta individu. Contohnya hukum, adat istiadat, dan cara berpakaian.
Dalam mengkaji masyarakat, Durkheim lebih menekankan pada kesadaran kolektif (collective consciousness) sebagai dasar dari suatu keteraturan sosial atau lebih menekankan pada kerja sama yang mencerminkan konsensus moral sebagai proses sosial yang paling mendasar.
Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberinya kejelasan serta identitas tersendiri, Durkheim menyatakan bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atas fakta sosial. Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor.
Hal yang penting dalam pemisahan sosiologi dari filsafat adalah ide bahwa fakta sosial dianggap sebagai “sesuatu” dan dipelajari secara empiris. Artinya, bahwa fakta sosial mesti dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui observasi dan eksperimen.
Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.
Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial tidak bisa direduksi kepada individu, namun mesti di pelajari sebagai realitas mereka. Durkheim menyebut fakta sosial dengan  istilah latin sui generis, yang berarti “unik”. Durkheim menggunakan istilah ini untuk menjelaskan bahwa fakta sosial memiliki karakter unik yang tidak bisa direduksi menjadi sebatas kesadaran individual. Jika fakta sosial dianggap bisa dijelaskan dengan merujuk pada individu, maka sosiologi akan tereduksi menjadi psikologi.
Selain  teori mengenai fakta sosial dan kesadaran kolektif Durkheim juga mengemukakan gagasanya mengenai solidaritas yang ada di masyarakat. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas dengan membedakan dua tipe utama solidaritas yaitu solidaritas mekanis yang merupakan tipe solidaritas yang didasarkan pada persamaan dan biasanya ditemui pada masyarakat sederhana (desa) dan solidaritas organis yang ditandai dengan adanya saling ketergantungan antarindividu atau kelompok lain (masyarakat kota), masyarakat tidak lagi memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Lambat laun ada pembagian kerja di dalam masyarakat (munculnya diferensiasi dan spesialisasi) semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis. Pada masyarakat dengan solidaritas organis masing-masing anggota masyarakat tidak lagi dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri melainkan ditandai oleh saling ketergantungan yang besar dengan orang atau kelompok lain. Solidaritas organis merupakan suatu sistem terpadu yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung seperti bagian-bagian suatu organisme biologis. Berbeda dengan solidaritas mekanis yang didasarkan pada hati nurani kolektif maka solidaritas organis didasarkan pada akal dan hukum.
Teori yang terkenal dari Durkheim yang selanjutnya adalah mengenai bunuh diri. Emile Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena kongkrit dan sfesifik, dimana tersedia data yang bagus cara komperatif .akan tetapi , alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin sosiologi . Dia melakukan penelitian tentang angka bunuh diri di beberapa negara di Eropa.
Durkheim membagi tipe  bunuh diri ke dalam 4 macam :
1)      Bunuh diri Egoistis
Tingginya angka bunuh diri egoitis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas . Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat ,
2)      Bunuh Diri Altruistis
Terjadi ketika intergrasi sosial yang sangat kuat, secara harfiah dapat di katakan individu terpaksa melakukan bunuh diri. Salah satu contohnya adalah bunuh diri massal dari pengikut pendeta Jim Jones di jonestown, Guyana pada tahun 1978. Contoh lain bunuh diri di jepang (harakiri).
3)      Bunuh Diri Anomic
Bunuh diri ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan tersebut mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Bunuh diri ini terjadi ketika menempatkan orang dalam situasi normal lama tidak berlaku lagi sementara norma baru di kembangkan (tidak ada pegangan hidup).
4)      Bunuh Diri Fatalistis
Bunuh diri ini terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim menggambarkan seseorang yang mau melakukan bunuh diri ini seperti seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas. Contoh: perbudakan.
d.      Max Weber
Max Weber lahir di Erfurt pada tahun 1864. Menyelesaikan studi di bidang hukum, ekonomi, sejarah, filsafat, teologi dan mengajar disiplin ilmu-ilmu tersebut di berbagai universitas di Jerman. Serta terus menerus menyebarluaskan terbentuknya ilmu sosiologi yang saat itu masih berusia muda. Karya penting dari Weber berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang berisi hubungan antara Etika Protestan dalam hal ini Sekte Kalvinisme dengan munculnya perkembangan kapitalisme. Menurut Weber, ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk bekerja keras dengan harapan dapat menuntun mereka ke surga dengan syarat bahwa keuntungan dari hasil kerja keras tidak boleh untuk berfoya-foya atau bentuk konsumsi lainnya. Hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan menjadikan para penganut agama ini semakin makmur karena keuntungan yang dihasilkan ditanamkan kembali menjadi modal. Dari sinilah menurut Weber kapitalisme di Eropa berkembang pesat.
Selain teori etika protestan, Max Weber juga mengemukakan teori verstehen yang sangat terkenal. Baginya, sosiologi adalah ilmu yang memiliki kelebihan daripada ilmuan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiolog untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa tentang perilaku atom atau ikatan kimia. Kata pemahaman dalam bahasa Jerman adalah verstehen.
Dengan kata lain verstehen adalah suatu metode pendekatan yang berusaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa sosial dan historis. Pendekatan ini bertolak dari gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para aktor yang terlibat di dalamnya.

e.       Karl Marx
Lahir di Jerman pada tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniawan Yahudi. Pada tahun 1814 mengakhiri studinya di Universitas Berlin. Karena pergaulannya dengan orang-orang yang dianggap radikal terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi pengajar di Universitas dan menerjunkan diri ke kancah politik.
Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas sosial yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul The Communist Manifest yang ditulis bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu kelas borjuis (majikan) terdiri dari orang-orang yang menguasai alat produksi dan kelas proletar (buruh) yang tidak memiliki alat produksi dan modal sehingga menjadi kelas yang dieksploitasi oleh kelas borjuis (majikan). Menurut Marx, suatu saat kelas proletar akan menyadari kepentingan bersama dengan melakukan pemberontakan dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud tetapi pemikiran tentang stratifikasi dan konflik sosial tetap berpengaruh terhadap pemikiran perkembangan sosiologi khususnya terkait dengan kapitalisme.

3.      Objek Kajian Sosiologi
Sebagai bagian dari ilmu sosial, objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari hubungan antarmanusia dan proses yang timbul akibat dari hubungan tersebut. Fokus utama sosiologi dari objek masyarakat tersebut adalah gejala, proses pembentukan, serta mempertahankan kehidupan masyarakat, juga proses runtuhnya sistem hubungan antarmanusia. Dengan demikian, objek sosiologi terbagi atas dua kategori, yaitu objek material dan objek formal.
Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial manusia dan gejala serta proses hubungan antarmanusia yang memengaruhi hubungan sosial dalam kesatuan hidup manusia. Objek formalnya meliputi:
a.       pengertian tentang sikap dan tindakan manusia terhadap lingkungan hidup manusia dalam kehidupan sosialnya melalui penjelasan ilmiah;
b.      meningkatkan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat;
c.       meningkatkan kerja sama antarmanusia.



Tahukah kalian bahwa kemiskinan menjadi salah satu masalah sosial yang dikaji dalam sosiologi

Dilihat dari objeknya tersebut, jelaslah bahwa tujuan sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Jadi, objek formalnya tersebut berfungsi sebagai penuntun adaptasi di masyarakat. Mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala kemasyarakatan yang dapat di manfaatkan secara efektif untuk memecahkan masalah-masalah sosial (problem solving). Contohnya, jika seseorang ingin menjalin hubungan dengan masyarakat lain, selayaknya ia harus mempelajari dahulu sifat dan karakter masyarakat tersebut. Dengan mengetahui sifat dan karakter individu lain, serta kebiasaan di masyarakat, akan memudahkan seseorang untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Bisa digambarkan bahwa objek sosiologi ibarat seseorang yang memancing. Ikan, pancing dan cara-cara memancing sudah diberitahukan sebelumnya. Orang tersebut tinggal menggunakan cara-cara dan pancing untuk mendapatkan ikannya. Jadi objek sosiologi terdiri atas masyarakat dan nilai-nilai aturan yang sudah ada.

4.      Hakikat Sosiologi Sebagai Ilmu
Apabila kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan, apa yang terlintas dalam pikiranmu? Suatu mata pelajaran. Memang tidak dapat dipungkiri dari sekian banyak mata pelajaran yang kita pelajari di sekolah adalah ilmu pengetahuan. Ini berarti ilmu pengetahuan yang ada di dunia jumlahnya sangat banyak. Lantas, dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang berkembang, bagaimana kita mempelajarinya? Para ahli telah memikirkan semua itu, sehingga dibuatlah pengelompokan ilmu pengetahuan. Pengelompokan tersebut secara umum yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan atas objek atau bidang kajian dan didasarkan pada tujuan pengkajiannya. Ilmu pengatahuan yang didasarkan atas objek atau bidang kajian antara lain, ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu pengetahuan sosial (social sciences), dan ilmu pengetahuan budaya (humanistics study). Sementara Ilmu pengatahuan yang didasarkan pada tujuan pengkajiannya dikelompokkan menjadi ilmu murni (pure sciences) dan ilmu terapan
(applied sciences).
Menurut Soerjono Soekanto, ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran (logika), pengetahuan mana haruslah objektif, artinya selalu dapat diperiksa dan diuji secara kritis oleh orang lain. Jadi, tidak semua pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu, melainkan hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan teruji kebenarannyalah yang disebut dengan ilmu pengetahuan.
Apakah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan? Sejak pertama dicetuskan istilah sosiologi, para pelopor sosiologi beranggapan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan. Namun apakah hal itu benar? Untuk mengetahuinya, mari kita lihat syarat-syarat sebuah ilmu pengetahuan. Menurut para ahli, syarat ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:
a.       Kumpulan pengetahuan (knowledge).
b.      Tersusun secara sistematis.
c.       Menggunakan pemikiran (logis dan rasional).
d.      Terbuka terhadap kritik (objektif).
Apakah syarat-syarat di atas dimiliki oleh sosiologi? Mari kita telaah bersama-sama. Sosiologi merupakan pengetahuan tentang fenomena masyarakat, seperti interaksi sosial, aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat, pertikaian atau konflik, perubahan sosial, dan sebagainya. Sosiologi tersusun secara sistematis. Artinya mempunyai sistematika tertentu dengan unsur-unsur yang merupakan suatu kebulatan. Misalnya, pembahasan tentang interaksi sosial mempunyai kaitan dengan norma sosial karena interaksi sosial membutuhkan aturan-aturan tertentu. Meskipun demikian, sistematika yang dimaksud dalam pembahasan sosiologi itu bersifat dinamis yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Sosiologi merupakan hasil pemikiran yang biasanya bersumber dari fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat. Pada bagian sejarah perkembangan sosiologi sudah terlihat jelas munculnya sosiologi sebagai hasil dari pemikiran para ahli terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Fenomena masyarakat itu dikaji oleh pikiran, bukan oleh perasaan. Setiap kajian sosiologi, misalnya perubahan sosial, akan dimulai dengan pertanyaan mengapa terjadi perubahan dalam masyarakat? Siapa yang melakukan perubahan? Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan? Dan sejumlah pertanyaan lain yang dijawab dengan menggunakan pikiran. Pengetahuan sosiologi, sistematika sosiologi, dan pemikiran sosiologi dapat ditelaah oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, sosiologi dikatakan bersifat objektif. Namun apabila terjadi perbedaan pandangan dalam suatu fenomena yang terjadi di masyarakat, hal itu karena adanya perbedaan paradigma atau perbedaan sudut pandang. Dan sosiologi tidak mempermasalahkan adanya perbedaan itu. Sosiologi telah memenuhi syarat-syarat ilmu seperti dikemukakan di atas. Oleh karena itulah sosiologi dapat disebut sebagai ilmu. Sosiologi sebagai ilmu berdiri sendiri yang objeknya masyarakat.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memenuhi syarat-syarat ilmu tersebut. Oleh karena itu, sosiologi dapat disebut sebagai ilmu. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri di mana objeknya adalah masyarakat. Menurut Harry M. Johnson dalam bukunya Sosiology: A Systemic Introduction (1967), setiap ilmu mempunyai karakteristik yang khas. Begitu juga sosiologi, karakteristik (ciri-ciri) keilmuan sosiologi sebagai berikut:
a.       Sosiologi bersifat empiris, artinya sosiologi itu mendasarkan diri pada observasi dan penalaran, bukan atas dasar wahyu atau hasil spekulasi.
b.      Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi berusaha memberi ikhtisar (summary) yang menunjukkan hubungan pernyataan atau proporsi-proporsi secara logis.
c.       Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori sosiologi dibangun atas dasar teori yang sudah ada. Teori-teori baru yang lebih besar dan luas, pada dasarnya merupakan penyempurnaan teori-teori yang sudah ada.
d.      Sosiologi bersifat nonetis, artinya sosiologi bukan ajaran tentang tata susila. Para sosiolog tidak membicarakan apakah suatu tingkah laku sosial itu baik atau buruk. Tugas seorang sosiolog adalah mengungkap atau menerangkan tindakan sosial sebagai fakta sosial.
Selain itu, apabila dilihat dari sifat hakikatnya, sosiologi mempunyai beberapa karakteristik. Dimana karakteristik-karakteristik tersebut mampu menentukan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi tersebut. Sifat hakikat sosiologi sebagai berikut:
a.       Sosiologi merupakan ilmu sosial bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.
b.      Sosiologi bersifat kategoris dan bukan normatif, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya.
c.       Sosiologi merupakan ilmu murni dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan.

5.      Hubungan Sosiologi dan Gejala Sosial (Realitas Sosial)
Tahukah kalian apa hubungan antara sosiologi dengan gejala sosial? Kalian pasti bertanya-tanya apa itu gejala sosial? Sebelum kita membahas mengenai gejala sosial, terlebih dahulu kita akan membahas mengenai apa yang dipelajari oleh ilmu sosiologi. Apa yang dipelajari sosiologi terhadap sifat-sifat manusia adalah pola-pola hubungan dalam masyarakat dan mencari pengertian-pengertian umum secara rasional dan empiris. Oleh karena itu, sosiologi umumnya mempelajari gejala-gejala atau fenomena masyarakat dan kebudayaannya yang normal atau teratur. Dengan kata lain gejala sosial merupakan segala sesuatu yang dibuat maupun dilakukan oleh manusia dalam lingkungan kehidupannya.
Sebagai kumpulan makhluk yang dinamis, masyarakat cenderung untuk melakukan perubahan sehingga tidak selamanya gejala-gejala itu tetap dalam keadaan yang normal. Gejala-gejala tersebut dikenal sebagai realitas sosial budaya di masyarakat. Realitas sosial budaya adalah isi dasar sosiologi, yaitu kenyataan kehidupan sosial, berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai apa sajakah bentuk-bentuk realitas sosial dalam sosiologi.
a.       Masyarakat
Manusia di dunia ini merupakan bagian dari masyarakat tertentu, bisakah kalian menjelaskan pengertian masyarakat? Jika belum maka akan dijelaskan mengenai pengertian masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi secara tetap dan memiliki kepentingan yang sama. Literatur lain memberikan pengertian tentang masyarakat sebagai sistem sosial, yaitu sebagai organisme yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung karena memiliki fungsinya masing-masing dalam keseluruhan. Bagian-bagian yang dimaksud, menurut Emile Durkheim merupakan suatu kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya. Pengertian lain tentang masyarakat, juga dikemukakan Paul B. Horton. Menurutnya masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu. Pada bagian lain, Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Berikut ini dijelaskan ciri-ciri dari konsep tentang masyarakat.
1)      Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.
2)      Bercampur atau bergaul dalam waktu cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
3)      Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
4)      Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.
5)      Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.

  
b.      Organisasi Sosial
Negara dan bangsa merupakan salah satu contoh bentuk kelompok sosial yang memiliki jumlah anggota terbesar. Kelompok sosial atau organisasi sosial merupakan pokok perhatian utama sosiologi dewasa ini. Setiap individu adalah anggota masyarakat dalam suatu organisasi sosial. Organisasi sosial adalah cara-cara perilaku anggota masyarakat yang terorganisasi secara sosial. Dalam organisasi sosial terdapat tindakan yang saling terkait dan tertata melalui aktivitas sosial, susunan kerja suatu masyarakat, dan aspek kerja sama yang menggerakkan tingkah laku para individu pada tujuan sosial dan ekonomi tertentu. Dengan demikian, dalam organisasi sosial terdapat unsur-unsur, seperti kelompok dan perkumpulan, lembaga-lembaga sosial, peranan-peranan, dan kelas-kelas sosial. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kelompok merupakan himpunan dari beberapa orang individu yang satu sama lain saling berhubungan secara teratur, saling memperhatikan, dan secara sadar adanya manfaat bersama. Sebagai ciri yang mendasar dari kelompok yaitu dengan adanya sesuatu hal yang dianggap milik bersama.
Kenyataannya dalam kehidupan masyarakat, kita dapat menemukan bermacam-macam jenis kelompok sosial, mulai dari keluarga, masyarakat desa, masyarakat kota, sampai bangsa dan lainnya. Dalam organisasi sosial atau kelompok sosial, juga dikenal adanya lembaga sosial. Di dalam sosiologi yang dimaksud dengan lembaga sosial (institusi sosial) adalah suatu sistem yang menunjukkan bahwa peranan sosial dan norma-norma saling berkaitan yang telah disusun guna mencapai suatu tujuan atau kegiatan dan oleh masyarakat dianggap penting. Jadi, lembaga adalah proses-proses yang tersusun untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu, misalnya lembaga agama. Lembaga agama tersebut bukan sekelompok orang, melainkan suatu sistem gagasan, kepercayaan, praktik, dan hubungan. Lembaga sekolah bukan sekelompok siswa, melainkan mendidik para anggota suatu kelompok dan melestarikan warisan budaya dalam kehidupan suatu masyarakat. Lembaga perkawinan berfungsi kontrol terhadap pola relasi seks dan melahirkan generasi baru.

c.       Interaksi sosial
Apakah interaksi sosial itu? Amatilah gambar di samping. Apa yang dilakukan sekelompok orang itu? Setiap hari kita sering melakukannya. Pernahkah kamu berbincang dengan temanmu atau mengikuti suatu pertandingan atau kompetisi? Ketika kamu melakukan semua itu, berarti kamu telah melakukan interaksi sosial. Lantas, apa itu interaksi sosial? Pada dasarnya, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dan individu, antara individu dan kelompok individu, dan hubungan timbal balik antara kelompok individu dengan kelompok individu yang lain. Di sisi lain interaksi sosial dapat diartikan suatu bentuk aktivitas individu dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam interaksi sosial senantiasa berpedoman pada sistem tata nilai yang berlaku dalam masyarakat yang biasa disebut norma dan nilai sosial

d.      Dinamika Sosial
Secara umum, tidak ada masyarakat yang bersifat statis (tetap). Dihadapkan pada salah satu kebutuhan primer saja, misalnya kebutu han untuk makan, maka manusia harus bekerja. Dinamika sosial merupakan telaah terhadap adanya perubahan-perubahan dalam realitas sosial yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Beberapa konsep yang berhubungan dengan dinamika sosial adalah sebagai berikut:


1)      Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial atau gerak sosial didefinisikan sebagai perpindahan orang atau kelompok dari strata sosial ke strata yang lain dan dari satu lapisan ke lapisan sosial lain. Dengan kata lain, seseorang mengalami perubahan kedudukan (status) sosial dari suatu lapisan ke lapisan lain, baik menjadi lebih tinggi atau menjadi lebih rendah dari sebelumnya atau hanya berpindah peran tanpa mengalami perubahan kedudukan. Dengan demikian, perpindahan ini memiliki dua arah, yaitu ke arah atas (mobilitas vertikal naik) dan ke arah bawah (mobilitas vertikal turun).
2)      Penyimpangan Sosial
Baik dalam proses maupun hasil dari perubahan, tidak selamanya sesuai dengan hal yang diinginkan masyarakat atau terjadi penyimpangan. Penyimpangan sosial merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang  yang perilaku tersebut dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
3)      Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial atau disebut pula “pengawasan sosial” yaitu segenap cara dan proses yang ditempuh oleh masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan masyarakat itu sendiri. Sikap dan perilaku tiap individu bisa diselaraskan dengan sikap sosial atau kesepakatan yang ada dalam masyarakat.


e.       Sosialisasi

Coba kamu amati gambar di samping! Apa yang kamu ketahui tentang gambar tersebut? Itulah contoh sosialisasi. Sosialisasi merupakan suatu proses pergaulan seseorang terhadap banyak orang di dalam masyarakat. Proses ini berlangsung pada setiap orang seumur hidupnya mulai dari lahir hingga meninggalnya. Melalui proses ini, seseorang akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma yang akan membekali individu tersebut dalam pergaulannya. Bermain, belajar di sekolah, bergaul dengan teman-teman, membaca koran, menonton TV, merupakan contoh-contoh aktivitas kita dalam sosialisasi. Ketika kita mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan budaya dalam masyarakat, berarti kita telah berhasil melakukan proses sosialisasi dengan masyarakat sekitar.

f.       Nilai dan Norma
Dalam interaksi sosial senantiasa berpedoman pada nilai dan norma. Apa itu nilai dan norma? Adakah sebagian dari kalian mengetahuinya? Cobalah kemukakan di depan kelas! Pada hakikatnya, nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh suatu kelompok masyarakat. Oleh karenanya nilai digunakan sebagai pedoman tingkah laku. Sedangkan norma merupakan perwujudan konkret dari nilai sosial. Norma dibuat agar warga masyarakat melaksanakan nilai-nilai yang ada. Oleh karena itu, dalam norma terdapat sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Pada hakikatnya sanksi merupakan alat untuk menekan atau memaksa warga masyarakat mematuhi nilai-nilai yang telah disepakati. Secara garis besar terdapat empat macam norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, yaitu norma agama, adat/kebiasaan, kesusilaan/kesopanan, dan hukum.

B.     Fungsi dan Manfaat Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Gejala Sosial
Sosiologi dan Sosiolog banyak memberikan peranan dalam pembangunan bangsa. Bagaimana peran sosiolog dan sosiologi bagi masyarakat?
Setiap masyarakat akan berusaha untuk mempertahankan identitas budayanya. Apabila terjadi proses perubahan budaya yang tidak sesuai dengan identitas budaya dan sosialnya maka akan menimbulkan masalah sosial. Masyarakat memiliki ciri khas, sistem, adat istiadat, norma yang berbeda-beda dan kompleks. Dengan demikiam masalah sosial yang setiap masyarakat berbeda-beda pula. Masalah sosial adalah adanya ketidaksesuaian unsur-unsur yang ada dalam mesyarakat.
Sebagai contoh masalah-masalah sosial yang terdapat di masyarakat adalah: kemiskinan (masyarakat yang miskin ilmu, miskin pengetahuan, miskin keterampilan, miskin pekerjaan), kejahatan, prilaku menyimpang, masalah kependudukan, masalah pelanggaran nilai dan norma masyarakat Apabila setiap masalah sosial yang terjadi di masyarakat tidak dapat diselesaikan maka akan mengancam keutuhan masyarakat tersebut yang pada akhirnya akan mengancam kepentingan bangsa dan negara. Masalah sosial akan menimbulkan konflik dan ketidakteraturan sosial. Dalam negara yang sedang membangun sosiologi bermanfaat untuk kepentingan pembangunan negara. Proses pembangunan negara ditujukan untuk memberikan kesejahteraan lahir dan batin masya-rakat, menjaga keutuhan atau integrasi bangsa. Penelitian sosiologi memberikan bantuan kepada masyarakat dalam memecahkan masalah-masa-lah sosial sebagai metode-metode preventif dan metode represif.
Adapun fungsi dari sosiologi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Untuk pembangunan. Sosiologi berfungsi untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan. Pada tahan perencanaan yang dibutuhkan ialah penjelasan mengenai kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan, yang harus dicermati ialah kekuatan sosial masyarakat serta proses perubahan sosial. Dan pada tahap penilaian, yang harus dilakukan adalah analisis terhadap dampak pembangunan.
b.      Untuk penelitian. Dengan adanya penelitian, akan didapat suatu rencana penyelesaian masalah sosial yang baik. Di negara yang sedang berkembang peran sosiologi sangat dibutuhkan. Dari data yang dihasilkan melalui penelitian sosiologis, para pengambil keputusan dapat menyusun rencana penyelesaian suatu permasalahan sosial.
Sebagai ahli ilmu kemasyarakatan, para sosiolog sangat berperan dalam membangun masyarakat terutama di daerah yang sedang berkembang. Bentuk dari peran sosiolog adalah sebagai berikut:
a.       Sosiolog sebagai ahli riset
Seperti ilmuan lainnya, seorang sosiolog berfokus pada pengumpulan dan penggunaan data. Proses tersebut dilakukan melalui riset ilmiah dengan tujuan untuk mencari data kehidupan masyarakat yang memuat pola-pola, kecenderungan, dan kemungkinan yang paling mungkin terjadi. Semua hal tersebut kemudian sosiolog dalam membuat prediksi yang didasarkan pada fakta-fakta mengenai realita sosial yang ada dan berkemabang dalam masyarakat.
b.      Sosiolog sebagai konsultan kebijakan
Hasil dari riset ilmiah yang dilakukan oleh para sosiolog pada dasarnya mengahsilkan sebuah presiksi kondisi sosial. Presiksi sosial tersebut kemudian dapat dijadikan dasar dalam merancang dan menetapkan kebijakan. Sehingga, dalam pembuatan kebijakan pengaruh atau dampak yang ditimbulkan baik itu positif maupun negatif dapat lebih awal diketahui.
c.       Sosiolog sebagai praktisi
Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberikan saran-saran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarakat, hubungan antar karyawan, masalah moral, maupun hubungan antar kelompok dalam organisasi. Dalam konteks tersebut, sosiolog berperan sebagai ilmuan terapan yang menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk mencari nilai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja, evektifitas program, atau kegiatan kemasyarakatan.
d.      Sosiolog sebagai guru atau pendidik
Mengajar merupakan kegiatan yang dapat digeluti oleh seorang sosiolog. Sebagai pendidik, sosiolog berperan dalam mengajarkan dan mengembangkan sosiologi sebagai ilmu di berbagai bidang dengan memberikan contoh-contoh yang terdapat di masyarakat.
Sesungguhnya, studi sosiologi sangat penting bagi kita sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Mengapa? Sosiologi mempelajari berbagai hubungan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, tertib, lancar, dan bisa mencapai tujuan yang diinginkan, maka dalam hidup bermasyarakat tersebut manusia menciptakan berbagai norma, nilai, dan tradisi sebagai pengatur sekaligus pedoman bagi anggota masyarakat dalam bersikap dan bertingkah laku. Namun demikian tidak jarang muncul perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, sehingga melahirkan perilaku menyimpang dan konflik di antara anggota masyarakat.
Uraian yang telah kita bahas bersama menunjukkan bahwa sosiologi pada dasarnya berbicara mengenai kita serta masyarakat di mana kita hidup dan melakukan interaksi. Manfaat apa yang dapat kamu petik dan rasakan dengan mempelajari sosiologi?
Berikut ini disebutkan beberapa manfaat mempelajari sosiologi.
a.       Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun (dan terutama) sebagai anggota kelompok atau masyarakat.
b.      Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat, serta dapat melihat ‘dunia’ atau ‘budaya’ lain yang belum kita ketahui sebelumnya.
c.       Sosiologi membantu kita mendapatkan pengetahuan tentang berbagai bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, baik antarindividu, antarkelompok, maupun antarindividu dan kelompok.
d.      Sosiologi membantu mengontrol dan mengendalikan tindakan dan perilaku sosial tiap anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
e.       Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain, serta memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Tanpa hal itu perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat akan menjadi alasan untuk timbulnya konflik di antara anggota masyarakat.
f.       Akhirnya, bagi kita sebagai generasi penerus bangsa, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial dalam masyarakat yang dewasa ini semakin kompleks, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari-hari.


Daftar Pustaka

Budiarti, Atik Catur. (2009). Sosiologi Kontekstual : Untuk SMA & MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Laning, Vina Dwi. (2009). Sosiologi: untuk SMA/MA kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Pickering, Mary. 1993. Auguste Comte: an Intellectual Biography. Vol. 1. Cambridge. Eng: Cambridge University Press.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2007.Teori Sosiologi Modern (Edisi VI). Jakarta: Kencana.

Sri, Sudarmi dan Indriyanto, W. (2009). Sosiologi 1 : Untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sukanto, Soerjono. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Syuro, Mat. (2011). Reinterpretasi dari Program Pembinaan ke Pemberdayaan dalam Pelestarian Ekologi Suku Terasing di Indonesia (Studi Kasus Suku Kubu di Sumatera). Jurnal Bumi Lestari. Volume 11 No. 1. hlm. 178 – 189.
Waluya, Bagja. (2009). Sosiologi 1 : Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.



SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel