SOSIOLOGI PARIWISATA (pengaruh Taman Sari sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) terhadap masyarakat sekitar)
Thursday, 28 November 2013
Add Comment
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tamansari merupakan salah satu
warisan budaya Keraton Kasultanan
Yogyakarta yang masih berdiri kokoh. Tamansari dibangun pada masa
pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono
I tahun 1758. Sampai saat ini Tamansari telah mengalami beberapa kali
renovasi sehingga terlihat lebih indah dengan tidak menghilangkan nilai
historis dan estetika aslinya. Letak Tamansari tidak jauh dari Keraton
Yogyakarta disebelah barat keraton. Di tempat ini kecantikan dan suasana
layaknya kehidupan putri keraton terasa sangat kental. Tamansari
seringkali digunakan sebagai lokasi sesi foto pre-wedding karena memang dianggap mewakili nuansa eksotis
sekaligus romantis dan tidak jarang juga digunakan sebagai setting pemotretan
model – model majalah ternama.
Meski
berada tepat di pusat kota, lokasi Tamansari tersembunyi di tengah perkampungan
padat. Penduduk disekitar komplek Tamansari ini banyak yang menjadi pengrajin
batik dan lukisan yang menjadikan Tamansari lebih menarik untuk dikunjungi. Di
Tamansari ini banyak tersedia para pemandu yang akan memberikan segala
informasi tentang Tamansari serta mengantarkan wisatawan menuju semua bagian
dari kompleks tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
sejarah Taman Sari?
2. Bagaimana
pengaruh Taman Sari sebagai Daerah Tujuan Wisata terhadap masyarakat sekitar?
C.
Tujuan
Tujuan dari pembahasan pada makalah ini adalah:
1. Untuk
memberikan pengetahuan mengenai sejarah Taman Sari hingga sekarang;
2. Memberikan
gambaran mengenai pengaruh Taman Sari sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW)
terhadap masyarakat sekitar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Taman
Sari
Taman
Sari juga dikenal sebagai Istana Air. Taman Sari adalah sebuah taman bekas
kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Terletak sekitar 2 km selatan lingkungan Kraton
Yogyakarta. Dibangun pada pertengahan abad 18 dan masing – masing bangunan memiliki
beberapa fungsi, seperti area istirahat, bengkel, area meditasi, daerah
pertahanan, dan tempat persembunyian. Taman Sari terdiri dari empat bidang yang
berbeda: sebuah danau buatan besar dengan pulau dan paviliun yang terletak di
sebelah barat, sebuah kompleks mandi di tengah, kompleks paviliun dan kolam di
selatan, dan sebuah danau kecil di sebelah timur. Hari ini hanya kompleks
pemandian tengah yang terpelihara dengan baik, sedangkan daerah lain telah
banyak ditempati oleh pemukiman Kampung Taman. Sejak 1995, Kompleks Istana
Yogyakarta termasuk Taman Sari telah terdaftar sebagai sebuah Situs Warisan
Dunia.
Pembangunan
Taman Sari dimulai pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792),
sultan pertama dari Kesultanan Yogyakarta, dan selesai pada saat Sultan
Hamengkubuwono II. Lokasi pembangunan semula dikenal sebagai tempat pemandian
yang disebut Pacethokan, sejak masa pemerintahan Sunan Amangkurat IV
(1719-1726). Bupati Madiun, Raden Rangga Prawirasentika, turut berpartisipasi
dalam pembiayaan pembangunan Taman Sari. Sultan Prawirasentika juga
memohon untuk dibebaskan dari kewajiban pajak Madiun. Dia menawarkan cara-cara
alternatif pembayaran lainnya. Sultan menerima proposalnya. Pada 1758, Sultan
memerintahkan Bupati untuk mengawasi pembuatan batu bata dan berbagai
perlengkapan, yang akan digunakan untuk membangun sebuah taman tersebut. Sultan
menginginkan tempat di mana ia bisa menghabiskan waktu untuk bersantai setelah
bertahun-tahun perang yang baru saja ia alami. Raden Tumenggung Mangundipura,
di bawah pengawasan dari Raden Arya Natakusuma (yang kemudian menjadi Sri
Pakualam II), bertanggung jawab untuk pembangunan. Pembangunan itu dimulai pada
tahun Jawa 1684. Setelah mencari tahu berapa besar kompleks itu, Raden Rangga
Prawirasentika menyadari bahwa biaya tersebut akan menjadi lebih besar dari
pajak. Dia mengundurkan diri dari proyek tersebut dan digantikan oleh Pangeran
Natakusuma yang melanjutkan hingga proyek selesai. Taman Sari dibangun tiga
tahun setelah Perjanjian Giyanti sebagai tempat peristirahatan bagi Sultan
Hamengkubuwono I. Komplek ini terdiri dari sekitar 59 bangunan termasuk
sebuah masjid, ruang meditasi, kolam renang, dan serangkaian 18 taman air dan
paviliun yang dikelilingi danau buatan. Komplek ini secara efektif digunakan
antara 1765-1812. Pembangunan Taman Sari berakhir setelah penyelesaian
gerbang dan tembok. Taman Sari diabaikan dan beberapa bangunan mengalami
kerusakan selama Perang Jawa (Diponegoro) 1825-1830.
Bersebelahan
dengan pasar Ngasem, Tamansari secara administratif berada di kampung Taman,
Kecamatan Kraton. Menurut penelitian, Tamansari pada awal pendirian setidaknya
memiliki 4 bagian utama. Dari empat bagian yang memiliki 58 bangunan pada awal
pendirian, saat ini hanya tersisa 22 bangunan yang masih berdiri dan bisa
dikenali. Kerusakan banyak bangunan dalam kompleks Tamansari disebabkan oleh
berbagai faktor. Penyebab utama adalah faktor usia. Pada tahun 1970-an,
sebagian tembok Tamansari roboh karena sudah terlalu tua. Faktor alam juga
sangat menentukan. Kerusakan paling parah yang dialami Tamansari adalah karena
gempa hebat yang terjadi pada 1867. Daya tarik utama dari kompleks Tamansari
terletak pada Umbul Pasiraman yang disebut juga Umbul Binangun. Umbul Pasiraman
merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri, serta para putri-putri. Ada
dua buah gerbang utama menuju kolam pemandian ini, yaitu gerbang timur dan
barat. Dari kedua gerbang itu terdapat jenjang menurun menuju tiga buah kolam
Umbul Pasiraman yang dihiasi pancuran berbentuk jamur. Kompleks ini dikelilingi
tembok tinggi dan banyak pot bunga.
Bagian
bagian Taman Sari dapat digambarkan seperti berikut:
1. Bagian Pertama
Bagian
pertama merupakan bagian utama Taman Sari. Dahulu, tempat ini merupakan tempat
yang paling eksotis. Bagian ini terdiri dari danau buatan yang disebut "Segaran" (laut buatan)
serta bangunan yang ada di tengahnya, dan bangunan serta taman dan kebun yang
berada di sekitar danau buatan tersebut.
a. Pulo
Kenongo
Di tengah-tengah Segaran terdapat
sebuah pulau buatan, "Pulo
Kenongo", yang ditanami pohon Kenanga. Di atas pulau buatan
tersebut didirikan sebuah gedung berlantai dua, "Gedhong Kenongo". Gedung terbesar di bagian pertama ini
cukup tinggi. Dari anjungan tertingginya orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta.
b. Puro
Cemethi dan Sumur Guling
Di sebelah selatan Pulo Kenongo
terdapat sebuah pulau buatan lagi yang disebut dengan "Pulo Cemethi". Bangunan berlantai dua ini juga disebut
sebagai "Pulo Panembung".
Di tempat inilah konon Sultan bermeditasi. Ada juga yang menyebutnya sebagai
"Sumur Gumantung", sebab di sebelah selatannya terdapat sumur yang
menggantung di atas permukaan tanah. Untuk sampai ke tempat ini konon dengan
adalah melalui terowongan bawah air. Saat ini bangunan ini sedang dalam tahap
renovasi besar - besaran yang bertujuan untuk merestorasi bangunan - bangunan
yang masih ada.Sementara itu di sebelah barat Pulo Kenongo terdapat bangunan
berbentuk lingkaran seperti cincin yang disebut "Sumur Gumuling". Bangunan berlantai 2 ini hanya dapat
dimasuki melalui terowongan bawah air saja. Sumur Gumuling pada masanya juga
difungsikankan sebagai Masjid. Di kedua lantainya ditemukan ceruk di dinding
yang konon digunakan sebagai mihrab, tempat imam memimpin sholat. Di bagian
tengah bangunan yang terbuka, terdapat empat buah jenjang naik dan bertemu di
bagian tengah. Dari pertemuan keempat jenjang tersebut terdapat satu jenjang
lagi yang menuju lantai dua. Di bawah pertemuan empat jenjang tersebut terdapat
kolam kecil yang konon digunakan untuk berwudu.
2. Bagian Kedua
Bagian kedua yang terletak di
sebelah selatan danau buatan segaran merupakan bagian yang relatif paling utuh
dibandingkan dengan bagian lainnya. Bagian yang tetap terpelihara adalah
bangunan sedangkan taman dan kebun di bagian ini tidak tersisa lagi. Sekarang
bagian ini merupakan bagian utama yang banyak dikunjungi wisatawan.
a. Gedhong
Gapura Hageng
Gedhong Gapura Hageng"
merupakan pintu gerbang utama taman raja-raja pada zamannya. Kala itu Taman
Sari menghadap ke arah barat dan memanjang ke arah timur. Gerbang ini terdapat
di bagian paling barat dari situs istana air yang tersisa. Sisi timur dari pintu
utama ini masih dapat disaksikan sementara sisi baratnya tertutup oleh
pemukiman padat. Gerbang yang mempunyai beberapa ruang dan dua jenjang ini
berhiaskan relief burung dan bunga-bungaan yang menunjukkan tahun selesainya
pembangunan Taman Sari kira-kira tahun 1765
Masehi.
b. Gedhong
Lopak – lopak
Di sebelah timur gerbang utama kuno
Taman Sari terdapat halaman bersegi delapan. Dahulu di tengah halaman ini
berdiri sebuah menara berlantai dua yang bernama "Gedhong
Lopak-lopak", atau masyarakat sering menyebutnya dengan gopok-gopok.
c. Umbul
Pasiraman
Umbul Pasiraman atau ada jugan yang
menyebut dengan Umbul Binangun (masyarakat menyebutnya Umbul Winangun)
merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri beliau, serta para
putri-putri beliau. Kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Untuk
sampai ke dalam tempat ini disediakan dua buah gerbang yang berada di satu di
sisi timur dan satunya di sisi barat. Di kompleks Umbul Pasiraman terdapat tiga
buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Di sekeliling
kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam juga terdapat bangunan di sisi
utara dan di tengah sebelah selatan.
Bangunan
di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para
puteri dan istri (selir). Di sebelah selatannya terdapat sebuah kolam yang
disebut dengan nama Umbul Muncar. Sebuah jalan yang mirip dengan dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan
sebuah kolam di selatannya yang disebut dengan Blumbang Kuras. Dan di selatan
Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan
sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk istirahat
Sultan. Menara di bagian tengah kononnya dahulu digunakan Sultan untuk melihat
istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling
mengesankan sultan akan di panggil ke menara. Di selatan bangunan tersebut
terdapat sebuah kolam yang disebut dengan Umbul Binangun, sebuah kolam
pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja. Pada zamannya,
selain Sultan, hanyalah para perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks
ini. Ini di mungkinkan karena semua perempuan (permaisuri, istri /selir dan
para putri sultan) yang masuk ke dalam Taman Sari ini harus lepas baju
(telanjang), sehingga selain perempuan di larang keras oleh sultan untuk masuk
ke Taman Sari.
d. Gedhong
Sekawan
Merupakan tempat peristirahatan
raja dan keluarganya. Disetiap sisi halaman terdapat pintu yang menghubungkan
dengan pemandian.
e. Gedhong
Gapuro Panggung
Di sebelah timur
halaman bersegi delapan tersebut terdapat bangunan yang disebut dengan Gedhong Gapura Panggung. Bangunan ini
memiliki empat buah jenjang, dua di sisi barat dan dua lagi di sisi timur. Dulu
di bangunan ini terdapat empat buah patung ular naga namun sekarang hanya
tersisa dua buah saja. Gedhong Gapura Panggung ini melambangkan tahun
dibangunnya Taman Sari yaitu kira-kira tahun 1758 Masehi. Selain itu di bangunan ini juga terdapat
relief ragam hias seperti di Gedhong Gapura Hageng. Sisi timur bangunan ini
sekarang menjadi pintu masuk situs Taman Sari.
f. Gedhong Temanten
Di tenggara dan
timur laut gerbang Gapuro Panggung terdapat bangunan yang disebut dengan Gedhong Temanten. Bangunan ini dulu
digunakan sebagai tempat penjaga keamanan bertugas dan tempat istirahat. Dahulu
di selatan bangunan ini terdapat sebuah bangunan lagi yang sekarang tidak ada
bekasnya sedangkan di sisi utaranya terdapat kebun yang juga telah berubah
menjadi pemukiman penduduk.
3. Bagian Ketiga
Bagian
ini tidak banyak meninggalkan bekas yang dapat dilihat. Oleh karenanya
deskripsi di bagian ini sebagian besar berasal dari rekonstruksi yang ada.
Dahulu bagian ini meliputi Kompleks Pasarean Dalem Ledok Sari. Pasarean Dalem
Ledok Sari merupakan sisa dari bagian ini yang tetap terjaga. Pasarean Dalem
Ledok Sari konon merupakan tempat peraduan Sultan bersama pemaisurinya. Versi
lain mengatakan sebagai tempat meditasi. Bangunannya berbentuk U. Dan ditengah
bangunan terdapat tempat tidur Sultan yang di bawahnya mengalir aliran air.
4. Bagian Keempat
Bagian terakhir ini merupakan bagian Taman Sari yang
praktis tidak tersisa lagi kecuali bekas jembatan gantung dan sisa dermaga.
Deskripsi di bagian ini hampir seluruhnya merupakan sebuah rekonstruksi dari
sketsa serangan pasukan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1812. Bagian ini terdiri dari sebuah danau buatan
beserta bangunan di tengahnya, taman di sekitar danau buatan, kanal besar yang
menghubungkan danau buatan ini dengan danau buatan di bagian pertama, serta
sebuah kebun. Danau buatan terletak di sebelah tenggara kompleks Magangan
sampai timur laut Siti Hinggil Kidul. Di tengahnya terdapat pulau buatan yang
konon disebut Pulo Kinupeng. Di atas pulau tersebut berdiri sebuah bangunan
yang konon disebut dengan Gedhong Gading. Bangunan yang menjulang tinggi ini
disebut sebagai menara kota.
B.
Pengaruh
Taman Sari Sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata)
Seperti yang sudah kami
singgung dalam pembahasan diatas. Bahwa Taman Sari sangatlah berdekatan dengan pemukiman
masyarakat (bahkan berada ditengah –
tengah masyarakat secara langsung). Dalam struktural fungsional. masyarakat
sebagai sistem sosial, terdiri dar sistem yang interdependent masing-masing
mempunyai fungsi tertentu yang berperan menjaga eksistensi dan berfungsinya
sistem secara keseluruhan. Kalua suatu sistem dapat mempertahan batas-batasnya
maka sistem tersebut akan stabil.
Masing-masing elemen
sosial mempunyai fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi
yang diharapakan, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dirancang,
tidak diharapkan atau tidak disadari. Meskipun banyak mendapatkan kritik, teori
konsensus masih bertahan dan diterapkan dalam berbagai kajian, salah satunya :
sistem teori yang mengatakan bahwa alam, manusia, dan sistem sosial mempunyai
prinsip-prinsip yang sama di dalam melaksanakan
“fungsinya” Serta deferensiasi yang terjadi dalam evolusi.
Sesuai dengan teori
struktural fungsional, masyarakat di daerah Taman Sari dalam penerimaan
pengaruh atas adanya Taman Sari ini tidak terlepas dari peranan pemuka wilayah
(dukuh, RT, RW dll). Pembagian jatah kerja juga demikian. Tidak semua
masyarakat serta – merta mencari pekerjaan dengan memanfaatkan adanya Taman
Sari. Dari observasi yang kami lakukan juga tida semua masyarakat mempunyai
trend untuk berjualan atau berprofesi yang berkaitan dengan Taman Sari. Hanya
beberapa masyarakat saja yang membuka usaha kedai makanan atau minuman, dan
beberapa keluarga seniman memmbuka praktek kerajinan di rumahnya yang itu juga
menjadi salah satu yang dikunjungi wisatawan. Tak sedikit pula wisatawan asing
yang turut singgah untu sekedar melihat karya – karya yang dipamerkan.
Dampak
tempat pariwisata terhadap masyarakat dan daerah tujuan wisata yang banyak
mendapat ulasan diantaranya:
Dampak Sosial Ekonomi
Dampak
pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikaategorikan
menjadi 8 kelompok besar yaitu :
·
dampak terhadap penerimaan devisa.
·
dampak terhadap pendapatan masyarakat.
·
Dampak terhadap kesempatan kerja.
·
Dampak terhadap harga-harga.
·
Dampak terhadap distribusi manfaat atau
keuntungan.
·
Ampak terhadap kepemilikan dan kontrol.
·
Dampak terhadap pembangunan pada
umumnya.
·
Dampak terhadap pendapatan pemerintah.
Menurut Figuerola (dalam Pearce,
1989:218) mengidentifikasi adanya kategori dampak sosial-budaya, yaitu :
a.
Dampak terhadap struktur demografi.
b.
Dampak terhadap bentuk dan tipe mata pencaharian.
c.
Dampak terhadap transformasi nilai.
d.
Dampak terhadap gaya hidup tradisional.
e.
Dampak terhadap pola konsumtif.
f.
Dampak terhadap pembangunan masyarakat yang merupakan
manfaat sosial-budaya pariwisata.
Sementara itu Pizam dan Milman (1984)
juga mengklasifikasikan dampak sosial-budaya pariwisata yaitu :
a.
Dampak terhadap aspek demografis (jumlah penduduk,
umur, perubahan piramida Kependudukan)
b.
Dampak terhadap aspek budaya (tradisi, keagamaan,
bahasa)
c.
Dampak terhadap mata pencaharian (perubahan pekerjaan,
distribusi pekerjaan)
d.
Dampak terhadap transformsi norma (tradisi, moral)
e.
Dampak terhadap modifikasi pola konsumsi
(infrastruktur, komuditas)
f.
Dampak terhadap lingkungan (polusi, kemacetan lalu
lintas).
Dampak yang ada di Taman Sari jika
di sesuaikan dengan pernyataan diatas, terdapat beberapa yang memang terjadi.
Seperti aspek budaya, yang membuat warga sekitar Taman Sari, khususnya
masyarakat Taman rata- rata memiliki kemampuan berbahasa asing (setidaknya
Inggris) agar memudahkan para wisatawan mancanegara tidak hanya mendapatkan
pelayanan dari tour guide, namun juga
dapat berbincang dengan masyarakat sekitar.
Sifat dan
bentukdari dampak sosial-budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pitana (1999)
menyebutkan bahwa faktor-faktor yang ikut menentukan dampak sosial-budaya
sebagai berikut :
a.
Jumlah wisatawan, baik absolut maupun relatif terhadap
jumlah penduduk lokal.
b.
Objek dominan yang menjadi sajian wisata dan keutuhan
wisatawan terkait dengan sajian tersebut.
c.
Sifat-sifat atraksi wisata yang disajikan, apakah
alam, situs arkeologi, budaya kemasyarakatan.
d.
Struktur dan fungsi dari organisasi kepariwisataan di
DTW.
e.
Perbedaan tingkat ekonomi dan perbedaan kebudayaan
antara wisatawan dengan masyarakat lokal.
f.
Perbedaan kebudayaan atau wisatawan dengan masyarakat
lokal.
g.
Tingkat otonomi (baik politik, geografis, dan
sumberdaya) dari DTW.
h.
Laju /kecepatan pertumbuhan pariwisata.
i.
Tingkat perkembangan pariwisata (apakah awal, atau
sudah jenuh)
j.
Tingkat pembangunan ekonomi DTW,
k.
Struktur sosial masyarakat lokal,
l.
Tipe resort yang dikembangkan ,
m.
Peranan pariwisata dalam ekonomi DTW.
Lebih jauh Dougla and Douglas
mengetengahkan bahwa ada hubungan paralel antar tinggi dan makna dampak
sosial-budaya pariwisata dengan variabel-variabel :
a. Besarnya
perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya antara wisatawan dengan masyrakat lokal.
b. Perbandingan
antara jumlah wisatawan dengan masyrakat lokal.
c. Distribusi
dan kenampakan dari pembangunan pariwisata.
d. Laju dan
intensitas perkembangan pariwisata.
e. Tingkat
kepemilikan invesrasi asing dan tenaga kerja asing di DTW.
Selain itu, terdapat pula 17 faktor
yang mempengaruhi dampak sosial-budaya :
a.
Jumlah wisatawan,
b.
Tipe wisatawan,
c.
Tahap perkembangan priwisata,
d.
Perbedaan tingkat perkembangan ekonomi antara negara
asal wisatawan dengan negara penerima,
e.
Perbedaan norma budaya antar negara asal wisatawan
dengan negara penerima,
f.
Ukuran fisik wilayah DTW, yang mempengaruhi kepadatan
wisatawan,
g.
Jumlah penduduk luar daerah (migran) yang melayani
kkebutuhan pariwisata.
h.
Besar kecilnya pemeblian barang-barang properti oleh
wisatawan,
i.
Tingkat penguasaan atau kepemilikan properti dan
fasilitas pariwisata oleh masyarakat lokal,
j.
Perilaku lembaga pemerintah terhadap pariwisata,
k.
Kepercayaan-keprcayaan masyrakat lokal dan kekuatan
dari kepercayaan tersebut,
l.
Keterbukaan terhadap bebagai kekuatan yang
mempengaruhi perubahan teknologi, sosial, dan budaya,
m.
Kebijakan dalam penyebaran wisatawan,
n.
Pemasaran dan citra yang dibentuk lewat pemasaran
terhadap DTW,
o.
Homogenitas masyarakat penerima,
p.
Aksesabilitas DTW,
q.
Kekuatan awal dari tradisi berkesenian, cerita rakyat,
legenda, dan sifat-sifat tradisi tersebut.
Jika
dilihat dari faktor – aktor diatas, Taman Sari sangat memenuhi. Selain berada
didalam kawasan yang sangat diperhitungkan sebagai daerah tujuan wisata, Taman
Sari juga salah satu perhatian besar pemerintah DIY untuk mengembangkan potensi
wisata yang ada di dalam wilayah Yogyakarta. Fasilitas yang tersedia juga
sangat mendukung, hanya saja jalan yang sering digunakan untuk menuju Taman Sari
masih perlu adanya pengaturan. Jalan tersebut cukup sempit, sehingga jika Taman
Sari sedang ramai dikunjungi maka jalan ini akan macet karena banyak kendaraan
yang hendak masuk menuju komplek.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sebagai
Daerah Tujuan Wisata, Taman Sari yang terletak di komplek Kraton Yogyakarta
menjadi perhitungan pemerintah daerah. Pelayanan publik sebagai akses menuju
Taman Sari juga sudah memadahi. Dalam pengaruhnya terhadap masyarakat, Taman
Sari memberikan kontribusi yang cukup besar. Karena dengan dijadikannya Taman
Sari sebagai DTW, banyak warga yang kemudian berprofesi yang ada kaitannya
dengan pengembangan Taman Sari sebagai DTW. Hal ini tentu sangat menunjang
perekonomian warga sekitar. Namun perhatian yang kurang ialah penataan ruang di
sekitar Taman sari yang kadang masih kurang nyaman untuk dilihat. Seperti
adanya jemuran pakaian warga yang terlihat, mengurangi keindahan Taman Sari.
B. Saran
Semoga dalam
penyusunan makalah serupa, penyusun dapat memperoleh bahan yang lebih lengkap
terutama dalam kepustakaan dengan sumber terkait.
DAFTAR
PUSTAKA
Pitana,
I Gede dan Putu Giyatri. 2005. Sosiologi
Pariwisata. Yogyakarta: Andi
Claresta Gianina. 2011. Menguak Eksotsme Taman Sari Jogja. http://komunikan.com/menguak-eksotisme-taman-sari-jogja/ diakses pada tanggal 30 September 2011
0 Response to "SOSIOLOGI PARIWISATA (pengaruh Taman Sari sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) terhadap masyarakat sekitar)"
Post a Comment