pengaruh globalisasi terhadap multikulturalisme
Thursday, 28 November 2013
Add Comment
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Proses globalisasi membuat dunia menjadi borderless atau tanpa batas. Berkembang
istilah global village yang
menggambarkan proses serta dampak dari globalisasi itu sendiri. Sekarang tiap
orang di seluruh penjuru dunia bisa mengakses segala hal. Dalam era globalisasi
dewasa ini, tidaklah mungkin suatu negara hidup dan membangun kemajuan dalam
posisi mengisolasi diri. Pengaruh antarnegara lewat teknologi informasi, teknologi industri, perdagangan uang, dan
perdagangan komoditas antarbangsa merupakan kenyataan. Suka tidak suka kita
harus hidup dengan kondisi seperti itu sekarang ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah konsep
globalisasi itu?
2.
Bagaimanakah konsep
multikulturalisme itu?
3.
Bagaimanakah
pengaruh globalisasi terhadap multikulturalisme masyarakat dunia?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami
konsep globalisasi.
2.
Untuk memahami
konsep multikulturalisme.
3.
Untuk memahami
pengaruh globalisasi terhadap multikulturalisme masyarakat dunia.
BAB II
Pembahasan
A. Konsep Globalisasi
Konsep globalisasi dapat diartikan
sebagai pengglobalan atau penyatuan
seluruh aspek kehidupan di dunia ini. Penyatuan ini dilakukan melalui upaya
penyeragaman yang mendunia meliputi seluruh negara yang ada. Ketika suatu
istilah baru menjadi populer, hal ini seringkali meliputi suatu perubahan penting
sebagai bagian dari dunia ini. Ide baru ini dibutuhkan untuk menggambarkan
kondisi baru. Sebagai contoh, ketika seorang filsof, Jeremy Bentham
mengistilahkan “internasional” pada tahun 1780, dianggap sebagai suatu
pencerahan, dari apa yang merupakan pendalaman dari kenyataan hidup
keseharian, yaitu berkembangnya negara/bangsa dan transaksi yang terjadi
melintasi batas diantara masyarakat di dunia.
penyeragaman yang mendunia meliputi seluruh negara yang ada. Ketika suatu
istilah baru menjadi populer, hal ini seringkali meliputi suatu perubahan penting
sebagai bagian dari dunia ini. Ide baru ini dibutuhkan untuk menggambarkan
kondisi baru. Sebagai contoh, ketika seorang filsof, Jeremy Bentham
mengistilahkan “internasional” pada tahun 1780, dianggap sebagai suatu
keseharian, yaitu berkembangnya negara/bangsa dan transaksi yang terjadi
melintasi batas diantara masyarakat di dunia.
Pada tahun 1980, terjadi perkembangan
yang cukup signifikan. Hal ini
dilihat dari perbincangan mengenai globalisasi telah tersebar luas. Istilah ini
kemudian secara cepat menjadi standar kata-kata di berbagai bidang, baik di
lingkungan akademis, jurnalis, politisi, bankir, periklanan, ekonomi, dan
hiburan. Lambat-laun, globalisasi menjadi suatu proses hubungan sosial secara
relatif yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasanbatasan
secara nyata, sehingga ruang lingkup kehidupan manusia semakin
bertambah dengan memainkan peranan yang lebih luas di dalam dunia sebagai
satu kesatuan tunggal. Globalisasi mengharuskan pergerakan barang dan jasa antar-negara di seluruh dunia bergerak bebas dalam perdagangan, tanpa halangan apapun.
Bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan,
nilai budaya, dan lain-lain. Jargon globalisasi muncul dari neoliberalisme yang
memiliki agenda restrukturisasi perekonomian dunia.
dilihat dari perbincangan mengenai globalisasi telah tersebar luas. Istilah ini
kemudian secara cepat menjadi standar kata-kata di berbagai bidang, baik di
lingkungan akademis, jurnalis, politisi, bankir, periklanan, ekonomi, dan
hiburan. Lambat-laun, globalisasi menjadi suatu proses hubungan sosial secara
relatif yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasanbatasan
secara nyata, sehingga ruang lingkup kehidupan manusia semakin
bertambah dengan memainkan peranan yang lebih luas di dalam dunia sebagai
satu kesatuan tunggal. Globalisasi mengharuskan pergerakan barang dan jasa antar-negara di seluruh dunia bergerak bebas dalam perdagangan, tanpa halangan apapun.
Bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan,
nilai budaya, dan lain-lain. Jargon globalisasi muncul dari neoliberalisme yang
memiliki agenda restrukturisasi perekonomian dunia.
Adapun problematika yang menjadi
tantangan global terhadap
eksistensi jatidiri bangsa adalah sebagai berikut:
eksistensi jatidiri bangsa adalah sebagai berikut:
a. Pluralitas masyarakat Indonesia
tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi
juga dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat sehingga proses
globalisasi informasi membawa dampak yang sangat kompleks.
juga dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat sehingga proses
globalisasi informasi membawa dampak yang sangat kompleks.
b.
Salah satu dampak globalisasi informasi bagi bangsa
Indonesia yaitu dimulai
dari timbulnya krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis
multidimensi. Dalam waktu yang relatif singkat Indonesia mengalami empat kali
pergantian pemerintahan. Tidak hanya itu, di era reformasi muncul berbagai
macam kerusakan dan pemberontakan yang disertai isu anarkis, SARA,
dan separatisme.
dari timbulnya krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis
multidimensi. Dalam waktu yang relatif singkat Indonesia mengalami empat kali
pergantian pemerintahan. Tidak hanya itu, di era reformasi muncul berbagai
macam kerusakan dan pemberontakan yang disertai isu anarkis, SARA,
dan separatisme.
c.
Kemajuan teknologi informasi telah menjadikan jarak spasial
semakin
menyempit dan jarak waktu semakin memendek. Akibatnya bagi bangsa
Indonesia yang berorientasi pada negara-negara maju, dalam waktu relatif
singkat dapat beradaptasi terutama di bidang teknologi, ekonomi, sosial,
dan budaya.
menyempit dan jarak waktu semakin memendek. Akibatnya bagi bangsa
Indonesia yang berorientasi pada negara-negara maju, dalam waktu relatif
singkat dapat beradaptasi terutama di bidang teknologi, ekonomi, sosial,
dan budaya.
Akhirnya, tidak menutup kemungkinan
timbul kehidupan sosial budaya dalam
kondisi persaingan yang sangat tajam, rasa solidaritas semakin menipis,
manusia seolah tidak begitu peduli lagi dengan kehidupan orang lain.
Bangsa Indonesia yang dulu dipandang sebagai masyarakat yang kuat
solidaritasnya, sekarang menjadi masyarakat yang mementingkan diri sendiri,
egoisme semakin menonjol, yang mewarnai kehidupan masyarakat.
kondisi persaingan yang sangat tajam, rasa solidaritas semakin menipis,
manusia seolah tidak begitu peduli lagi dengan kehidupan orang lain.
Bangsa Indonesia yang dulu dipandang sebagai masyarakat yang kuat
solidaritasnya, sekarang menjadi masyarakat yang mementingkan diri sendiri,
egoisme semakin menonjol, yang mewarnai kehidupan masyarakat.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi
yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
·
Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai
meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap
mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung
satu sama lain.
·
Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan
batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa,
maupun migrasi.
·
Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya
hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas
dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
·
Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi
dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
·
Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan
keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara
masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia
global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adapun dampak globalisasi antara lain:
1. Dampak positif
·
Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
·
Mudah melakukan komunikasi
·
Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
·
Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
·
Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
·
Mudah memenuhi kebutuhan
2. Dampak negatif
·
Informasi yang tidak tersaring
·
Perilaku konsumtif
·
Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
·
Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
·
Mudah terpengaruh oleh hal yang b
·
\erbau barat.
B. Konsep Multikulturalisme
Pengertian
multikulturalisme diberikan oleh para ahli sangat beragam, multikulturalisme
pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam
berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap
realitas keagamaan yang pluralis dan multikultural yang ada dalam kehidupan
masyarakat. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya).
Multikulturalisme secara etimologis marak digunakan pada tahun 1950 di Kanada.
Menurut longer oxford directionary istilah “multiculturalme” merupakan
deviasi kata multicultural kamus ini meyetir dari surat kabar di Kanada,
Montreal times yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat
multicultural dan multilingual. (Muhaemin el-Ma’hadi, Multikulturalisme dan
Pendidikan Multikulturalisme). Multikulturalisme ternyata bukanlah
pengertian yang mudah. Dimana mengandung dua pengertian yang kompleks, nyaitu “multi”
yang berarti plural dan “kulturalisme” berisi tentang kultur atau
budaya. Istilah plural mengandung arti yang berjenis-jenis, karena pluralisme
bukan sekedar pengakuan akan adanya hal yang berjenis-jenis tetapi pengakuan
tersebut memiliki implikasi politis, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam
pengertian tradisonal tentang multikulturalisme memiliki dua ciri utama;
pertama, kebutuhan terhadap pengakuan (the need of recognition). Kedua,
legitimasi keragaman budaya atau pluralisme budaya. Dalam gelombang pertama
multikulturalisme yang esensi terhadap perjuangan kelakuan budaya yang berbeda (the
other). (H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme).
Konsep
multikulturalisme tidaklah sama dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa
atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena konsep
multikulturalisme menekankan keanekaragaman dan kesederajatan.
Multikulturalisme harus mau mengulas berbagai permasalahan yang mengandung
ideologi, politik, demokerasi, penegakan hukum, keadialan, kesempatan kerja dan
berusaha, HAM, hak budaya komuniti golongan minoritas, prinsip-prinsip etika
dan moral dan peningkatan mutu produktivitas. (Parsudi Suparlan, Menuju
Masyarakat Indonesia yang Multikultural). Memang dalam kerangka konsep
masyarakat multikultural dan multikulturalisme secara subtantif tidaklah
terlalu baru di Indonesia dikarenakan jejaknya dapat ditemukan di Indonesia,
dengan prinsip negara ber-Bhenika Tunggal Ika, yang mencerminkan bahwa
Indonesia adalah masyarakat multikultural tetapi masih terintregrasi ke-ikaan
dan persatuan. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya). Sebagai
gambaran tentang multikulturalisme digambarkan oleh John Haba tentang semangat
kekristenan mulai menurun dikalangan intelektual dunia barat dipengaruhi
semangat multikulturalisme, maka persilangan paradigma, tentang boleh tidaknya
gereja dilakalangan misi bukan kristen. Para intelektual barat melemahkan visi
dan misi gereja di era posmodernisme dan mereka bersikap apatis dan bahkan
memilih menjadi pengikut agama Budha, Hindu atau ateis menjadi warga gereja.
(John Haba, Gereja dan Masyarakat Majemuk). Multikulturalisme bukanlah
sebuah wacana, melainkan sebuah ideologi yang harus diperjuangkan karena
dibutuhkan sebagai etika tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup
masyarakat. multikulturalisme sebagai ideologi tidaklah berdiri sendiri
terpisah dari ideologi-ideologi lainnya. Multikulturalisme memerlukan konsep
bangunan untuk dijadikan acuan guna memahami mengembangluaskannya dalam
kehidupan bermasyarakat.untuk memahami multikulturalisme, diperlukan landasan
pengetahuan berupa konsep-konsep yang relevan dan mendukung serta keberadaan
berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan. Akar dari multikulturalisme
adalah kebudayaan. Kebudayaan yang dimasudkan disini adalah konsep kebudayaan
yang tidak terjadi pertentangan oleh para ahli, dikarenakan multikulturalisme
merupakan sebuah alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan
kemanusiaannya. Oleh karena itu kebudayaan harus dulihat dari perfektif
fungsinya bagi manusia. (Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang
Multikultural).
Dengan
pengunaan istilah dan praktek dari multikulturalisme, Parehk membedakan lima
jenis multikulturalisme.
1. Multikulturalisme
asosianis, yang
mengacu pada masyarakat dimana kelompok berbagai kultur menjalankan hidup
secara otonom dan menjalankan interaksi minimal satu sama lain. Contohnya
adalah masyarakat pada sistem “millet”, mereka menerima keragaman tetapi mereka
mempertahankan kebudayaan mereka secara terpisah dari masyarakat lainnya.
2. Multikultualisme
okomodatif, yakni
masyarakat plural yang memiliki kultura dominan, yang membuat penyesuaian,
mengakomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur minoritas. Masyarakat
multikultural akomodatif merumuskan dan menarapkan undang-undang, hukum dan
kekuatan sensitif secara kultural, memberikan kesempatan kepada kaum minoritas
untuk mengembangkan kebudayaannya dan minoritas tidak menentang kultur yang
dominan. Multikultural ini dapat ditemukan di Inggris, Prancis dan beberapa
negara Eropa yang lain.
3. Multikulturalisme otomatis, masyarakat yang plural dimana
kelompok kultura yang utama berusaha mewujudkan kesetaraan dan menginginkan
kehidupan otonom dalam kerangka politik secara kolektif dan dapat diterima.
Contoh dari multikultural ini adalah masyarakat muslim yang berada di Eropa
yang menginginkan anaknya untuk memperoleh pendidikan yang setara dan
pendidikan anaknya sesuai dengan kebudayaannya.
4. Multikulturalisme kritikal interaktif, masyarakat yang
plural dimana kelompok kultur tidak terlalu concern dalam kehidupan kultur
otonom; tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan
menegaskan perfektif distingtif mereka. Multikultural ini, berlaku di Amerika
Serikat dan Inggris perjuangan kulit hitam dalam menuntut kemerdekaan.
5. Multikultural kosmopolitan, yang berusaha menghapuskan kultur
sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat dimana individu tidak lagi
terikat dan committed kepada budaya tertentu. Ia secara bebas terlibat dengan
eksperimen-eksperimen interkultural dan sekaligus mengembangkan kultur
masing-masing. Para pendukung multikultural ini adalah para intelektual
diasporik dan kelompok liberal yang memiliki kecenderungan posmodernism dan
memandang kebudayaan sebagai resauorces yang dapat mereka pilih dan ambil
secara bebas. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya).
Multikulturalisme dalam penerapan
dan bagaimana kita cara melaksanakannya. Konsep dan kerangka dalam
multikulturalisme di paparkan oleh B. Hari Juliawan dengan membagi
multikulturalisme dengan menggunakan empat kerangkanya. Pertama kerangka
multikulturalisme berkenaan dengan istilah multikulturalisme itu sendiri.
Multikulturalisme menunjukan sikap normatif tentang fakta keragaman.
Multikulturalisme memilih keragaman kultur yang diwadahi oleh negara, dengan
kelompok etnik yang diterima oleh masyarakat luas dan diakui keunikan etniknya.
Kelompok etnik tidak membentul okomodasi politik, tetapi modifikasi lembaga
publik dan hak dalam masyarakat agar mengakomodasi keunikannya. Kerangka
multikulturalisme kedua, merupakan turunan kerangka yang pertama nyaitu
akomodasi kepentingan, dikarenakan jika kita ambil saripati dari
multikulturalisme adalah menegemen kepentingan. Kepentingan disini merupakan
yang relevan dari konsep multikulturalisme yang terbagi menjadi dua macam
kepentingan yang bersifat umum dan khusus. Kepentingan yang bersifat umum
pemenuhan yang sama pada setiap orang tanpa membedakan identitas kultur.
Sedangkan kepentingan khusus pemenuhan yang terkait dengan aspek khusus
kehidupan (surlvival) kelompok yang bersangkutan. Misalkan kelompok
masyarakat adat dapat melaksanakan adatnya masing-masing tanpa intimidasi dari
pemerintah dan ketuatan kelompok yanga lain. Kerangka multikulturalisme yang
ketiga merupakan ideologi politik dengan menjadikan setiap orang atau kelompok
minor dapat menyampaikan aspirasi politiknya tanpa terjadinya penindasan dan
ancaman. Kerangka keempat berkaitan dengan puncak dan tujuan dari
multikulturalisme yang pantas diperjuangkan dikarenaka dibalik itu ada tujuan
hidup bersama, dengan pemenuhan hak-hak hidup. Hal tersebut dikarenakan dalam
multikulturalisme merupakan penghargaan terhadap perbedaan.
C. Pengaruh
Globalisasi Terhadap Multikulturalisme Masyarakat Dunia
Globalisasi adalah suatu
proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.
Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari pikiran yang dimunculkan,
kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada
suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi patokan bagi bangsa- bangsa di
seluruh dunia.
Sebagai suatu proses, globalisasi berlangsung
melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan
dimensi waktu. Dilihat dari dimensi ruang akan semakin dipersempit dan dari
dimensi waktu semakin dipersingkat dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada
skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan. Teknologi informasi dan
komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,
perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai
bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu
globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh
besar bagi kehidupan suatu negara termasuk negara kita Indonesia. Pengaruh
tersebut dibagi menjadi dua yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.
Pengaruh positif globalisasi terhadap masyarakat
Indonesia.
- Dilihat dari aspek globalisasi politik, pemerintahan
dijalankan secara terbuka dan demokratis, karena pemerintahan adalah
bagian dari suatu negara. Jika pemerintahan dijalankan secara jujur,
bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat.
Tanggapan positif tersebut berupa jati diri terhadap negara menjadi
meningkat dan kepercayaan masyarakat akan mendukung yang dilakukan oleh
pemerintahan.
- Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar
internasional, meningkatkan kesempatan kerja yang banyak dan meningkatkan
devisa suatu negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan
kehidupan ekonomi bangsa yang dapat menunjang kehidupan nasional dan akan
mengurangi kehidupan miskin.
- Dari aspek globalisasi sosial budaya, kita dapat meniru pola
berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin serta Iptek
dari negara lain yang sudah maju untuk meningkatkan kedisplinan bangsa
yang pada akhirnya memajukan bangsa serta akan mempertebal jati diri
kita terhadap bangsa. Serta kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan
tentang budaya suatu bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap masyarakat
Indonesia.
- Aspek politik, Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat
Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran.
Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke
ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya jati diri bangsa
akan luntur dan tidak mungkin lagi bangsa kita akan terpecah belah.
- Aspek Globalisasi ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap
produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (mainan, minuman,
makanan, pakaian, dll) membanjiri Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta
terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya jati diri
bangsa kita. Maka hal ini akan menghilangkan beberapa perusahaan kecil
yang memang khusus memproduksi produk dalam negeri.
- Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan
identitas diri sebagai bangsa Indonesia dimana dilihat dari sopan santun
mereka yang mulai berani kepada orang tua, hidup metal, hidup bebas, dll.
Justru anak muda sekarang sangat mengagungkan gaya barat yang sudah masuk
ke bangsa kita dan semakin banyak yang cenderung meniru budaya barat yang
oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
- Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara
yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi
ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan yang dapat mengganggu
kehidupan nasional bangsa. Serta menambah angka pengangguran dan tingkat
kemiskinan suatu bangsa.
- Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan
ketidakpedulian sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang
tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa. Padahal jati diri bangsa kita
dahulu mengutamakan Gotong Royong, tapi kita sering lihat sekarang
contohnya saja di perumahan / komplek elit, mereka belum tentu mengenal
sesamanya. Dari hal tersebut saja sudah tercermin tidak adanya kepedulian,
karena jika tidak kenal maka tidak sayang.
Dampak di atas akan perlahan-lahan mempengaruhi
kehidupan bangsa Indonesia, Akan tetapi secara keseluruhan aspek dapat
menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau luntur.
Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat Indonesia secara global.
Apa yang ada di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat
kita untuk diterapkan di negara kita. Bila dilaksanakan belum tentu sesuai di
Indonesia. Bila tidak dilaksanakan akan dianggap tidak aspiratif dan dapat
bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional
bahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Pengaruh Globalisasi Terhadap jati diri di
Kalangan Generasi Muda.
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam
masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah
membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa
Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan
sehari- hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja kita
yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Padahal cara
berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan
gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Tidak banyak remaja yang mau
melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan
kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang
memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi
bagi anak muda, internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika
digunakan secara semestinya tentu akan memperoleh manfaat yang berguna. Dan
sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya.
Misal untuk membuka situs-situs porno, bahkan sampai terkena penipuan. Bukan
hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu hand phone, apalagi
sekarang ini mulai muncul hand phone yang berteknologi tinggi. Mereka justru
berlomba-lomba untuk memilikinya, tapi kita lihat alat musik kebudayaan kita
belum tentu mereka mengetahuinya. Hal ini jika kita lihat dari segi sosial,
maka kepedulian terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih
memilih kesibukan dengan menggunakan handphone tersebut.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang
tingkah lakunya tidak tahu sopan santun dan cenderung tidak peduli terhadap
lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga
mereka bertindak sesuka hati mereka. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan,
mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi bangsa menjadi rusak,
timbul tindakan anarkhis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai jati
diri akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri
dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa
depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki jati diri?
Marilah kita Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Indonesia, terima globalisasi dengan rasa kritis dan banyak melakukan hal
positif dalam menggunakan globalisasi yang ada sekarang ini. Sebagai masyarakat
Indonesia mulai dari sekarang kita utamakan produk dalam negeri dan kenali
kebudayaan kita.
0 Response to "pengaruh globalisasi terhadap multikulturalisme"
Post a Comment