join venture 1

teori Emile Durkheim mengenai fakta sosial

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Emile Durkheim I (Fakta Sosial)
            Makalah ini berisikan tentang karir intelektual Emile Durkheim, teori mengenai fakta sosial yang dikemukakan Emile Durkheim, serta implementasi dari teori tersebut.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb
Yogyakarta, 13 September 2013

                                                                  Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG MASALAH
            Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki akal, senantiasa berusaha mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya Pada mulanya, semua pengetahuan manusia yang mencakup segala usaha pemikiran mengenai manusia dan alam sekitarnya termasuk masyarakat menjadi satu dalam filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia, maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. sedang filsafat kejiwaan dan filsafat social berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.
            Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal se-karang. Beberapa ilmuwan yang mengembangkan filsafat sosial diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam kehidupan sosialnya.
            Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi, pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte berpendapat bahwa tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat diamati dan diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang memulai kajian sosial dengan metode ilmiah.
            Sosiologi pada zaman Comte dan Herbert Spencer masih dipengaruhi oleh aliran filsafat dan psikologi. Baru ketika Emile Durkheim untuk pertama kalinya menggunakan metode riset ilmiah dalam mengkaji informasi demografi dari berbagai negara, dan mempelajari hubungan antara angka bunuh diri yang ada di negara-negara itu dengan faktor agama dan status perkawinan, maka sosiologi benar-benar lepas dari pengaruh filsafat.
            Hal itulah yang menjadi latar belakang makalah ini dibuat. Malakah ini akan menggambarkan teori Durkheim mengenai fakta sosial yang menjadikan Sosiologi sebagai disiplin ilmu yang terlepas dari filsafat dan psikologi.
2.      RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana karir intelektual seorang Emile Durkheim?
B.     Apa isi teori dari Emile Durkheim mengenai fakta sosial?
C.     Bagaimana implementasi teori Emile Durkheim mengenai fakta sosial?
3.      TUJUAN
A.    Untuk mengetahui karir intelektual seorang Emile Durkheim
B.     Untuk mengetahui isi teori dari Emile Durkheim mengenai fakta sosial
C.     Untuk mengetahui implementasi teori Emile Durkheim mengenai fakta sosial



BAB II
PEMBAHASAN
1.      KARIR INTELEKTUAL EMILE DURKHEIM
      Sosiolog besar ini dilahirkan di Epinal suatu perkampungan kecil orang Yahudi di Bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas pada tanggal 15 April 1858, ia disebut sosiolog Prancis pertama yang menempuh jenjang ilmu sosioloogi paling akademis. Beliau memperbaiki metode berpikir sosiologis yang tak hanya berdasar pemikiran-pemikiran logika filosofis namun sosiologi menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat di observasi.
      Durkheim mengenal akar-akar sosiologi dari pemikiran filsuf kuno seperti Plato dan Aristoteles, dan filsuf Perancis Montesquieu dan Condorcet, Durkheim memandang filsuf terdahulu belum melangkah jauh sebeab mereka belum mencoba menciptakan disiplin baru
       Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Rusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
      Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
      Minat Durkheim pada sosialisme dijadikan bukti bahwa ia bukan seorang konservatif namun sosialisme yang berbeda dengan minat marx dan pengikutnya. Durhkeim menyebut Marxisme sebagai serangkaian “hipotesis yang dapat diperdebatkan” dan ketinggalan zaman. Bagi Durkheim sosialisme sangat berbeda dengan pada umumnya karena baginya sosialisme tak lain adalah suatu paham dan keadaan yang merepresentasikan sistem tempat dimana prinsip moral yang diungkap oleh sosiologi ilmiah harus diberlakukan.
      Empat buah buku ditulis durkheim untuk mengukuhkan dirinya sebagai sosiolog besar, buku pertama ialah disertasi doktornya dari Unversitas Sorbone berjudul One the Division of Social Labor yang diterbitkan tahun 1893, Buku kedua berjudul The Rules of Sociological Method terbit tahun 1895, buku ketiga berjudul Suicide terbit tahun 1897, dan buku keempat berjudul The Elementary forms of Religious life terbit tahun 1912.
      Pemikiran Durkeim juga berpengaruh pada bidang selain sosiologi seperti antropologi, sejarah, linguistik, dan ironisnya lewat lingkaran ini dia menyerang disiplin yang jadi musuh bebuyutan psikologi.
      Durhkeim wafat pada 15 November 1917. Ia disegani dikalangan intelektual Prancis, namun pemikirannya itu baru berpengaruh signifikan dalam sosiologi di Amerika setelah Talcott Parson menerbitkan buku berjudul The Structure of Social Action.

2.      TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM TENTANG FAKTA SOSIAL
A.    Fakta sosial
                        Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberinya kejelasan serta identitas tersendiri, Durkheim (1895/1982) menyatakan bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atas fakta sosial (lihat Gane, 1988; Gilbert,1994; dan edisi spesial sociological perspectives 1995). Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor.
                        Hal yang penting dalam pemisahan sosiologi dari filsafat adalah ide bahwa fakta sosial dianggap sebagai “sesuatu” (S. Jones, 1996) dan dipelajari secara empiris. Artinya, bahwa fakta sosial mesti dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui observasi dan eksperimen.
                        Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual. (Durkheim, 1895/111982: 13).
                        Hal itu menunjukkan bahwa Durkheim memberikan definisi agar sosiologi terpisah dari ilmu filsafat dan psikologi.
                        Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial tidak bisa direduksi kepada individu, namun mesti di pelajari sebagai realitas mereka. Durkheim menyebut fakta sosial dengan  istilah latin sui generis, yang berarti “unik”. Durkheim menggunakan istilah ini untuk menjelaskan bahwa fakta sosial memiliki karakter unik yang tidak bisa direduksi menjadi sebatas kesadaran individual. Jika fakta sosial dianggap bisa dijelaskan dengan merujuk pada individu, maka sosiologi akan tereduksi menjadi psikologi.
                        Durkheim sendiri memberikan beberapa contoh tentang fakta sosial , termasuk aturan legal, beban moral, dan kesepakatan sosial. Dia juga memasukan bahasa sebagai fakta sosial, dan menjadikannya contoh yang paling mudah dipahami. Pertama karenakan bahasa adalah “sesuatu” yang mesti dipelajari secara empiris. Kedua bahasa adalah sesuatu yang berada di luar individu. Meskipun individu menggunakan bahasa, namun bahasa tidak dapat didefinisikan atau diciptakan oleh individu. Ketiga, bahasa memaksa individu. Bahasa dapat membuat sesuatu itu sulit dikatakan. Terakhir, perubahan dalam bahasa dapat dipelajari dengan fakta sosial lain dan tidak bisa hanya keinginan individu saja.
                        Sebagian sosiologo berpendapat bahwa Durhkeim terlalu mengambil posisi yang ekstrem dalam hal ini. sebab ia terlalu membatasi sosiologi hanya pada fakta sosial saja. Padahal ada banyak cabang-cabang dalam sosiologi.
B.     Fakta Sosial Material dan Nonmaterial
                        Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial material dan non material. Fakta sosial material seperti gaya arsitektur bentuk teknologi, dan hukum dan perundang-undangan, relatif mudah dipahami karena keduanya bisa diamati secara langsung. Lebih penting lagi, fakta sosial material tersebut sering kali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuat yang sama-sama berrada diluar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial nin material.
                        Studi Durkheim yang paling penting dan inti dari sosiologi terletak pada studi fakta sosial nonmaterial. Durkheim mengungkapkan : “tidak semua kesadaran sosial mencapai ... eksternalisasi dan materialisasi” (1897/1951: 315). Apa yang saat ini disebut norma dan nilai, atau budaya oleh sosiolog secara umum (Alexander, 1988c) adalah contoh yang tepat untuk apa yang disebut Durkheim dengan fakta sosial nonmaterial. Durkheim mengakui bahwa fakta sosial nn material memiliki batasan tertentu, ia ada dalam individu. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi secara sempurna, maka interaksi itu akan mematuhi hukumnya sendiri (Durkheim, (1912) 1965: 471). Dalam karya yang sama durkheim menulis: pertama, bahwa “hal-hal yang bersifat sosial hanya bisa teraktualisasi melalui manusia; mereka adalah produk aktivitas manusia” dan kedua Masyarakat bukan hanya semata-mata kumpulan sejumlah individu.masyarakat akan hanya bisa dipahami dengan interaksi bukan individu. Interaksi nonmaterial juga memiliki tingkatan-tingkatan realitasnya sendiri. Inilah yang disebut “realisme relasional” (Alpert, 1939).
                        Durkheim melihat fakta sosial berada di sepanjang kontinum hal-hal yang material. Durkheim menyebut ini dengan fakta morfologis, dan semua itu termasuk hal yang paling penting dalam buku pertamanya, The Division of Labor.
C.     Jenis-jenis Fakta Sosial Nonmaterial 
a.       Moralitas.
           Persperktif durkheim mengenai moralitas: pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada diluar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya pada kesehatan moral kesehatan moral masyarakat modern.
           Dalam pandangan Durkheim, orang selalu terancam kehilangan ikatan moral, dan hal ini dinamakan “patologi”. hal tersebut penting bagi Durkheim karena tanpa itu individu akan diperbudak oleh nafsu yang tidak pernah puas. Seseorang akan didorong oleh nafsu mereka ke dalam kegilaan untuk mencari kepuasan namun setiap kepuasan akan menuntut lebih dan lebih. Jika masyarakat tidak membatasi kita maka kita akan menjadi budak kesenagan yang selalu meminta lebih. Sehingga Durkheim memegang pandangan bahwa individu membutuhkan moralitas dan kontrol dari luar untuk bebas. Pandangan hasrat yang tidak pernah puas ini ada pada setiap manusia adalah inti dari sosiologi Durkheim.
b.      Kesadaran kolektif.  
           Durkheim mencoba mewujudkan perhatiannya pada moralitas dengan berbagai macam cara dan konsep. Usaha awalnya untuk menaangani persoalan ini adalah dengan mengembangkan ide tentang kesadaran kolektif. Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut: seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum. Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular, kendati hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran partikular.
           Dari hal itu jelas bahwa Durkheim berpendapat kesadaran kolektif terdapat dalam kehidupan sebuah masyarakat ketika dia menyebut “keseluruhan” kepercayaan dan sentimen bersama. Hal yang lain bahwa kesadaran kolektif sebagai sesuatu yang terlepas dari dan mampu menciptakan fakta sosial. Hal terakhir dari pendapatnya bahwa kesadaran kolektif baru bisa “terwujud’ melalui kesadaran-kesadaran indivisual.
           Duekheim menggunakan konsep yang sangat terbuka dan tidak tetap untuk menyatakan bahwa masyarakat “primitif” memiliki kesadaran kolektif yang kuat yaitu pengertian, norma, dan kepercayaan bersama lebih daripada masyarakat modern.
c.       Representasi Kolektif
           Kesadaran kolektif tak dapat dipelajari secara langsung karena sesuatu yang luas dan gagasan yang tidak memiliki bentuk yang tetap. Sehingga perlu didekati dengan relasi fakta sosial material. Contoh dari representasi kolektif ialah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semua yang tersebut itu adalah cara-cara dimana masyarakat merefleksikan dirinya.
           Representasi kolektif tidak dapat direduksi kepada individu-individu karena ia muncul dari interaksi sosial dan hanya dapat dipelajari secara langsung karena cenderung berhubungan dengan simbol material seperti isyarat, ikon, dan gambar atau praktek seperti ritual.
Contoh dari representasi ialah mengenai perubahan yang dialami Abraham Lincoln dalam menanggapi fakta-fakta sosial lain. Ia mengalami kejayaan yang memuncak dan ditahun lain ia memperlihatkan kemerosotan martabatnya.
d.      Arus sosial
Sebagian besar fakta sosial yang dirujuk emile Drukheim sering diasosiasikan dengan organisasi sosial. Namun dia menjelaskan bahwa fakta sosial tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas”. Durkheim menyebutnya arus sosial. Dia mencontohkan dengan “luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan”. Fakta-fakta sosial nonmaterial bahkan bisa memengaruhi institusi yang paling kuat sekalipun. Hal ini dicontohkan pada konser rock yang terjadi di Erropa timur. Konser rock merupakan tempat muncul dan berseminya standar buadaya, fashion. Dan gejala perilaku yang lepas kntrol partai. Dengan kata lain kepemimpinan politik takut pada konser rock karena berpotensi menekan perasaa  individu dari alienasi menjadi motivasi keterasingan sebagai fakta sosial.
e.       Pikiran kelompok
           Arus sosial dapat dilihat sebagai serangkaian makna yang disepakati dan dimiliki bersama oleh seluruh anggota kelompok. Karena itu arus sosial tidak bisa dijelaskan berdasarkan suatu pikiran individual. Arus sosial juga tidak bisa dijelaskan secara intersubjektif yaitu berdasarkan interaksi antar individu. Arus sosial hanya akan tampak pada level interaksi bukan individu.
           Kenyataannya ada kesamaan yang kuat antara teori fakta sosial  dari Durkheim dengan teori mutakhir tentang hubungan otak dengan pikiran individu. Keduanya sama-sama menggunakan gagasan bahwa sistem yang kompleks akan terus berubahdan menunjukkan ciri-ciri baru.
Durkheim juga memiliki pemahaman modern tentang fakta sosial nonmaterial yang mengandung norma, nilai, budaya, dan berbagai fenomena psikologis sosial bersama.

3.      IMPLEMENTASI TEORI EMILE DURKHEIM MENGENAI FAKTA SOSIAL
      Emile Durkheim mendefinisikan fakta sosial dalam teorinya ialah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan ekternal; atau bisa dikatakan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaanya terlepas dari manifesti-manifesti individual. Sehingga fakta sosial yang berada dalam masyarakat saat ini yang sesuai dengan definisi Durkheim misalnya seorang yang berkendara tanpa menggunakan helm, SIM, dan STNK apabila diketahui oleh polisi maka akan dikenakan denda atau sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini menandakan bahwa peraturan yang berlaku berada di luar individu, berlaku bagi setiap individu yang berarti universal di wilayah atau negara itu, serta memaksa individu tersebut untuk bertidak yang seharusnya.
      Fakta sosial material dicontohkan Durkheim seperti gaya arsitektur : rumah adat, istana, tempat ibadah , bentuk teknologi: gadget, obat-obatan, satelit, transportasi, hukum perundang-undangan: hukum adat, hukum dagang, hukum pidana perdata.
      Fakta sosial nonmaterial menjadi hal paling penting dalam teori Durkheim. Ia mengungkapkan: “tidak semua kesadaran sosial mencapai... eksternalisasi dan materialisasi”, norma, nilai dan budaya menjadi hal yang tepat atas pernyataan Durkheim. Durkheim mengakui bahwa fakta sosial non material memiliki batasan tertentu, ia ada dalam pikiran individu. Ia meyakini ketika sorang dalam interaksi yang sempurna maka itu akan mematuhi hukum-hukumnya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan bahwa ketika kita berinteraksi dengan seseorang dalam forum diskusi atau dalam perkuliahan dengan dosen maka interkasi yang dilakukan antara kita dengan dosen menggunakan bahasa yang formal dan dengan suasana yang sopan. Berbeda dengan interaksi kita pada saat berdiskusi dengan teman atau seorang yang begitu dekat maka suasana akan lebih relax dengan penuh candaan dan bahasa yang sedikit ‘’nyleneh’’. Hal itu menunjukkan adanya penyesuaian kita pada hukum-hukum yang berlaku dalam sebuah interaksi yang sempurna.
      Jenis fakta nonmaterial yang dikemukakan Durkheim dalam studinya ialah:
a.       Moralitas
Perspektif Durkheim mengenai moralitas ada dua, moralitas   aaadalah fakta sosial dan bisa dipelajari secara empiris memaksa individu dan berada diluar. Benar adanya karena moralitas erat kaitannya dengan struktur sosial, misalnya untuk memahami moralitas UNY kita terlebih dahulu harus menelaah bagaimana UNY terbentuk atau awal mulanya, dimana keberadaan UNY dalam masyarakat, serta tanggung jawabnya atas kebaikan sosial.
b.      Kesadaran Kolektif
Durkheim mendefinisikan Kesadaran kolektif sebagai “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masayakat   aaakan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri,....” hal ini dapat dicontohkan pada masyarakat kita yang memiliki kepercayaan dan perasaan bersama yaitu pernah dijajah oleh Belanda dan mengalami penderitaan. Kita pun menyadari bahwa kita adalah seorang warga indonesia, tak hanya itu dalam ruang yang lebih sempit ada yang menyadari dirinya orang Bali, orang hindu, orang Batak karena berbagai perasaan dan kepercayaan yang sama.
c.       Representasi kolektif
Dalam teorinya mengenai fakta sosial Durkheim menggunakan representasi kolektif secara langsung sebab selalu berhubungan dengan simbol-simbol seperti ikon, gambar, atau praktek ritual. Misalnya dalam masyarakat kita ialah banyak yang beberapa narasumber yang mengatakan bahwa partai demokrat terdapat dua matahari kembar. Namun setelah beberapa kasus menimpa partai ini dua matahari ini diilustrasikan oleh para demonstran sebagai seekor tikus dengan tulisan-tulisan keras. Dua matahari itu ialah Anas urbaningrum dan SBY. Hal ini menunjukkan adanya perubahan representasi masyarakat terhadap mereka.
d.      Arus Sosial
Durkheim menyebut fakta sosial yang satu ini tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Ia mencontohkan dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan yang terbentuk dari kempulan publik. Hal ini dicontohkan dengan kerumunan konser rock di Eropa Timur yang mempercepat kehancuran komunis di sana. Sebab mereka menganggap konser rock merupakan tempat berkembangnya standar budaya, fashion, dan perilaku yang lepas dari kontrol partai.

  

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
            Fakta sosial yang menjadi objek kajian dalam sosiologi yang dikemukakan Durkheim telah menuai keberhasilan yaitu memisahkan sosiologi sebagai ilmu filsafat sosial dan psikologi untuk pertama kalinya. Sehingga ketiga ilmu tersebut memang berbeda. Tak hanya itu ia membuat sosiologi sebagai disiplin ilmu dan merupakan cabang ilmu sosial yang berdiri sendiri.
            Fakta-fakta sosial yang dibedakan jenisnya yaitu fakta sosial nonmaterial dan material masih dapat diimplementasikan sampai sekarang serta masih relevan dan memang dapat dipelajari secara empiris.




DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Ritzer, George, Douglas J Goodman. 2013. Teori Sosiologi. Yogyakarta:          Kreasi Wacana.
http://ambriomimpiku.blogspot.com/2012/01/emile-durkheim.html/ diakses       pada tanggal 13 September 2013
http://www.bangmu2.com/2012/05/sejarah-perkembangan-sosiologi.html/         diakses pada tanggal 13 Agustus 2013

                                                                                                                                        

SOAL SOSIOLOGI KELAS X UNTUK KELAS X S1 SMA N 1 BANTUL (PENGAYAAN)

Berikut ini adalah nilai dari "hasil ulangan harian materi fungsi dan peran Sosiologi" kelas X S 1. untuk melihat hasil p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel