Perjuangan yang Masih Belum Memiliki Arti.
Wednesday, 20 September 2017
Add Comment
Perjuangan yang Masih Belum Memiliki Arti.
Oleh: Nico Fergiyono, S.Pd.
Perjuangan, sebuah kata yang sangat mahal artinya, perjuangan adalah sikap tidak kenal lelah dalam menggapai segala sesuatu yang diinginkan dan diharapkan ditengah banyaknya halangan dan rintangan. Kata-kata ini mungkin yang pantas diungkapkan kepada para generasi muda penerus bangsa yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), mengapa demikian? Disaat banyak anak muda generasi bangsa yang bisa menikmati kemerdekan dalam bentuk kemudahan dalam berbagai akses baik dalam pendidikan, ekonomi, teknologi, dll anak-anak yang berada di daerah terpencil penuh dengan keterbatasan. Berikut adalah sepenggal pengalaman yang akan penulis bagikan selama berada di daerah penugasan (SMA N 6 Kundur, Kec. Belat, Kab. Karimun), agar kita bisa menjadikan pelajaran hidup yang berarti bagi para pembaca.
Rata-rata
kehidupan sosial masyarakat di kecamatan Belat hidup dalam keadaan ekonomi
menengah ke bawah. Hal ini dapat dibuktikan dengan pekerjaan para penduduknya
yang banyak bekerja sebagai nelayan, petani karet atau petani sagu. Bahkan ada
juga yang sampai harus bekerja di negara tetangga Malaysia karna tidak
tersedianya lapangan pekerjaan di desa. Banyak keterbatasan di daerah belat yang
menyebabkan perekonomian masyarakat masih rendah, transportasi yang susah,
sarana prasarana yang belum memadai, sumber daya alam yang terbatas, dan sumber
daya manusia yang belum mampu membuat sebuah inovasi untuk memajukan daerah
membuat perekonomian masih memprihatinkan, terlebih dengan gaya hidup dan pola
hidup masyarakat yang ada menyebabkan keadaan ekonomi masyarakat masih tidak
stabil.
Sarana
transportasi yang ada di sini hanya sepeda motor dan hanya ada beberapa
kendaraan roda empat. Kondisi jalan penghubung antar desa menuju ke sekolah
sangatlah memprihatinkan terlebih disaat musim penghujan tiba, jalan menjadi
becek dan tergenang air, tanah berlumpur, dan susah untuk dilalui kendaraan,
tak jarang banyak siswa yang tak bisa bersekolah karena faktor alam tersebut.
Terlebih bagi siswa siswi yang berada di pulau seberang, jika hujan bisa
dipastikan banyak siswa yang harus menyebrang menggunakan sampan dan perahu
tidak bisa datang.
Banyak
sekali siswa yang harus berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk sampai
disekolah, terbayang bagaimana sulitnya dengan medan yang kalau hujan becek dan
kalau terang berdebu, baju putih menjadi coklat, sepatu putih menjadi tak
terlihat, ditambah dengan keringat yang berkucuran karena perjalanan yang jauh,
terbayang bagaimana tidak nyamanya saat mereka belajar dikelas dengan kondisi
fisik seperti itu. Bukan hanya itu, taukah kalian bahwa masih ada beberapa desa
yang belum teraliri listrik, dan desa lainya hanya dialiri listrik dari sore
jam 17:00 WIB sampai dengan 01:00 WIB (dini hari), selebihnya tidak ada
listrik.
Banyak
pula siswa-siswi yang harus menyebrangi lautan melewati beberapa pulau untuk
sampai disekolah, jika cuaca bersahabat tidaklah terlalu berat, tapi jika hujan
sudah bisa dipastikan mereka akan kehujanan karena sampan yang digunakan tidak
ada pelindung dari panas dan hujan, terlebih jika angina sedang kencang, dan
gelombang kuat, maka nyawa yang akan menjadi taruhan mereka untuk dapat
menuntut ilmu. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan mereka, berat! Kadangkala
kita untuk berjalan kaki kesekolah atau bahkan menggunakan sepeda saja sudah
mengeluh, dan sudah dipastikan untuk anak SMA semuanya menggunakan kendaraan
sepeda motor, atau transportasi umum bahkan mobil pribadi, sedangkan mereka?
Untuk bisa sampai sekolah dengan selamat saja sudah sangat bersyukur, meskipun
terkadang sampai sekolah masih harus dihukum karena telat datang kesekolah.
Bukan
hanya hambatan dari sarana transportasi yang dialami oleh adik-adik kita di
daerah 3T, jika melihat pengalaman yang didapat selama ini khususnya di masyarakat
kecamatan belat yang memiliki tingkat pendidikan secara keseluruhan masih
rendah, menimbulkan permasalahan pentingnya pendidikan bagi kehidupan seseorang
seringkali diabaikan oleh banyak orang tua. Hal ini yang menjadi sebuah
tantangan sekaligus tentunya menjadi hambatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas
pendidikan di daerah tersebut, pernah suatu ketika ada murid yang mendatangi
guru kemudian bercerita bahwa orang tuanya tidak memperbolehkannya untuk sekolah
sehingga orangtuanya tidak membiayai kebutuhan sekolahnya, dia harus membantu
dengan berjualan di kantin dan mencari beasiswa untuk kebutuhan sekolahnya.
Selain
hal tersebut, kurang pedulinya orang tua terhadap pendidikan anaknya terlihat
dengan tidak perdulinya orang tua dengan belajar anaknya dirumah, orang tua
seringkali tidak mementingkan belajar, bahkan menyuruh anaknya untuk membantu
orang tuanya saja, bukan untuk belajar. Apalagi banyak juga orang tua yang
pergi menjadi TKI di luar negeri, sehingga pengawasan kepada anaknya seringkali
diabaikan, banyak siswa yang kurang mendapat perhatian dari keluarganya. Banyak
pula mindset dari siswa yang hanya
ingin sekolah untuk mendapatkan ijazah SMA dan segera mencari pekerjaan atau
menjadi nelayan, itu juga yang menjadi hambatan dalam mereka belajar, karena
sekolah bukan sebagai kebutuhan tapi hanya kebiasaan saja.
Berbagai
hambatan tersebut menjadi kendala tersendiri bagi semua kalangan, baik siswa,
guru, orang tua, dan pemerintah daerah untuk lebih memperdulikan segala
kebutuhannya. Garis besar dari cerita singkat ini adalah, bahwa keterbatasan
yang ada tidak mematahkan semangat mereka dalam bersekolah, hambatan-hambatan
yang ada tidak mengurangi niat mereka untuk datang kesekolah, namun mereka
bersekolah hanya sebagai kebiasaan, bukan karena adanya dorongan untuk belajar
dan mencari ilmu, pola pikir ini yang harusnya dibenarkan dan menjadi PR
bersama bagi semua pihak, cerita ini tidak menggambarkan keseluruhan keadaan
siswa di daerah 3T, namun hanya cerita pengalaman singkat di daerah pengabdian
penulis, jadi tidak bisa dijadikan sebuah kesimpulan umum tentang kondisi
pendidikan di daerah 3T.
0 Response to "Perjuangan yang Masih Belum Memiliki Arti."
Post a Comment