pengertian dari perubahan sosial menurut pendapat Karl Max
Tuesday, 26 November 2013
Add Comment
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Menurut sejarahnya
marxisme memiliki dua dimensi, pertama sebagai teori ilmiah, kedua sebagai
proyek politik revolusioner, namun dalam kenyataannya dua dimensi ini amatlah
sulit untuk dipisahkan. Karl Max sendiri, dalam karyanya Das Kapitalis
menawarkan analisis atau uraian mengenai
sifat atau mekanisme kapitalisme, yakni akumulasi dan ekspansi kapital,
pemiskinan kelas pekerja dan krisis kelebihan-produksi, uraian-uraian ini telah
memberikan landasan moral untuk melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalis.
Marxisme sendiri pada
dasarnya lahir dari ketimpangan hidup akibat sistem ekonomi kapitalis, tanpa
memahami kontradiksi dalam sistem ekonomi kapitalis itu. Sebelum marxisme
lahir, sudah banyak kritik memberikan pada sistem kapitalisme itu. Marxisme lahir di tengah
pertarungan melawan kapitalisme dengan prespektif baru, yaitu kelas dimana
menurut marx gerakan sosial akan dipelopori kelas proletar akibat ketamakan
kaum borjuis dalam sistem ekonomi akan dapat membawa perubahan sosial dan
gerakan ini akan menumbangkan kaum kapitalis.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apakah pengertian dari
perubahan sosial ?
2.
Apakah pengertian dari
perubahan sosial menurut pendapat Karl Max
C. TUJUAN
PENULISAN
1. Mengetahui
teori-teori tentang perubahan sosial menurut Karl Max
2. Memenuhi
tugas makalah kelompok
BAB II
PEMBAHASAN
A. MARXISME
Fondasi
teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar, pertama adalah filsafat
materialisme, kedua ekonomi politik, ketiga konsep ketatanegaraan dan pandangan
revolusi. Pada umumnya Marxisme muncul mengambil dari tiga akar poko, salah
satu dari akar itu adalah analisis Marx tenteng politik Prancis. Akar lain dari
dari Marxixme adalah apa yang disebut ekonomi Inggris, akar ketiga dari
Marxisme yang menurut catatan sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme
adalah filsafat Jerman.
Pendek
kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen
dari kepentingan jangka pendek dari beragai golongan sektoral, nasional,
lain-lain. Atau dengan kata lain, Marxisme terlahir dari perlwanan dan
perjuangan keras buruh melawan kapitalis, dan juga mewujudkan obsesi kemenangan
gerakan sosialis. Maka Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang
justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral
dan atau jangka pendek.
Karl
Marx meyakini bahwa identitas suatu kelas sosial akan ditentukan oleh
hubungannya dengan sarana-sarana produksi. Berdasarkan hal itu, Karl Marx
mendeskripsikan kelas-kelas sosial dalam masyarakat Kapitalis, yang terdiri
atas :
1. kaum
proletar, adalah mereka yang menjual tenaga kerja mereka karena mereka tidak
memiliki sarana produksi sendiri. Menurut pandangan Karl Marx, mode produksi
kapitais membangun kondisi dimana kaum borjuis mengeksploitasi kaum proletar, berdasarkan
fakta bahwa tenaga kerja menghasilkan nilai tambah yang lebih besar daripada
gaji yang mereka terima.
2. Kaum
borjuis, adalah mereka yang memiliki sarana produksi sendiri, dan membeli
tenaga kerja dari kaum proletar dan mengeksploitasi mereka. Kaum borjuis
selanjutnya dibagi lagi menjadii the very wealthy bourgeoisie dan the petit
bourgeoisie yang walaupun mempekerjakan orang lain, tapi masih perlu bekerja
sendiri. Marx memprekdisikan bahwa petit bourgeoisie akan hancur oleh penemuan
sarana-sarana produksi baru yang terus menerus, dan akan menggeser kedudukan
sebagian besar dari mereka menjadi kaum proletar.
Konsep
pokok dalam analisis Marx adalah alinasi atau keterasingan, yang timbul dalam
masyarakat kapitalis karena eksploitasi terhadap kaum proletar oleh kaum
borjuis. Padahal semua nilai ekonomi berasal dari kaum proletar, tetapi mereka
tidak mendapat mendapatkan lebih dari upah subsisten, yaitu upah yang hanya
cukup untuk melanjutkan hidup dan melahirkan keturunan. Nilai surplus tetap
digenggam oleh kaum borjuis, karena itu mereka menjadi kuat dan memojokkan kaum
proletar dalam suatu kondisi perbudakan abadi. Proses ini akan menurunkan
martabat dan memberlakukan dehumanisasi pada kaum proletar, sehingga menurunkan
mereka menjadi potongan manusia. Mereka
artinya tidak mampu mengembangkan potensi kemanusiaannya secara penuh.
Eksploitasi ini menyebabkan pembagian masyarakat menjadi dua kelas antagonis
dan meniupkan api peperangan kelas yang membentuk inti proses sejarah umat
manusia. Umat manusia tidak bebas, mereka adalah bidak-bidak di atas papa catur
sejarah. Nasib mereka ditentukan oleh konnflik kepentingan ekonomi yang tidak
dapat dihindari dalam berbagai madyarakat manusia.
Satu-satunya
cara untuk mengakhiri aliensi adalah menghapuskab kepemilikan barang, yang
merupakan sebab utama. Hal ini akan menghapuskan hak-hak istimewa kaum borjuis
dan juga akan memotong kekuasaan eksploitasi dan politik mereka. Cara yang
paling efektif untuk mengakhiri ini adalah dengan melancarkan suatu revolusi
yang digerakkan oleh kaum proletar untuk meruntuhkan secara paksa sistem
kapitalis.
B. TEORI
MARXISME TENTANG PERUBAHAN SOSIAL
Marxisme
bukan hanya teori kritik terhadap kapitalisme yang memfokuskan pemahaman mode
of production yang dinamakn kapitalisme tapi juga merupakan teori tentang
perubahan sosial. Semangat yang mendasari Karl Marx dalam melakukan kritik
terhadap kapitalisme pada dasarnya berangkat dari filsafat moral keadilan dan
cita-cita untuk perubahan masyarakat menuju suatu keadaan yang berkeadilan
sosial ekonomi. Dalam karyanya yang berjudul Das Kapital, pada dasarnya Karl
Marx menuturkan tentang kasus bagaimana proses ketidakadilan terjadi dalam
aspek ekonomi. Analisis Marx tertuju paa ketidakadilan yang tersembunyi dari
hubungan masyarakat dalam sistem kapitalisme.
Pandangan
Karl Marx tentang kapitalisme intinya adalah bagaimana eksploitasi dan
ketidakadilan dapat dijelaskan. Oleh karena itu, analisis Marx dalam jilid
pertama bukunya Das Kapital sama sekali tidak dimulai dari uraian-uraian
sejarah dari kapitalisme itu sendiri, tapi dimulai dengan dari uraian sejarah
yang ytidak sesuai mengesankan dari sistem kapitalisme, yakni tenang komoditas,
Pilihan komoditas sebagai pintu masuk untuk memahami seluruh sistem kapitalis.
Pilihan ini sengaja dipakai untuk lebih mempermudah memahami dasar dari
ketidakadilan kapitalisme. Menurut Karl Marx komoditas selain memiliki sifat
kegunaan juga mempunyai sifat yang dapat diperjualbelikan. Lama sebelum Karl
Marx, analisis dan teori ekonomi tidak berhasil menjelaskan hubungan antara dua
sifat dari komoditas itu. Mula-mula Karl
Marx tidak terlalu banyak menyinggung tentang nilai kegunaan yang menjadi kunci
dari realitas kapitalis. Komoditas itu berguna sejauh mengandung dua elemen
diatas, tetapi ia memilih komuditas sebagai nilai kegunaan sebagai pendekatan memahami kapitalisme. Nilai yang
dapt diperjualbelikan yang ada dalam suatu komoditas sesungguhnya merupakan
penilian terhadap komoditas.
Unuk
suatu komoditas masyarakat tidak menukar dalam rasio yang beda, seperti dalam
barter. Itu sebabnya nilai tukar menjadi pusat penelitian Marx menyangkut
bagaimana nilai komoditas ditentukan dan apa dasarnya. Dari hasil penelitian
Marx menemukan bahwa prinsip yang digunakan dalam masyarakat untuk mengatur dan
menetapkan rasio tukar adalah didasarkan pada kuantitas kerja buruh yang
terkandung dalam komoditas, termasukk tenaga yang dimasukkan dalam mesin
produksi. Analisis Marx yang akhirnya melahirkan anggapan bahwa faktor buruh
adalah faktor penentu nilai tukar itu merupakan dasar dari nilai teorii
pekerja. Penemuan terpenting Marx tentang nilai adalah bagaimana menggunakan
buruh sebagai alat untuk menetapkan rasio tukar, yaitu buruh menjadi alat untuk
mengukur nilai suatu komoditas. Bagi Marx, individu buruh dapa dihitung dan
untuk menghitungnya diperlukan suatu model relasi yang dikenal dengan mode
produksi kapitalisme.
Atas
dasar analisis itu, Marx manilai bahwa kapitalisme adalah sistem sosial ekonomi
yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi, bukan
dari dagang, riba ataupun mencuri secara langsung, tetapi dengan cara mengorganiisasikan
mekanisme produksi secara tertentu sehingga menggurangi biaya produksi
seminimum mungkin, atau dengan metode
produksi tertentu. Keuntungan ini mendorong terciptanya suatu kekuatan untuk
menyeragamkan buruh dan memguasainya. Mode of prducion kapitalis menciptakan
pasar untuk tenaga kerja, ketimbang hubungan manusia-tuan secara tradisional.
Marx merujuk pada adanya suatu kejahatan dalam proses itu karena adanya
pemisahan antara kaum petani dan kaum perajinn dari akses langsung terhadap
pemilikan alat produksi. Pasaran buruhmuncul karena petani dan perajin tidak
memiliki lahan untuk dipaksa menjual tenaga kerja mereka dalam bentuk yang
dibutuhkan untuk suatu kelas sosial yang sekarang memiliki pertanian dengan
pabrik. Mereka terpaksa menjual tenaga kerjanya karena untuk kelangsungan
hidupnya. Dengan cara itu, kapitalis melahirkan betuk baru buruh yang dapat
dijual belikan seperti komoditas. Buruh yang dihomogenkan itu disebut dengan
tenaga kerja yang asalnya dari buruh heterogen pada masa mode pre-capitalist.
Teori
labor value bagi Marx tidak hanya dipakai sebagai alat analisis terhadap
exchange ratio, tetapi justru dipakai sebagai sarana untuk memahami problem
ketidakadilan dalam sistem kapitalisme, yaitu hubungan sosial dalam sistem
masyarakat kapitalis. Suatu yang oleh pemikir-pemikir sosial lain tidak
dianggap penting unit kekayaan yang
disebut komoditas oleh Karl Marx disebut social hieroglyphic. Komoditas baginya
tidak hanya dilihat sebagai suatu benda, tetapi tersembunyi hubungan sosial.
Sifat komoditas itu mengaburkan presepsi oramg tentang realitas kapitalis yang
oleh Karl Marx disebut demngan yang
namanya the fetishim commodities, artinya adalah suatu komoditas dapat
ditukarkan seolah-olah karena fisiknya, padahal nilai tukar suatu komoditas itu
justru terletak pada adanya hubungan sosial dengan tenaga kerja yang terkandung
didalamnya. Melalui konsep fetishim itu, dapat dipahami kalau suatu komoditas
mengandung dan membungkus persoalan kapitlisme. Ekonomi umumnyaberfikir bahwa
kekayaan yang datang dari tanah, buruh, dan modal merupakan hadiah dan
sumbangan karena usaha memproduksi barang yang bermanfaat. Padahal sebenarnya
tanah dan modal seperti buruh dan hubungan sosial adalah hak yang disepakati
oleh pemilik tanah dan modal untuk mengklaim produksi atas nama sumbangan yang
telah dibuat oleh sumber dan modal mereka. Kerancuan tentang hak soaial ini
bagi Karl Marx dianggap sebagai bagian utama dari fetishisme dalam kapitalisme.
Selanjutnya
Karl Marx menganalisis commodity labour powernya sendiri. Bagi Marx komoditas
mempunyai dua aspek, yaitu aspek kegunaan dan aspek perdaganggan. Namun Karl
Marx menemukan kandungan labour power didalamnya yang membuat komoditas mengandung
nilai kegunaan yang menghasilkan surplus. Nilai kegunaan terdapat dalam produk
kapitalis yang diproduksi oleh buruh. Salah satu syarat menjual tenaga kerja
sebagai komoditas adalah buruh tak ada hak untuk mengklaim produk yang
diciptakan atau yang dibuatnya. Karl Marx menemukan rahasia utama dari
kapitalis, bahwa profit sudah diperoleh sebelum produk dilempar ke pasaran,
yakni profit diperoleh bukan karena perdagangan tetapi justru sebelum komoditas
dijual, yakni ketika diproduksi sumber profit itu dicuri dari surplus value
yaitu perbedaan nilai antara tenaga kerja yang dijual buruh dan nilai produk
pada waktu akhir produksi.
Marx
menyatakan pendapatnya bahwa proses ini disebut sebagai kontradiksi dan
sentralisasi modal. Ini merupakan proses pendewasaan perusahaan raksasa dengan
operasi khususnya. Keberhasilan bisnis raksasa itu menjadi ciri kedewasaan
kapitalisme. Memburuknya krisis mengubah politik dan sektor ekonomi. Pada saat
perusahaan besar berkembang, ia akan menggusur kapitalis yang lemah, kelas
sosial dalam kapitalisme terbagi dalam dua kelas yang bermusuhan, golongan
besar mayoritas ang tidak mempunyai akses untuk kehidupan melalui penjualan
labour power dan segolongan kecil kapitalis yang memiliki alat produksi.
Sementara itu penekanan terhadap kelas pekerja secara perlahan akan
membangkitkan kesadaran revolusioner. Gerakan di dalam sistem membawa krisis
yang akan menuju kehancuran kapitalisme itu sendiri. Dalam proses perubahan
itu, pada hakikatnya tersembunyi teori perubahan sosial revolusi menuju tatanan
masyarakat baru tanpa eksploitasi.
BAB
III
KESIMPULAN
Brewer, Anthony. ” Kajian Kritis DAS
KAPITAL KARL MARX , CV. ADIPURA , Jakarta 1999
Fakih, Mansour , “ runtuhnya teori
Pembangunan dan globalisasi “,Yogyakarta Insist press, 2005.
Hashem, “agama marxist dan asal usul
atheisme dan fenomena kapitalis “, Surabaya,Yayasan Nuansa cendekia, 2001.
Held, David dan Giddens, Anthony ,”
perdebatan klasik dan kontemporer mengenai Kelompok, Kekuasaan dan
konflik”,Jakarta, CV Rajawali 1982
Mandel, Ernest , “tesis-tesis pokok
Marxisme “,Yogyakarta Nailil printika, 2006
Ritzer ,george. “ Teori Sosiologi Modern
“, Jakarta, Prenada Media, 2004.
wahid situmorang, Abdul, “gerakan
sosial” , Yogyakarta pustaka pelajar, 2007.
SUMBER INTERNET
Dikutip dari : http://taufandamanik.wordpress.com/2010/07/28/psikologi-massa-wacana-kolektif-dan-perubahan-sosial/
0 Response to " pengertian dari perubahan sosial menurut pendapat Karl Max"
Post a Comment